Mencoret-coret Kalender

Ada kebiasaan yang masih saya lakukan sampai sekarang yakni mencoret-coret kalender. Memberi tanda silang ketika hari datang, menulis catatan di ruang-ruang kosong, menandai tanggal/bulan, dan lain-lain. Sepertinya aktivitas ini mulai saya gemari ketika mencari sekolah, mungkin 3-4 tahun belakangan. Bisa jadi setelah menikah :D

Tujuan coret-coret ini sebenarnya sederhana, untuk penjejakan atau tracking. Selain itu untuk pengingat [1]. Asyik lho, setiap pagi atau menjelang tidur mengamati kalender dan memberi tanda di sana-sini, minimal memberi tanda silang di hari yang lewat. Awalnya yang saya pakai kalender meja dan dinding. Saya biasanya punya satu di kamar kerja dan ruang keluarga di rumah, juga di bilik saya di kampus. Terkadang saya sinkronkan juga dengan kalender digital saya menggunakan Thunderbird.

Pertanyaannya, apakah dengan aktivitas rutin ini saya bisa mengelola waktu? Tidak juga, tapi paling tidak membantu mengurangi beban kepala untuk mengingat dan menjejaki banyak hal dalam kehidupan ini. Dengan melihat kalender, khususnya dengan rentang 6-12 bulan, saya dapat menyusun perencanaan dan strategi baik ketika di awal maupun saat tak berhasil dan harus mundur dari tenggat. Untuk kehidupan stwn yang lebih baik, barangkali.

Berapa lama aktivitas X tanpa progres? Berapa sisa hari yang belum disilang? Berapa bulatan yang ada penanda tenggat atau acara penting dalam waktu dekat? Tugas atau pekerjaan rumah apa saja yang belum dilakukan?

Demikian contoh beberapa pertanyaan (awal) yang dapat dijawab dengan mencoret-coret kalender.

[1] Orang kadang punya kalender digital tapi sering lupa karena tak kelihatan hehe.

Cerita Akhir Juni 2020

Akhir bulan Juni, menjelang musim panas, suhu di Taipei dalam beberapa waktu ini sudah menyengat. Rentang berada di 30 sampai 36 derajat Celcius, namun untuk rasa bisa sampai 40an. Semester genap secara formal hampir selesai, walau faktanya liburan sudah dimulai minggu ini [1]. Insyaallah kami sekeluarga akan pergi ke Yangmingshan untuk ke sekian kalinya.

Situasi terkait COVID-19 di Taipei alhamdulillah masih terkendali. Sudah ada pelonggaran sejak dua minggu yang lalu. Fasilitas publik mulai dibuka. Masjid Agung Taipei juga telah digunakan untuk salat 5 waktu dan jumat, meski protokol pencegahan tetap dilakukan seperti memeriksa suhu tubuh, mencatatkan diri, dan memakai masker di dalam masjid.

Universitas saya pun tak ketinggalan. Musala telah dibuka. Semua pintu masuk ke kampus tidak ditutup lagi. Tak ada lagi cek suhu dan kartu mahasiswa. Di akhir-akhir kelas pun, khususnya di mata kuliah yang saya ikuti, dosen sudah tak memakai masker dan tak ada lagi presensi daring. Jumlah orang yang menggunakan masker terlihat sudah agak berkurang [2].

Kebiasaan “baru” sepertinya akan tetap melekat dalam beberapa waktu ke depan, seperti (sering atau sadar) memakai masker di ruang tertutup, transportasi umum, mencuci tangan pakai air atau hand sanitizer, berjarak dengan orang lain ketika antre atau berkerumun, dan lain-lain.

[1] Ditambah lagi Kamis dan Jumat ini libur. Listrik di kampus juga siap mati.
[2] Meski budaya memakai masker sebenarnya sudah ada di sini.

Mengikuti Ujian Daring

Beberapa waktu lalu oleh universitas asal saya diminta untuk mengikuti sebuah program, salah satunya membutuhkan sertifikat “tes potensi akademik”. Waktunya hanya dua minggu [1] dan kondisi di Indonesia saat itu, plus sekarang juga, sedang kurang terkendali. Penyelenggara melaksanakan ujian dengan memakai aplikasi panggilan atau konferensi video, tepatnya Zoom. Sempat kagok juga, karena kamera harus nyala terus dan dipantau selama dua jam atau lebih :D

Saat itu yang dibutuhkan dalam ujian adalah komputer dengan sistem operasi Windows dan paket aplikasi ujian bawaan penyelenggara. Saya menduga itu bisa dilakukan di atas GNU/Linux juga, namun supaya tak berpotensi masalah saya mencoba mencari alternatif. Alhamdulillah ada dua alternatif yang dipilih di akhir menjelang ujian, pakai komputer di perpustakaan atau punya teman. Sayangnya, komputer perpus berbahasa Mandarin dan setiap restart kondisi komputer menjadi seperti semula.

Untuk itu saya perlu memastikan saya bisa memasang dukungan Bahasa Inggris, aplikasi ujian berjalan dengan baik, webcam aktif, dan yang terpenting saya bisa mengakses komputer spesifik pada saat yang tepat [2]. Intinya, perlu waktu untuk persiapan ujian daring. Kalau pakai laptop sendiri perlu ganti penyimpan dulu supaya nanti dipasangi Windows, dst. Tempat pun perlu cek dulu di hari sebelumnya karena menggunakan komputer publik. Seragam atasan putih juga perlu disiapkan. Alhamdulillah untuk koneksi Internet kampus lebih stabil dan akhirnya saya bisa menyelesaikan ujian, meskipun hasilnya belakangan kurang memuaskan. Haha.

Kejadian lucu dan sempat mengakhawatirkan terjadi. Peserta perlu menunjukkan kartu identitas di depan kamera kepada pengawas ujian dan saya baru sadar tak membawa KTP. Alhamdulillah, saya bisa menggunakan tanda pengenal lain seperti ARC atau NHI.

[1] Penyelenggara terbatas dan kuota demikian pula. Rebutan dengan ribuan orang.
[2] Ada kebutuhan ujian misal latar belakang peserta diharapkan berupa tembok.