Matinya ThinkPad X200

Dua hari setelah kiriman terakhir di blog ini, saya mendapatkan kejutan berupa matinya ThinkPad X200. Kejadiannya, kopi tumpah ke meja dan X200 mendapatkan sedikit cipratan. Saya pede dan tidak mematikannya langsung. Dalam beberapa menit barulah mesin mati dan tidak bisa dinyalakan. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Ada dua kemungkinan kenapa X200 mati, pertama karena umur [1] dan kedua karena setetes air kopi yang masuk dari sela-sela samping/depan laptop [2]. Apapun penyebabnya, motherboard X200 mati. Saya membawanya esok paginya ke tempat servis laptop yang biasa menerima ThinkPad [3] setelah mengantar Ibu ke stasiun. Kata Ibu, “Ada-ada saja mau lebaran”. Alhamdulillah.

Saat itu belum libur/cuti bersama dan masih ada dua hari kerja dengan tiga kelas. Saya kemudian langsung terpikir untuk memakai Raspberry Pi 2 (Raspi) yang saat itu di atas lemari dan terhubung ke WiFi AP. Raspi ini digunakan untuk memainkan audio kajian dan alquran yang dapat dikendalikan oleh ponsel serta komputer. Sementara setop dulu ya. Saya pasang lingkungan destop Xfce dan aplikasi Xpdf di Raspbian, yang kemudian saya tenteng ke kelas dengan dilengkapi papan tik/mous nirkabel dan konverter HDMI ke VGA. Tampilan langsung ke proyektor.

[1] Sebelumnya pernah kejadian mesin mati sendiri saat beban tinggi, mungkin kepanasan.
[2] Bisa juga dari atas tapi mestinya tidak karena spill-resistant. *terlalu pede*
[3] Belakangan agak menyesal kenapa tidak ke pusat servis resmi Lenovo. *padahal repot dan jauh*

Iklan

Aktivitas Harian

Hampir setiap hari saya bangun pagi, ya iya lah. Bangun, berusaha ingat untuk berdoa, kemudian ke kamar mandi dan berwudu. Dapur jadi target selanjutnya, mengambil cerek, mengisinya dengan air secukupnya kemudian menjerangnya. Sambil menunggu peluit cerek berbunyi, saya menyiapkan peralatan perang di meja kerja, sekaligus meletakkan camilan berupa kue atau roti yang masih tersedia.

Aktivitas yang saya lakukan dari pagi sebagian besar adalah membaca dan menulis, walau sering kalau buka peramban, bacaannya jadi kemana-mana. Tidak fokus. Biasanya aktivitas ini diselingi dengan mengelola/mereview jadwal di kalendar, menata kamar dan rumah, serta kegiatan umum keluarga. Setelah zuhur saya biasanya baru berangkat ke kampus, karena itu saya sering membuat janji bertemu dengan orang-orang di waktu ini, sekitar pukul 13. Jadwal mengajar dan lainnya kalau bisa di atas pukul 10 :D

Saya suka dengan pola kerja seperti ini. Pagi sampai siang sebagai rentang waktu produktif dan reflektif. Siang sampai sore sebagai rentang waktu untuk berkomunikasi dan kegiatan lanjutan yang umumnya lebih ringan. Terkadang jadwal ngajar yang tidak peduli dengan siklus harian saya. Kalau ada jadwal ngajar pagi, saya kewalahan, karena umumnya saya kehilangan waktu untuk aktivitas yang biasa saya lakukan di pagi hari.

Semangat Tahun 2000-an

Saya ingat saat tahun 2000-an. Saya bersemangat sekali untuk menyerap banyak informasi dan bereksperimen. Setiap waktu ada saja yang dibaca dan dilakukan, di depan komputer. Semua berkaitan dengan komputer dan jaringan. Saat itu saya baru mendapatkan komputer pertama saya dari Bapak. Awalnya untuk mendukung mata kuliah pemrograman, kala itu Pascal.

Energi di rentang waktu tersebut besar, sampai saya tak ingat seberapa tenggelamnya saya dalam aktivitas baca dan ngoprek. Tidak hanya sendiri tapi juga dengan teman dan komunitas. Saya selalu rindu dengan semangat dulu yang begitu bergelora. Banyak momen-momen yang membuat saya sering masuk ke dalam mode superfokus. Seperti fly begitu kali ya :D

Saat ini saya sedang merasakannya lagi. Walau tidak seperti dulu tapi paling tidak semangat dan aktivitas ini muncul kembali. Ada untungnya, ada pula imbasnya. Saya khawatir saya mengabaikan orang khususnya keluarga dan rekan sejawat, juga pekerjaan utama untuk dunia dan akhirat. Keseimbangan sepertinya diperlukan. Mungkin dengan mengeset mode superfokus pada waktu-waktu khusus, seperti malam hari, atau dalam bentuk rentang waktu yang pendek, misal 2 jam, namun berulang.