Arsip Kategori: Lifehacks

Lifehacks

Aktivitas Harian

Hampir setiap hari saya bangun pagi, ya iya lah. Bangun, berusaha ingat untuk berdoa, kemudian ke kamar mandi dan berwudu. Dapur jadi target selanjutnya, mengambil cerek, mengisinya dengan air secukupnya kemudian menjerangnya. Sambil menunggu peluit cerek berbunyi, saya menyiapkan peralatan perang di meja kerja, sekaligus meletakkan camilan berupa kue atau roti yang masih tersedia.

Aktivitas yang saya lakukan dari pagi sebagian besar adalah membaca dan menulis, walau sering kalau buka peramban, bacaannya jadi kemana-mana. Tidak fokus. Biasanya aktivitas ini diselingi dengan mengelola/mereview jadwal di kalendar, menata kamar dan rumah, serta kegiatan umum keluarga. Setelah zuhur saya biasanya baru berangkat ke kampus, karena itu saya sering membuat janji bertemu dengan orang-orang di waktu ini, sekitar pukul 13. Jadwal mengajar dan lainnya kalau bisa di atas pukul 10 :D

Saya suka dengan pola kerja seperti ini. Pagi sampai siang sebagai rentang waktu produktif dan reflektif. Siang sampai sore sebagai rentang waktu untuk berkomunikasi dan kegiatan lanjutan yang umumnya lebih ringan. Terkadang jadwal ngajar yang tidak peduli dengan siklus harian saya. Kalau ada jadwal ngajar pagi, saya kewalahan, karena umumnya saya kehilangan waktu untuk aktivitas yang biasa saya lakukan di pagi hari.

Iklan

Semangat Tahun 2000-an

Saya ingat saat tahun 2000-an. Saya bersemangat sekali untuk menyerap banyak informasi dan bereksperimen. Setiap waktu ada saja yang dibaca dan dilakukan, di depan komputer. Semua berkaitan dengan komputer dan jaringan. Saat itu saya baru mendapatkan komputer pertama saya dari Bapak. Awalnya untuk mendukung mata kuliah pemrograman, kala itu Pascal.

Energi di rentang waktu tersebut besar, sampai saya tak ingat seberapa tenggelamnya saya dalam aktivitas baca dan ngoprek. Tidak hanya sendiri tapi juga dengan teman dan komunitas. Saya selalu rindu dengan semangat dulu yang begitu bergelora. Banyak momen-momen yang membuat saya sering masuk ke dalam mode superfokus. Seperti fly begitu kali ya :D

Saat ini saya sedang merasakannya lagi. Walau tidak seperti dulu tapi paling tidak semangat dan aktivitas ini muncul kembali. Ada untungnya, ada pula imbasnya. Saya khawatir saya mengabaikan orang khususnya keluarga dan rekan sejawat, juga pekerjaan utama untuk dunia dan akhirat. Keseimbangan sepertinya diperlukan. Mungkin dengan mengeset mode superfokus pada waktu-waktu khusus, seperti malam hari, atau dalam bentuk rentang waktu yang pendek, misal 2 jam, namun berulang.

Gundul Satu Sentimeter

Seingat saya, saya sudah empat kali potong rambut pendek hampir gundul. Hanya tersisa rambut ~1 sentimeter. Istilahnya apa ya? Bros? Pertama kali saya melakukannya saat orientasi kuliah. Kedua kalinya ~12 tahun yang lalu, kalau tidak salah saya merasa kurang pas dengan potongan tukang cukur. Ketiga kalinya ~2 bulan yang lalu dengan kasus yang sama seperti sebelumnya. Keempat kalinya beberapa hari yang lalu.

Sepertinya saya akan memotong rambut dengan model ini dalam beberapa waktu ke depan. Lebih praktis. Minim pemeliharaan. Tidak khawatir salah potong rambut oleh oknum tukang cukur atau karena saya salah mengarahkan. Intinya, mengurangi “biaya operasional harian” dan melepaskan ketergantungan pada rambut. #oposih

Dengan cara ini saya lebih konsen dengan perkara lain selain rambut. Tukang cukur lebih gampang nyukur, saya lebih santai saat dan setelah dicukur :D Sebenarnya sih masalah ada di saya. Saya mungkin termasuk jenis manusia yang “berkebutuhan khusus” dalam hal cukur rambut [1]. Akhirnya, persoalan potong rambut dapat diselesaikan dengan cara sederhana dan membahagiakan semua orang. Cara yang mestinya manusia lakukan untuk membuat dirinya lebih efisien :))

[1] Butuh tukang cukur yang memahami pelanggan.