Arsip Kategori: Life Story

Cerita Sebuah Penghapus

Pada akhir Januari 2016, saya ikut ujian IELTS bersama dengan para peserta pelatihan bahasa Inggris di UPI. Jumlahnya kurang lebih 45 orang. Dengan peserta yang cukup banyak, sepertinya menjadikan IDP Education Bandung (IDP Bandung) mau menyelenggarakan ujian di Balai Bahasa UPI. Tadinya ujian Listening, Reading, dan Writing akan diselenggarakan di UPI dan Speaking di IDP Bandung, ternyata semua ujian dilaksanakan di UPI walau untuk Speaking di hari yang berbeda, agar tidak repot kali ya dan juga meminimalkan masalah seperti mobilisasi massa, transportasi, kemacetan, dan lain-lain.

Beberapa minggu sebelum ujian kami melakukan pendaftaran memakai laboratorium Balai Bahasa UPI dan dipandu oleh staf IDP Bandung. Ngantri bro. Saat itu saya memakai paspor sebagai identitas karena proses pengurusan kartu keluarga dan KTP belum kelar. Untuk urusan biaya, kami serahkan ke Balai Bahasa UPI yang mendapatkan dana dari Dikti. Lumayan juga sih biayanya, kalau tidak salah 205 dolar Amerika.

Singkat cerita tibalah hari yang dinanti, ujian Listening, Reading, dan Writing. Deg-degan karena baru pertama kali. Semua barang tidak boleh masuk ke dalam ruangan kecuali alat tulis dan tanda pengenal/identitas. Ketat, tempat alat tulis pun tidak diperkenankan untuk dibawa. Semua orang harus sudah ke toilet, karena peserta dilarang keluar saat ujian. Semua peserta dipanggil ke ruangan ujian dan sebelumnya kami harus meletakkan jari di sensor sidik jari untuk perekaman.

Baca lebih lanjut

Mencari Sekolah

Sudah kurang lebih 4 tahun ini saya punya keinginan dan berusaha untuk mencari sekolah, alias melanjutkan kuliah. Hanyasanya doa dan usaha belum mendapatkan hasil seperti yang saya inginkan, karena memang keinginan manusia bisa jadi berbeda dengan keinginan yang maha kuasa. Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat selama melakukan usaha, tapi memang kadang saya lupa untuk berdoa [1].

Saya menyadari juga diri ini belum patut untuk menyandang gelar kandidat doktor, tapi dengan doa dan usaha selama ini semoga saya bisa mematutkan diri. Mungkin muncul dari benak para pembaca (sok ada pembacanya) kenapa ingin sekolah lagi? Bukankah tingkat pendidikan sekarang sudah memenuhi syarat minimal menjadi pengajar/peneliti di kampus? Jawabannya adalah yang pertama karena ingin belajar lagi untuk menggali ilmu dan menimba pengalaman sehingga semoga bisa memberikan manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Aamiin.

Yang kedua, ingin keluar dari zona nyaman, karena orang keren tetap menjadi keren ketika berada di ketidakkerenan lingkungan. Sok keren! :D Kondisi sekarang yang masih belum stabil alias “berantakan” menjadikan saya perlu untuk mempertahankannya. Hal ini sejalan dengan nasihat seorang teman kampus ketika berkunjung menengok bayi rilis pertama dari saya dan istri beberapa bulan yang lalu. Beliau mendorong saya untuk segera berangkat sekolah, tidak perlu “beli-beli” dulu, biar sekalian “berantakannya”.

Baca lebih lanjut

Tentang Studi Doktoral

Saya kira studi doktoral adalah sebuah perjalanan panjang, yang dimulai sejak persiapan studi sampai dengan finalisasi ide/pekerjaan dalam bentuk tulisan, dan pada beberapa kasus diperlukan ujian untuk mempertahankan ide/pekerjaan tersebut. Sebagian orang tidak siap dan tidak sadar bahwa ketika mereka berniat untuk melakukan studi doktoral, ternyata mereka sudah memulai studi itu sendiri.

Seperti namanya, studi adalah riset/kajian. Studi doktoral berbeda dengan magister atau sarjana, yang tujuan utamanya adalah melatih mahasiswa untuk menjadi peneliti yang mandiri. Sifat proaktif, melakukan perencanaan dan eksekusi, serta sigap beradaptasi terhadap situasi yang tidak dapat ditebak sangat diperlukan. Lagi-lagi ini sudah dimulai sejak persiapan studi, sadar ataupun tidak.

Setiap orang yang di dalam dirinya telah tersimpan niat yang kuat untuk melakukan studi doktoral semestinya sudah berniat pula untuk melakukan penggemblengan/pengembangan dirinya menjadi lebih baik. Menentukan rencana studi secara detail, siapa yang dapat menjadi pembimbing dalam kurun waktu tersebut, di tempat mana Ia akan melakukan studi, dan seterusnya. Studi doktoral kata orang seperti lari maraton, perlu strategi dan nafas yang panjang.