Andalan

Pernyataan Sangkalan

Nama saya Iwan Setiawan, dikenal pula dengan stwn atau esteween. Saat ini saya bekerja sebagai dosen Teknik Elektro Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan sedang menempuh studi lanjut di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Terkait rumor yang disebar ke beberapa media sosial oleh sebuah akun anonim berisi narasi seputar pemilu yang memuat profil saya, maka dalam kiriman ini saya menyatakan bahwa saya tidak terlibat sama sekali dalam tim maupun aktivitas ilegal seputar pemilu seperti yang disebutkan.

Data saya yang tersedia melalui blog ini dan beberapa situs terkait telah disalahgunakan untuk mendukung narasi yang diinginkan oleh akun anonim tersebut.

Iklan

Taipei: Kepulangan Pertama

Setelah 5 bulan di Taipei, saya akhirnya bisa pulang ke kota asal. Transkrip semester Spring 2019 sudah saya cetak melalui mesin “ATM” di Gedung Administrasi untuk arsip pribadi dan laporan ke kampus di Indonesia. Oleh-oleh diusahakan sedemikian rupa bisa terbawa dengan koper kapasitas 25″ [1]. Beberapa minggu sebelum memutuskan pesan tiket, saya terus memantau lewat aplikasi ponsel resmi maskapai, beberapa agen travel, dan situs pembanding seperti Google Flights.

Untuk pesawat kali ini, saya memakai China Airlines yang merupakan maskapai dengan layanan penuh atau full service. Berbeda dengan sebelumnya yang menggunakan maskapai “murah meriah” atau Low-cost Carrier (LCC). Pertimbangannya adalah harga yang lebih bagus dibandingkan dengan LCC [2] jika ada biaya bagasi, pilih kursi, makan, dan yang paling penting adalah durasi penerbangan yang singkat, kurang lebih 5 jam 30 menit, karena tidak ada transit [3]. Siapa tak mau kalau pulang kampung bisa sampai dengan segera.

Saat persiapan naik pesawat, saya bertemu dengan teman satu angkatan dan melihat cukup banyak buruh migran. Proses boarding alhamdulillah lancar, hanya saja saya lupa untuk menyimpan gunting kecil di koper jadi saat pemeriksaan disita oleh petugas. Perjalanan terasa cukup lama, mungkin karena ingin cepat sampai. Ada beberapa insiden dalam perjalanan yang mungkin lain kali akan saya ceritakan insyaallah.

[1] Sempat beli alat pengukur berat koper agar bisa mengira-ngira.
[2] Kalau cuma bawa badan sama tas ransel/jinjing mending pakai LCC.
[3] Total biaya juga kelihatan di depan. Beberapa kali melakukan simulasi :D

Taipei: Persiapan Mata Uang

Salah satu persiapan yang saya lakukan sebelum berangkat ke Taipei adalah menyiapkan mata uang yang dapat digunakan di sana. Di Purwokerto ada tempat penukaran mata uang, tapi ya belum pernah jadi mampir. Di hari-hari terakhir saya akhirnya menukar sebagian Rupiah saya ke Euro yang dimiliki seorang teman [1]. Pemikiran saya, kalau tidak New Taiwan dollar (NTD atau TWD), US dollar (USD), atau Euro yang mungkin laku mudah untuk ditukar di kota tujuan atau transit.

Selain itu saya menyiapkan dua kartu debit yang saya isi secukupnya. Lha iya, duitnya kan memang cukup, alhamdulillah. Untuk jenisnya saya bedakan, VISA/Plus dan Mastercard/Cirrus. Khawatir tidak bisa ambil salah satu, bisa punya cadangan yang lain. Untuk antisipasi saya juga menanyakan secara langsung pada layanan pelanggan bank penerbit kartu dengan pertanyaan “apakah kartu ini bisa dipakai di luar negeri?”. Saya hanya butuh jawaban “iya”. Saat itu saya tak merekam sesi tanya jawabnya. #oposih

Untuk memudahkan dalam pencarian ATM, saya memasang aplikasi resmi dari kedua jenis kartu debit saya di ponsel [2]. Belakangan, tidak terlalu susah mencari ATM untuk menarik uang [3] dari kedua kartu debit saya tersebut di Taipei, alhamdulillah. Saya sempat menukarkan pula uang Euro saya saat dalam keadaan genting, karena saldo dua tabungan sudah tak bisa ditarik. Saya pergi ke Bank of Taiwan terdekat dua kali, karena yang pertama lupa membawa paspor.

[1] Beliau pas baru pulang studi dari Italia. Saya pernah mendaftar juga di kampus beliau.
[2] Versi Android sepertinya sudah tak ada untuk Mastercard/Cirrus. Gunakan versi web.
[3] Ada biaya sebesar 25 ribu rupiah sekali tarik.

Kamera Pengawas di Taipei

Salah satu hal yang bisa diperhatikan di Taipei adalah cukup banyaknya kamera pengawas di berbagai tempat. Kampus saya, NTUST, pun tak luput dari itu. Setelah sekian bulan tinggal di sana, saya jadi agak terbiasa dengan hal tersebut. Jalan ke sini ada yang ngawasi, gerak ke sana ada yang “melototi” :D

Saya tidak tahu apakah dengan adanya kamera pengawas atau surveilan ini menjadikan Taipei menjadi salah satu tempat yang aman di muka bumi? Dari apa yang saya rasakan selama tinggal beberapa waktu di sini, Taipei sepertinya lebih aman daripada Jakarta. Orang cenderung merasa aman meninggalkan sesuatu. Contoh di dalam kampus, orang meninggalkan begitu saja laptop di lab, ruang belajar atau kelas, kemudian kembali lagi setelah ke toilet, kamar, kelas atau yang lain dalam waktu (cukup) lama.

Saya sendiri berusaha tetap melakukan kebiasaan [1] yaitu dengan tetap awas dan melakukan hal-hal seperti membawa selalu barang ke mana-mana dan tidak ditinggal begitu saja kecuali dalam kondisi terkunci atau meminimalkan akses mudah orang yang punya niat khusus. Sebagai cerita [2], seorang teman pernah meletakkan papan luncur alias skateboard di keranjang sepeda, dan qadarullah hilang. Teman yang lain meletakkan makanan di boncengan sepeda kemudian ditinggal belanja, qadarullah raib. Mereka akhirnya berpikir Taipei tidak “100% aman” dari hal yang demikian. Pelajaran bagi saya, “ikatlah untamu sebelum masuk masjid”.

[1] Kebiasaan perlu dilatih di segala tempat dan kondisi.
[2] Lokasi berada di luar kampus NTUST.