Pergi Sekolah: Tiga Alternatif

Akhirnya mendaftar di kampus mana pun kalau tak punya uang untuk membayar kuliah dan biaya hidup ya akan susah. Beasiswa menjadi harapan, walau untuk mendapatkannya pun perlu perjuangan keras. Mendaftar sekian kali belum tentu dapat, apalagi jika kurang memenuhi persyaratan. Kalau tak bosan, bisa daftar setiap periode pembukaan terkhusus jika kita ingin berangkat ke kampus spesifik yang didukung beasiswa. Namun jangan lupa penundaan surat penerimaan mungkin ada batasnya, juga kesediaan para calon pembimbing.

Alternatif lainnya adalah dibalik. Mencari beasiswa, utamanya dari kampus, baru pertimbangkan kampusnya :D Periksa reputasi universitas dan calon pembimbing. Dengan profil akademis yang kurang atau pas-pasan tentu saya harus sadar diri, kalau dapat beasiswa kampus yang mepet [1] sudah perlu disyukuri. Yang penting tetap berusaha.

Ada juga alternatif lain, jalani hidup seperti biasa. Bekerja sepenuh hati, melakukan apapun untuk meningkatkan kualitas pekerjaan, memprioritaskan hasil dalam jangka panjang seperti seorang petani atau tukang kebun. Jika Tuhan mengizinkan, pasti ada jalan dan kesempatan untuk sekolah yang datang tanpa kita sadari. Tetap berjuang dan belajar sebagai hamba yang baik.

[1] Biaya kuliah dan hidup di asrama misalnya.

Iklan

Aktivitas yang Jelas

Dengan semakin banyak dan bervariasi kegiatan yang menuntut perhatian sekarang ini serta meningkatnya banjir informasi di sekitar, membuat manusia perlu cerdas dan jelas dalam melakukan aktivitas. Tidak jelasnya kegiatan atau aktivitas mirip seperti berjalan kaki/berlari di tempat, atau mengembara tak tentu arah. Beraktivitas dan kehabisan tenaga namun tak mengantarkan menuju tujuan mereka.

Yang perlu dilakukan pertama kali ketika akan memulai aktivitas adalah menentukan tujuan. Saya mau membuka komputer, tujuannya apa, apakah sekadar mengisi waktu luang, meramban tanpa arah, atau yang spesifik misal menulis satu tulisan di blog. Beberapa orang menyarankan supaya kita menuliskan terlebih dulu tujuan baru kemudian melakukan aktivitas dengan alat dan bahan yang tersedia untuk meraih tujuan tersebut. Sedapat mungkin spesifik agar terlihat pencapaian.

Terkadang atau sering, alat dan bahan yang seharusnya mendukung malah menjadi pengalih perhatian dari tujuan awal [1]. Bisa saja sih jika kita memang mau membuat alat dan mengumpulkan bahan terlebih dulu untuk dasar aktivitas selanjutnya. Namun yang mesti diperhatikan adalah apakah aktivitas-aktivitas tersebut mendukung pencapaian tujuan dan dalam rentang waktu yang sudah ditentukan?

[1] Mengoprek tak jelas, mengumpulkan dan membaca referensi tak jelas :D

Pertengahan Maret 2018

Bulan Maret 2018 telah berjalan separuh lebih. Saya telah mendapatkan hasil ujian IELTS di akhir minggu kemarin dan alhamdulillah nilainya cukup baik [1], mengingat persiapan yang dilakukan sebenarnya kurang maksimal. Nilai Listening dan Speaking turun dari hasil ujian dua tahun yang lalu, namun nilai Reading naik. Di sisi lain, nilai Writing tetap. Saya bersyukur diberikan nilai yang pas [2].

Pertemuan mengajar di kelas sudah empat kali, tinggal tiga lagi. Waktu memang begitu cepat berlalu. Saatnya menelaah apa yang sudah dibahas baik materi, rencana tugas, dan kaitannya dengan target mata kuliah dalam satu semester. Tidak lupa berkomunikasi dengan teman satu tim mengajar.

Beberapa daftar pekerjaan yang berkaitan dengan sekolah sudah mulai disiapkan lagi. Satu poin di dalamnya sudah bisa dihilangkan yaitu IELTS. Cukup lega karena bisa fokus ke yang lain misal mendaftar beasiswa, menyiapkan berkas, mulai persiapan menulis makalah, meninjau lagi proposal, dan berkomunikasi dengan beberapa pihak. O iya, alhamdulillah pengajuan berkas akademik saya diterima dan kini saya sedang menunggu surat keputusannya.

[1] Dapat dipakai untuk mendaftar universitas dan beasiswa.
[2] Geser sedikit saja, lewat. Alhamdulillah.