Menjual ThinkPad X200

Akhirnya saya memutuskan untuk move on dari ThinkPad X200 [1] ~3 bulan yang lalu. Walaupun sudah move on, baru Jumat kemarin saya benar-benar melepas kepergian mesin tersebut dengan menjualnya ke toko P yang sebelumnya telah melakukan servis dan tak berhasil.

Saat saya mengambil X200 dari tempat servis setelah toko P menyatakan belum bisa memperbaiki, saya mencari motherboard di pasar-pasar daring semacam Tokopedia dan juga toko-toko lokal yang menjual ThinkPad. Survei kecil saya mengatakan bahwa kisaran harga motherboard ThinkPad bekas sekitar 600 ribu rupiah, hal ini sesuai dengan pernyataan harga sebuah toko lokal yang memiliki ThinkPad X201 dan menyatakan mau mencoba mengganti motherboard mati pada X200 saya [2].

Waktu berlalu dan saya punya keinginan untuk menjualnya per komponen saja, misal memori, diska, baterai. Saat akan mencoba menjual memori 2GB ke toko P, saya ditanya mengenai keberadaan X200 dan ditawari bagaimana kalau dijual saja gelondongan. Waktu itu diberi tawaran <500 ribu rupiah. Setelah sekian lama akhirnya saya tekadkan hati menyiapkan X200 kemudian dibawa ke toko tersebut dan menerima tawaran 450 ribu rupiah [3].

[1] Saya pindah ke ThinkPad X250.
[2] Saat itu saya masih pikir-pikir.
[2] Setelah melewati proses tawar-menawar yang cukup.

Iklan

Idulfitri 1436 Hijriah

Idulfitri 1436 Hijriah dilewati dengan gembira. Alhamdulillah. Tahun ini saya melewatkannya di tempat kelahiran istri. Kurang lebih dua hari sebelum Idulfitri, kami sudah sampai. Aktivitas setelah itu dilakukan seperti biasa, hanyasanya saya lebih banyak dan berusaha untuk berinteraksi dengan keluarga dan tetangga, serta mengenal lingkungan sekitar.

Pagi dilewati dengan duduk di depan rumah, kemudian pergi ke sawah untuk melihat hijaunya padi yang belum menguning juga burung-burung putih di sana. Saya melakukannya dengan istri dan anak. Sekali waktu kami agak sore pergi mengantar titipan orang rumah ke beberapa saudara. Satu di antaranya tidak ada di rumah, sehingga kami pergi menuju masjid di sebuah perusahaan BUMN untuk menemui beliau.

Pembicaraan ringan seperti biasa, namun muncul pertanyaan tentang rencana saya untuk sekolah. Ternyata berita telah tersebar minimal di keluarga dekat. Saya agak malu karena merasa belum pasti berangkat. Alasan orang tua disebutkan untuk mendapatkan dukungan doa dari semua. Sempat ada pertanyaan, “Kenapa tidak di sini saja?”. Saya dikira pergi untuk bekerja, dan saya coba jelaskan bahwa saya insyaallah pergi sekolah, dan bidang serta pembimbingnya ada di universitas di kota itu.

Baca lebih lanjut

Lebaran Tanpa Laptop

Setelah kejadian matinya ThinkPad X200 dan selesai hari kerja sebelum lebaran, semakin kuat rasa kehilangan ini (lebai). Ada dua aktivitas yang akhirnya tidak saya lakukan karena tidak ada laptop, pertama mengirimkan email ke calon-calon pembimbing serta menulis dan mengirimkan revisi makalah. Hal ini memang terlihat sebagai alasan yang kuat untuk santai. Santai tapi menderita :D

Akhirnya momen sebelum, saat, dan setelah lebaran berlalu tanpa laptop. Galau, namun saya punya banyak waktu untuk santai dan berinteraksi dengan keluarga. Mungkin Allah memang meminta saya untuk memanfaatkan lebaran kali ini untuk belajar meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga. Di sisi lain, saya jadi sering mainan ponsel untuk baca-baca saja, karena mode menulis lebih nyaman dilakukan dengan laptop.

Dengan ponsel pula saya akhirnya memasang aplikasi jual beli seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Kaskus FJB. Di sela-sela momen lebaran, saya mulai mencari laptop pengganti karena saya menduga X200 akan lama di tempat servis dan tak tahu akan kembali atau tidak. Kriteria yang saya cari adalah seperti X200 atau lebih baik, masih bagus, harganya cocok, kalau bisa masih garansi resmi setahun. Setelah saya baca kiriman tentang saat saya mencari pengganti X60T, ternyata waktunya mirip yakni di rentang waktu lebaran.