Arsip Kategori: Edu

Mengikuti Kuliah Daring

Saya tergoda kembali untuk mengikuti kelas-kelas kuliah daring, yang sering dikenal dengan Massive Open Online Course (MOOC). Paling tidak ada 4 situs yang menarik yaitu Coursera, edX, FutureLearn, dan Udacity. Masing-masing menyediakan beragam kelas yang punya gaya dan keunikan tersendiri karena organisasi/universitas yang menyelenggarakan dan pengajar yang mengakomodasi pembelajaran.

Dari keempat situs kuliah daring tersebut, yang ringan, sederhana, dan cepat adalah FutureLearn. Saya menyukai pengalaman mengambil kelas di sana, contoh kelas yang berhasil saya selesaikan adalah How to Succeed at: Interviews yang diselenggarakan oleh the University of Sheffield. Yang kedua, Coursera. Situs ini memiliki variasi kelas dengan antarmuka dan pengalaman yang cukup bagus. Saya pribadi suka dengan Coursera karena situs ini menyediakan kelas-kelas untuk topik yang sedang saya pelajari. Coursera juga tersedia dalam aplikasi bergerak dan memungkinkan pemakai untuk mengunduh materi seperti video.

Yang ketiga adalah edX. Situs ini mirip seperti Coursera dan mesinnya tersedia untuk dipakai siapapun yang ingin menyediakan MOOC. Ada beberapa kelas yang sudah saya ikuti tapi karena waktu dan hal lain akses saya ke edX tidak sesering FutureLearn dan Coursera. Yang keempat adalah Udacity. Situs ini menyediakan kelas-kelas menarik khususnya yang berkaitan dengan topik-topik terkini, teknis, dan dekat dengan perusahaan-perusahaan seperti Google. Saya sendiri kurang begitu suka dengan antarmuka Udacity, contoh fitur pengelolaan kelas yang saya ikuti, memainkan video secara otomatis (autoplay) saat kita masuk kelas, dan kendali pemakai untuk meramban fitur-fitur di situs.

Mencari Sekolah

Sudah kurang lebih 4 tahun ini saya punya keinginan dan berusaha untuk mencari sekolah, alias melanjutkan kuliah. Hanyasanya doa dan usaha belum mendapatkan hasil seperti yang saya inginkan, karena memang keinginan manusia bisa jadi berbeda dengan keinginan yang maha kuasa. Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat selama melakukan usaha, tapi memang kadang saya lupa untuk berdoa [1].

Saya menyadari juga diri ini belum patut untuk menyandang gelar kandidat doktor, tapi dengan doa dan usaha selama ini semoga saya bisa mematutkan diri. Mungkin muncul dari benak para pembaca (sok ada pembacanya) kenapa ingin sekolah lagi? Bukankah tingkat pendidikan sekarang sudah memenuhi syarat minimal menjadi pengajar/peneliti di kampus? Jawabannya adalah yang pertama karena ingin belajar lagi untuk menggali ilmu dan menimba pengalaman sehingga semoga bisa memberikan manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Aamiin.

Yang kedua, ingin keluar dari zona nyaman, karena orang keren tetap menjadi keren ketika berada di ketidakkerenan lingkungan. Sok keren! :D Kondisi sekarang yang masih belum stabil alias “berantakan” menjadikan saya perlu untuk mempertahankannya. Hal ini sejalan dengan nasihat seorang teman kampus ketika berkunjung menengok bayi rilis pertama dari saya dan istri beberapa bulan yang lalu. Beliau mendorong saya untuk segera berangkat sekolah, tidak perlu “beli-beli” dulu, biar sekalian “berantakannya”.

Baca lebih lanjut

Tentang Studi Doktoral

Saya kira studi doktoral adalah sebuah perjalanan panjang, yang dimulai sejak persiapan studi sampai dengan finalisasi ide/pekerjaan dalam bentuk tulisan, dan pada beberapa kasus diperlukan ujian untuk mempertahankan ide/pekerjaan tersebut. Sebagian orang tidak siap dan tidak sadar bahwa ketika mereka berniat untuk melakukan studi doktoral, ternyata mereka sudah memulai studi itu sendiri.

Seperti namanya, studi adalah riset/kajian. Studi doktoral berbeda dengan magister atau sarjana, yang tujuan utamanya adalah melatih mahasiswa untuk menjadi peneliti yang mandiri. Sifat proaktif, melakukan perencanaan dan eksekusi, serta sigap beradaptasi terhadap situasi yang tidak dapat ditebak sangat diperlukan. Lagi-lagi ini sudah dimulai sejak persiapan studi, sadar ataupun tidak.

Setiap orang yang di dalam dirinya telah tersimpan niat yang kuat untuk melakukan studi doktoral semestinya sudah berniat pula untuk melakukan penggemblengan/pengembangan dirinya menjadi lebih baik. Menentukan rencana studi secara detail, siapa yang dapat menjadi pembimbing dalam kurun waktu tersebut, di tempat mana Ia akan melakukan studi, dan seterusnya. Studi doktoral kata orang seperti lari maraton, perlu strategi dan nafas yang panjang.