Mencari Tempat Kursus Singkat

Seperti yang sudah sempat disinggung di tulisan-tulisan lampau, saya qadarullah harus mengambil ujian IELTS saya yang kedua. Saya berencana mengambilnya dalam waktu dekat di Jogja, walaupun sampai saat ini belum benar-benar mendaftar. Oleh sebab itu, saya mulai mengumpulkan materi-materi kursus dua tahun lalu untuk dipelajari kembali sembari berpikir apa mungkin lebih baik ambil kursus singkat ya?

Pemikiran dilanjutkan dengan aksi meramban di dunia maya dan situs-situs tempat kursus yang potensial. Beberapa di antaranya Cilacs UII, REAL/IONS, LB USD, dan Sire Gadjah Mada. Semuanya berada di Jogja dan hal ini menjadi tantangan untuk saya juga. Saya sempat mencari informasi dan survei beberapa tempat kursus di area Purwokerto tapi kok tak pede ya :D [1]

Pertimbangan saya adalah materi, waktu kursus, jadwal, profil penyelenggara/tutor dan harga. Materi lebih ke penyegaran kembali dan fokus/kustom [2], waktunya perlu segera, jadwalnya akhir pekan karena saya mesti siaga dan aktif di hari kerja [3], profil penyelenggara/tutor bagus [4], dan harganya masuk di akal saya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kenalan dan Sambal “Bu Rudy”

Pada bulan Desember tahun lalu saat saya berlatih presentasi di Surabaya, saya duduk dengan beberapa orang memutari sebuah meja bundar. Sesinya adalah makan malam. Tiga dari tujuh teman satu meja saya adalah orang luar Indonesia. Terus terang saya cenderung diam, ini juga saya lakukan pada dua acara yang lalu di kampus. Haha. Walau begitu selalu ada pelajaran yang dapat saya ambil dalam hal berkenalan dan berkomunikasi khususnya dengan orang asing.

Salah satu topik yang bisa dimunculkan dalam pembicaraan adalah dengan bertanya tentang organisasi atau perusahaan tempat orang yang ditanya. Dari sini akan muncul bidang yang digarap, asal muasal nama organisasi, sampai cerita internal perusahaan misal CEO yang unik. Topik yang lain bisa saja dimulai dengan tempat atau makanan yang khas, kemudian munculkan nama, dibarengi dengan deskripsi dan gambar yang dapat diperlihatkan. Contoh saja.

Teman sebelah kiri saya bukan orang asing, Ia tinggal di Surabaya. Saya sempat malu karena salah menebak siapa orang tersebut. Sok tahu. Dari sana muncul cerita tentang studinya, pekerjaan sebelumnya di Jakarta, kepindahannya ke Surabaya, selisih gaji, proyek sampingan, dan lain-lain. Oleh-oleh menjadi salah satu pertanyaan saya dan Sambal “Bu Rudy” merupakan satu dari jawabannya.

Baca lebih lanjut

Ikhlas di Akhir

Baru-baru ini saya kembali mengeluh bertanya-tanya mengapa jurusan/program studi saya dan mahasiswa/inya tidak sekeren universitas sebelah yang aktif, maju, dst. Kemudian saya melihat memang program studi universitas sebelah itu juga memiliki akreditasi bagus. Hmm wajar. Saya kembali mawas diri, mungkin dosen khususnya saya yang kurang memotivasi, memberi contoh, bahkan tidak bekerja dengan baik. Wah!

Selain itu, bisa jadi saya melihat dari sisi-sisi negatif jurusan/program studi sendiri. Mungkin saja, dan tentu saja, ada beberapa/banyak hal positif yang hanya dimiliki oleh jurusan/program studi saya termasuk mahasiswa/inya. Saya lebih lanjut teringat dengan satu syarat amal yang diterima yaitu ikhlas. Semestinya saya sebagai manusia fokus ke hal ini saja, karena yang paling penting adalah amalan yang diterima, bukan hasil amalan seperti apa nantinya [1].

Walaupun begitu jika seseorang ikhlas insyaallah apa yang dilakukannya akan berbuah hasil yang baik [2]. Ingat pula bahwa ikhlas sangat susah dilakukan, karena itu terus meneruslah memperbaiki niat dan keikhlasan sampai akhir. Saya tak tahu bisa jadi apa yang telah dilakukan selama ini hilang ketika di akhir perjalanan hidup niat dan keikhlasan rusak oleh banyak faktor [3].

[1] Seperti menebar benih, berusahalah melakukannya dengan baik.
[2] Banyak orang “biasa” menghasilkan banyak hal yang luar biasa.
[3] Saya berlindung kepada Allah atas hal yang demikian itu.