Kemampuan membaca dan menulis adalah salah satu kapasitas yang semestinya ada pada anak, dimulai dari kecil. Bisa jadi diawali dari orang tua sebelum anak lahir. Kalau benar demikian, literasi bisa diturunkan. Melalui apa? Melalui cara pandang terhadap berharganya kemampuan ini, atau minimal ada minat/budaya menumbuhkan kemampuan tersebut secara internal dan (cukup) konsisten. Senang bisa belajar, gembira ketika bisa membaca dan menulis.
Saya jadi ingat ketika ada pertanyaan seorang guru tentang pola yang agak menarik (masyaallah) dari anak saya soal literasi ini. Khususnya bahasa Inggris, sebenarnya anak saya baru mulai belajar, namun anak saya pernah terekspos ke lingkungan yang sebagiannya berbahasa Inggris. Minimal anak pernah melihat dan mendengar lewat buku, video, dan keseharian orang tua yang membaca/berinteraksi dengan bahasa Inggris.
Anak saya, mungkin seperti anak lain saat berusia <5 tahun, suka nonton video di YouTube. Baby Bus, Blippi, Super Wings, Robocar Poli, dan lain-lain. Ada juga Octonauts yang British banget. Kami (terkhusus istri) juga lumayan sering membaca buku di rumah, pinjam buku dari perpus, memburu buku hibah/bekas, membeli buku, dst. Karena kondisi, akses sebagian besarnya berbahasa Inggris. Ada juga aplikasi: Khan Academy Kids dan ANTON.
Setelah dipikir-pikir, buku, video, aplikasi, termasuk orang tua dan teman hanyalah berfungsi sebagai komponen atau “fasilitas”.
Yang berharga adalah ketika kita bisa membuat interaksi antar elemen tersebut menjadi lingkungan yang baik bagi tumbuhnya literasi anak.