Arsip Kategori: Life Story

Wawancara Sekolah

Sudah lebih dari satu bulan yang lalu saya menjalani wawancara dengan dua calon pembimbing saya. Terus terang ini adalah kali pertama saya mendapatkan sesi wawancara. Saya bersyukur dapat sampai ke tahap ini dari sekian usaha yang pernah dilakukan. Alhamdulillah. Saya mempersiapkan diri untuk mengenal bagaimana wawancara untuk program doktoral, beruntungnya calon pembimbing pertama saya juga memberikan semacam kisi-kisi apa saja yang akan dibahas.

Wawancara disepakati menggunakan Skype sesuai dengan saran calon pembimbing pertama saya. Kalau dari saya pribadi sih “iya” saja :D Permasalahan teknis muncul, saya memakai Debian rilis testing dan Skype punya isu-isu “menarik” untuk sistem GNU/Linux, ada yang bilang hanya bisa one-on-one video call dengan masing-masing pemanggil dan penerima memakai sistem GNU/Linux, serta isu lainnya. Kalau dari pengalaman saya, webcam Logitech C170 tidak terdeteksi oleh aplikasi Skype padahal untuk aplikasi seperti Cheese dan vokoscreen tidak masalah. Saya berniat mencari tahu lebih dalam, tapi karena waktu yang mendesak saya memilih cara lain.

Akhirnya saya memasang Windows 7 [1] di atas QEMU/KVM kemudian memakai Skype for Windows. Saya harus melakukan konfigurasi sedemikian rupa sehingga sistem yang dijalankan cukup kencang dan perangkat I/O seperti webcam yang tercolok di porta USB terdeteksi dan dapat dipakai. Saya melakukan ujicoba dengan beberapa teman di lokasi dan koneksi Internet yang berbeda. Saya sempat melakukan survei dulu lokasi yang potensial untuk wawancara. Alhamdulillah wawancara dapat dilakukan dengan baik meskipun ada kendala teknis untuk mesin virtual dan keinginan merekam wawancara.

[1] Bawaan ThinkPad X200 yang tidak pernah saya pakai.

Cerita Sebuah Penghapus

Pada akhir Januari 2016, saya ikut ujian IELTS bersama dengan para peserta pelatihan bahasa Inggris di UPI. Jumlahnya kurang lebih 45 orang. Dengan peserta yang cukup banyak, sepertinya menjadikan IDP Education Bandung (IDP Bandung) mau menyelenggarakan ujian di Balai Bahasa UPI. Tadinya ujian Listening, Reading, dan Writing akan diselenggarakan di UPI dan Speaking di IDP Bandung, ternyata semua ujian dilaksanakan di UPI walau untuk Speaking di hari yang berbeda, agar tidak repot kali ya dan juga meminimalkan masalah seperti mobilisasi massa, transportasi, kemacetan, dan lain-lain.

Beberapa minggu sebelum ujian kami melakukan pendaftaran memakai laboratorium Balai Bahasa UPI dan dipandu oleh staf IDP Bandung. Ngantri bro. Saat itu saya memakai paspor sebagai identitas karena proses pengurusan kartu keluarga dan KTP belum kelar. Untuk urusan biaya, kami serahkan ke Balai Bahasa UPI yang mendapatkan dana dari Dikti. Lumayan juga sih biayanya, kalau tidak salah 205 dolar Amerika.

Singkat cerita tibalah hari yang dinanti, ujian Listening, Reading, dan Writing. Deg-degan karena baru pertama kali. Semua barang tidak boleh masuk ke dalam ruangan kecuali alat tulis dan tanda pengenal/identitas. Ketat, tempat alat tulis pun tidak diperkenankan untuk dibawa. Semua orang harus sudah ke toilet, karena peserta dilarang keluar saat ujian. Semua peserta dipanggil ke ruangan ujian dan sebelumnya kami harus meletakkan jari di sensor sidik jari untuk perekaman.

Baca lebih lanjut

Mencari Sekolah

Sudah kurang lebih 4 tahun ini saya punya keinginan dan berusaha untuk mencari sekolah, alias melanjutkan kuliah. Hanyasanya doa dan usaha belum mendapatkan hasil seperti yang saya inginkan, karena memang keinginan manusia bisa jadi berbeda dengan keinginan yang maha kuasa. Banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat selama melakukan usaha, tapi memang kadang saya lupa untuk berdoa [1].

Saya menyadari juga diri ini belum patut untuk menyandang gelar kandidat doktor, tapi dengan doa dan usaha selama ini semoga saya bisa mematutkan diri. Mungkin muncul dari benak para pembaca (sok ada pembacanya) kenapa ingin sekolah lagi? Bukankah tingkat pendidikan sekarang sudah memenuhi syarat minimal menjadi pengajar/peneliti di kampus? Jawabannya adalah yang pertama karena ingin belajar lagi untuk menggali ilmu dan menimba pengalaman sehingga semoga bisa memberikan manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Aamiin.

Yang kedua, ingin keluar dari zona nyaman, karena orang keren tetap menjadi keren ketika berada di ketidakkerenan lingkungan. Sok keren! :D Kondisi sekarang yang masih belum stabil alias “berantakan” menjadikan saya perlu untuk mempertahankannya. Hal ini sejalan dengan nasihat seorang teman kampus ketika berkunjung menengok bayi rilis pertama dari saya dan istri beberapa bulan yang lalu. Beliau mendorong saya untuk segera berangkat sekolah, tidak perlu “beli-beli” dulu, biar sekalian “berantakannya”.

Baca lebih lanjut