Berpikir Kasus Terburuk

Saya sering berpikir kasus terburuk yang mungkin terjadi ketika akan melakukan sesuatu, sampai-sampai hal ini pernah saya tanyakan pada seorang dosen psikologi saat pelatihan beberapa tahun silam. Ketika saya dalam sebuah situasi, saya sering berpikir kasus terburuk dari situasi tersebut. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu.

Sebagian orang berpikir cara ini negatif karena pikiran kita negatif terhadap kondisi yang sedang dialami atau rencana yang sedang dibuat. Saya melihatnya tidak demikian. Saya memikirkan kasus terburuk untuk merencanakan mitigasi jika hal itu terjadi. Boleh dikatakan saya visioner :D Berpikir, melakukan kalkulasi, kemudian bersiap jika hal-hal buruk terjadi. *sok2an*

Siap tidak sekadar siap, tapi punya alternatif apa yang akan dilakukan. Seperti komputer atau robot sih, apa mungkin saya seperti itu ya? Bisa jadi :D Belakangan saya baru baca hal ini disebut sebagai teknik inversi [1] yang dipakai oleh sebagian orang. Ternyata saya tidak sendirian :))

[1] Saya mendapatkan pranala artikel ini dari linimasa di Twitter.

Mengumpulkan Kosakata

Salah satu instruktur Speaking saya saat pelatihan di Bandung mendorong para peserta untuk memiliki catatan kosakata untuk semua kata baru. Istilahnya lexical resource. Hal ini digunakan untuk memperkaya kemampuan berbicara dan menulis. Saya mengikuti petuah beliau dan memiliki koleksi kumpulan kosakata dalam Bahasa Inggris di satu bagian buku catatan/binder saya. Setiap ketemu kata baru, saya tulis. Tidak selalu sih, tapi sering. Beberapa kata memiliki contoh kalimatnya.

Kebiasaan ini terbawa sampai sekarang. Saya masih mengumpulkan kosakata baru ketika membaca buku, artikel, atau sumber lain yang berbahasa Inggris. Yang perlu dicatat, saya sebenarnya perlu memakai kata-kata ini sebelum kata-kata tersebut menjadi koleksi saja. Minimal dengan membaca dan mencatat sudah menjadi langkah awal untuk mengingat kembali di masa depan. #alesan

Praktiknya, saya mencatat ketika bertemu dengan kata baru, kemudian mengingatnya kembali saat bertemu lagi dengan kata tersebut. Terkadang ada beberapa kata yang tertulis dua kali karena saya tidak memeriksa dahulu apakah kata yang dituliskan sudah ada atau belum. Yah, alhamdulillah kebiasaan yang sederhana ini masih bisa dilakukan, walau terkadang merepotkan juga haha. Doakan saya tetap istiqomah.

Wawancara Sekolah

Sudah lebih dari satu bulan yang lalu saya menjalani wawancara dengan dua calon pembimbing saya. Terus terang ini adalah kali pertama saya mendapatkan sesi wawancara. Saya bersyukur dapat sampai ke tahap ini dari sekian usaha yang pernah dilakukan. Alhamdulillah. Saya mempersiapkan diri untuk mengenal bagaimana wawancara untuk program doktoral, beruntungnya calon pembimbing pertama saya juga memberikan semacam kisi-kisi apa saja yang akan dibahas.

Wawancara disepakati menggunakan Skype sesuai dengan saran calon pembimbing pertama saya. Kalau dari saya pribadi sih “iya” saja :D Permasalahan teknis muncul, saya memakai Debian rilis testing dan Skype punya isu-isu “menarik” untuk sistem GNU/Linux, ada yang bilang hanya bisa one-on-one video call dengan masing-masing pemanggil dan penerima memakai sistem GNU/Linux, serta isu lainnya. Kalau dari pengalaman saya, webcam Logitech C170 tidak terdeteksi oleh aplikasi Skype padahal untuk aplikasi seperti Cheese dan vokoscreen tidak masalah. Saya berniat mencari tahu lebih dalam, tapi karena waktu yang mendesak saya memilih cara lain.

Akhirnya saya memasang Windows 7 [1] di atas QEMU/KVM kemudian memakai Skype for Windows. Saya harus melakukan konfigurasi sedemikian rupa sehingga sistem yang dijalankan cukup kencang dan perangkat I/O seperti webcam yang tercolok di porta USB terdeteksi dan dapat dipakai. Saya melakukan ujicoba dengan beberapa teman di lokasi dan koneksi Internet yang berbeda. Saya sempat melakukan survei dulu lokasi yang potensial untuk wawancara. Alhamdulillah wawancara dapat dilakukan dengan baik meskipun ada kendala teknis untuk mesin virtual dan keinginan merekam wawancara.

[1] Bawaan ThinkPad X200 yang tidak pernah saya pakai.