Menumbuhkan Literasi Anak

Kemampuan membaca dan menulis adalah salah satu kapasitas yang semestinya ada pada anak, dimulai dari kecil. Bisa jadi diawali dari orang tua sebelum anak lahir. Kalau benar demikian, literasi bisa diturunkan. Melalui apa? Melalui cara pandang terhadap berharganya kemampuan ini, atau minimal ada minat/budaya menumbuhkan kemampuan tersebut secara internal dan (cukup) konsisten. Senang bisa belajar, gembira ketika bisa membaca dan menulis.

Saya jadi ingat ketika ada pertanyaan seorang guru tentang pola yang agak menarik (masyaallah) dari anak saya soal literasi ini. Khususnya bahasa Inggris, sebenarnya anak saya baru mulai belajar, namun anak saya pernah terekspos ke lingkungan yang sebagiannya berbahasa Inggris. Minimal anak pernah melihat dan mendengar lewat buku, video, dan keseharian orang tua yang membaca/berinteraksi dengan bahasa Inggris.

Anak saya, mungkin seperti anak lain saat berusia <5 tahun, suka nonton video di YouTube. Baby Bus, Blippi, Super Wings, Robocar Poli, dan lain-lain. Ada juga Octonauts yang British banget. Kami (terkhusus istri) juga lumayan sering membaca buku di rumah, pinjam buku dari perpus, memburu buku hibah/bekas, membeli buku, dst. Karena kondisi, akses sebagian besarnya berbahasa Inggris. Ada juga aplikasi: Khan Academy Kids dan ANTON.

Setelah dipikir-pikir, buku, video, aplikasi, termasuk orang tua dan teman hanyalah berfungsi sebagai komponen atau “fasilitas”.

Yang berharga adalah ketika kita bisa membuat interaksi antar elemen tersebut menjadi lingkungan yang baik bagi tumbuhnya literasi anak.

Mulai Bersepeda Lagi

Alhamdulillah, akhirnya saya memberanikan diri untuk membeli sepeda lagi dengan dukungan istri. Sudah lama sebenarnya ada keinginan untuk melakukannya setelah kembali dari Taipei, ~tiga tahun yang lalu [1]. Saat itu kami hanya membeli dua sepeda, untuk istri dan anak. Yang satu “sepeda mini“, yang lain BMX. Selama ini pun saya hanya nebeng memakai sepeda milik istri untuk melakukan banyak aktivitas dan mobilitas jarak dekat.

Beberapa waktu ini ada kebutuhan untuk bersepeda, selain untuk berolah raga aerobik juga untuk menghabiskan waktu keluarga di luar rumah. Anak bungsu pun sudah bisa diajak naik sepeda. Sebagai langkah awal, kami beli boncengan belakang yang dipasang di sepeda mini [2]. Saat mencari dan melihat-lihat di toko langganan, saya juga mencoba beberapa sepeda MTB level pemula. Seperti biasa, setelah sekian lama menimbang, dipilihlah Monarch M2.

Saya, kali ini ditemani keluarga, datang kembali ke toko dan mencoba kembali beberapa sepeda khususnya Monarch M2, dan Cascade 2. Sepeda yang disebut terakhir sebenarnya sudah saya coba saat pertama ke toko dan terasa sreg saat dinaiki, tapi karena pertimbangan harga dan kebutuhan, seperti fitur menambah boncengan dan lain-lain jadi condong ke sepeda pertama. Menariknya, keputusan berubah setelah mencoba lagi dua sepeda itu, istri mendukung saya untuk memilih tipe kedua (27.5″) karena tipe pertama (26″) lebih kecil ketika saya naiki.

Akhirnya terbelilah sepeda baru: Cascade 2. Alhamdulillah, semoga berkah!

[1] Kami sudah terbiasa naik sepeda selama kurang lebih tiga tahun. Alhamdulillah.
[2] Sekaligus kami memberikan pengalaman yang mirip seperti kakaknya saat di Taipei.

Taman Bermain di Taipei

Taman-taman kota tersebar di Taipei. Anak-anak jadi mudah untuk cari tempat bermain dan orang tua juga ikut senang ada fasilitas gratis untuk piknik, olah raga, dan bermain bersama. Ukuran dan jenis taman-tamannya pun banyak. Ada yang besar seperti Daan Park, atau kecil seperti Guling Park [1]. Ada yang punya semacam danau dan lingkungan asri, ada pula yang menyediakan permainan seperti taman pasir, variasi perosotan, sampai semisal “flying fox“.

Taman bermain dan belajar dalam ruang (parent-child center) pun banyak di hampir setiap kecamatan serta mudah diakses plus gratis, apalagi saat musim panas (baca: “ngadem”). Program-program belajar/bermain yang dipandu juga tersedia sehingga kami bisa ikut. Walaupun bukan anak lokal, asal terdaftar dan ada kartu identitas seperti ARC, anak dapat akses fasilitas tersebut. Taman bermain ini tidak hanya disediakan pemerintah kota tapi juga didukung oleh komunitas sebagai mitra dan ada sukarelawan.

Jenis permainan dan fasilitas yang ada di taman kota dan pusat bermain pun sangat bervariasi. Dari yang sederhana namun terawat sampai yang bertema untuk taman-taman yang agak besar. Selain itu pada beberapa waktu khusus, ada seting atau tema yang ditambahkan, misal saat musim gugur di taman pinggir kali Zhongzheng selalu ada taman bunga berwarna-warni dan dekorasi-dekorasi yang menarik.

Taipei seolah memperhatikan kesejahteraan anak dan keluarganya. Dari sana terlihat perhatian terhadap perkembangan anak dan fasilitas yang mereka butuhkan.

Ketika anak-anak senang, orang tua pun gembira. Kota akan lebih ceria, sehat, dan harapannya produktif.

Untuk pendatang musafir seperti kami, situasi ini jadi kesempatan untuk ekplorasi kota dan target wisata murah karena hanya butuh tenaga atau biaya transportasi saja.

[1] Langganan kami karena dekat dengan tempat tinggal, ~2 menit jalan kaki.

Design a site like this with WordPress.com
Get started