Semakin Lama Semakin Sedikit

Semakin tua dewasa semakin banyak hal yang perlu dikurangi. Pengurangan aktivitas-aktivitas “sekunder”, pikiran-pikiran “tersier”, dan lainnya yang melenceng dari kebutuhan “primer”. Terkadang kita perlu melakukan hal-hal “sekunder” atau “tersier”, misal karena godaan, namun sebisa mungkin tidak disengaja dan dibiasakan. Terus terang, untuk kebutuhan “primer” saja sudah setengah mati menjaganya tetap dalam jalur.

Semakin lama semakin sedikit waktu. Aktivitas dan pikiran perlu diprogram atau dijadwal. Sinkronisasi mesti dilakukan secara berkala. Waktu 24 jam tidak cukup untuk aktivitas yang banyak. Mari memilah aktivitas yang “primer”, yang sesuai dengan tujuan dan rencana hidup kita. Hari yang begitu cepat berlalu disertai dengan penyesalan menunjukkan tidak lihainya kita dalam mengelola waktu.

Semakin lama semakin sedikit harapan. Satu harapan saja dalam hidup itu sudah cukup. Yang banyak adalah cara (valid) meraih harapan tersebut, dan ini tergantung dari kemampuan, ilmu, dan bakat kita. Semua orang bisa punya harapan yang sama, tetapi menggunakan cara yang berbeda karena potensi masing-masing orang yang berbeda.

Tentang Studi Doktoral

Saya kira studi doktoral adalah sebuah perjalanan panjang, yang dimulai sejak persiapan studi sampai dengan finalisasi ide/pekerjaan dalam bentuk tulisan, dan pada beberapa kasus diperlukan ujian untuk mempertahankan ide/pekerjaan tersebut. Sebagian orang tidak siap dan tidak sadar bahwa ketika mereka berniat untuk melakukan studi doktoral, ternyata mereka sudah memulai studi itu sendiri.

Seperti namanya, studi adalah riset/kajian. Studi doktoral berbeda dengan magister atau sarjana, yang tujuan utamanya adalah melatih mahasiswa untuk menjadi peneliti yang mandiri. Sifat proaktif, melakukan perencanaan dan eksekusi, serta sigap beradaptasi terhadap situasi yang tidak dapat ditebak sangat diperlukan. Lagi-lagi ini sudah dimulai sejak persiapan studi, sadar ataupun tidak.

Setiap orang yang di dalam dirinya telah tersimpan niat yang kuat untuk melakukan studi doktoral semestinya sudah berniat pula untuk melakukan penggemblengan/pengembangan dirinya menjadi lebih baik. Menentukan rencana studi secara detail, siapa yang dapat menjadi pembimbing dalam kurun waktu tersebut, di tempat mana Ia akan melakukan studi, dan seterusnya. Studi doktoral kata orang seperti lari maraton, perlu strategi dan nafas yang panjang.

Kemampuan Membaca dan Menulis

Kemampuan membaca dan menulis diperlukan sepanjang hidup kita, hanyasanya sedikit orang yang mau mengasahnya. Padahal dengan menguasai kemampuan tersebut kita bisa meningkatkan kesempatan untuk menjadi orang yang (lebih) bermanfaat, untuk diri sendiri dan orang lain.

Membaca tidak hanya membaca buku saja. Membaca situasi lingkungan, kondisi seseorang, atau apapun yang bisa dibaca. Menulis pun tidak hanya menulis artikel saja. Menulis dapat berupa menulis kode atau apapun yang bisa dikomunikasikan dengan tulisan. Menulis hanyalah salah satu cara untuk berkomunikasi, selain “menulis” dengan lisan.

Membaca adalah bentuk memasukkan informasi, menulis adalah bentuk mengeluarkan informasi. Ketika kita dapat membuat alur masukan dan keluaran, serta proses di antara keduanya, secara mulus tanpa usaha keras, tinggal kita tingkatkan kualitas informasi yang dihasilkan. Mari melatih diri untuk terus mengasah kemampuan membaca dan menulis.