Mencari Tempat Kursus Singkat

Seperti yang sudah sempat disinggung di tulisan-tulisan lampau, saya qadarullah harus mengambil ujian IELTS saya yang kedua. Saya berencana mengambilnya dalam waktu dekat di Jogja, walaupun sampai saat ini belum benar-benar mendaftar. Oleh sebab itu, saya mulai mengumpulkan materi-materi kursus dua tahun lalu untuk dipelajari kembali sembari berpikir apa mungkin lebih baik ambil kursus singkat ya?

Pemikiran dilanjutkan dengan aksi meramban di dunia maya dan situs-situs tempat kursus yang potensial. Beberapa di antaranya Cilacs UII, REAL/IONS, LB USD, dan Sire Gadjah Mada. Semuanya berada di Jogja dan hal ini menjadi tantangan untuk saya juga. Saya sempat mencari informasi dan survei beberapa tempat kursus di area Purwokerto tapi kok tak pede ya :D [1]

Pertimbangan saya adalah materi, waktu kursus, jadwal, profil penyelenggara/tutor dan harga. Materi lebih ke penyegaran kembali dan fokus/kustom [2], waktunya perlu segera, jadwalnya akhir pekan karena saya mesti siaga dan aktif di hari kerja [3], profil penyelenggara/tutor bagus [4], dan harganya masuk di akal saya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ikhlas di Akhir

Baru-baru ini saya kembali mengeluh bertanya-tanya mengapa jurusan/program studi saya dan mahasiswa/inya tidak sekeren universitas sebelah yang aktif, maju, dst. Kemudian saya melihat memang program studi universitas sebelah itu juga memiliki akreditasi bagus. Hmm wajar. Saya kembali mawas diri, mungkin dosen khususnya saya yang kurang memotivasi, memberi contoh, bahkan tidak bekerja dengan baik. Wah!

Selain itu, bisa jadi saya melihat dari sisi-sisi negatif jurusan/program studi sendiri. Mungkin saja, dan tentu saja, ada beberapa/banyak hal positif yang hanya dimiliki oleh jurusan/program studi saya termasuk mahasiswa/inya. Saya lebih lanjut teringat dengan satu syarat amal yang diterima yaitu ikhlas. Semestinya saya sebagai manusia fokus ke hal ini saja, karena yang paling penting adalah amalan yang diterima, bukan hasil amalan seperti apa nantinya [1].

Walaupun begitu jika seseorang ikhlas insyaallah apa yang dilakukannya akan berbuah hasil yang baik [2]. Ingat pula bahwa ikhlas sangat susah dilakukan, karena itu terus meneruslah memperbaiki niat dan keikhlasan sampai akhir. Saya tak tahu bisa jadi apa yang telah dilakukan selama ini hilang ketika di akhir perjalanan hidup niat dan keikhlasan rusak oleh banyak faktor [3].

[1] Seperti menebar benih, berusahalah melakukannya dengan baik.
[2] Banyak orang “biasa” menghasilkan banyak hal yang luar biasa.
[3] Saya berlindung kepada Allah atas hal yang demikian itu.

Latihan Presentasi di Surabaya

Hari Jumat minggu kemarin saya berangkat menuju ke timur, tepatnya ke kota Surabaya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah bentuk menepati janji untuk datang ke sebuah konferensi bahasa pemrograman, setelah sebelumnya saya coba-coba buah manggis untuk mengirim abstrak topik yang akan dipresentasikan. Saya satu dari 18 abstrak terpilih, dari hampir 100 abstrak yang dikirim ke panitia [1], untuk berbagi dengan waktu presentasi 30 menit di acara tersebut.

Persiapan dilakukan sebelumnya di antara kepadatan aktivitas akhir tahun, baik komunikasi dengan panitia, menyusun materi, memesan tiket perjalanan bolak-balik, akomodasi, dan juga mempertimbangkan beberapa hal. Saya menganggap presentasi di acara ini sebagai bentuk latihan dan batu loncatan (milestone) studi saya secara informal yang dimulai pada bulan November.

Alhamdulillah semua berjalan lancar walaupun belepotan dalam berbicara dan mungkin sedikit tidak fokus karena belum makan siang haha. Karena terbiasa mengajar di depan kelas, bentuknya juga mirip seperti itu dan waktu begitu cepat berlalu sampai saya tidak dapat menutup sesi presentasi dengan baik dan elegan. O iya, presentasi saya berjudul “Python-Defined Networking” yang intinya berisi tentang Software-Defined Networking dan penggunaan Python di arsitektur jaringan baru tersebut.

[1] Alhamdulillah, sekaligus bertanya-tanya, kok bisa? :D