Mencari Switch OpenFlow Murah

Sudah cukup lama saya memendam keinginan untuk mencoba bereksperimen dengan switch SDN/OpenFlow fisik, tapi tak kunjung terealisasi. Beberapa waktu yang lalu saya sudah akan membeli TL-WR1043ND [1] yang berharga murah [2] untuk dijadikan switch OpenFlow dengan OpenWrt plus modul OpenFlow 1.3 (software switch). Alhamdulillah usaha cukup [3] yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan perangkat tersebut sirna karena ternyata model tersebut jarang sekali dan ada yang mengatakan sudah tak diproduksi lagi.

Beberapa waktu yang lalu jadi terpikir untuk mengganti firmware bawaan salah satu poin akses nirkabel di rumah yaitu TL-WR743ND v2 dengan OpenWrt dan mencoba untuk memasang modul Open vSwitch. Belakangan juga saya baru mengetahui paling tidak ada dua pilihan untuk membangun switch OpenFlow. Pilihan yang pertama kodenya [4] berbasis TrafficLab dengan OpenFlow 1.1 dan proyek ini merujuk ke implementasi software switch OpenFlow orisinal Stanford 1.0.0.

Pilihan kedua menggunakan implementasi software switch bernama Open vSwitch yang memiliki dukungan protokol OpenFlow. Open vSwitch ini merupakan multi layer virtual switch yang memiliki banyak fitur, didesain untuk otomasi jaringan masif dan dukungan untuk komunikasi antar mesin virtual. Software switch ini termasuk stabil karena digunakan di lingkungan produksi baik besar ataupun sangat besar, dan dapat dioperasikan dalam hypervisor maupun control stack di atas perangkat keras (switching silicon). Artinya Open vSwitch ini bisa dimainkan murni perangkat lunak ataupun perangkat keras switching [5].

Baca lebih lanjut

Iklan

ThinkPad X250

Saya bersyukur dapat memiliki ThinkPad X250. Laptop ultraportable ini termasuk seri X nomor tiga terkini setelah X270 dan X260 :d. X250 dikatakan perbaikan X240 dengan perbedaan yang paling terlihat adalah tombol fisik Trackpoint atau Trackpad, setelah pada model sebelumnya “tenggelam”. Seperti X240, X250 membawa sistem catu daya untuk baterai yang dikenal dengan “power bridge“. Intinya ada baterai internal dan eksternal [1], pada X250 saya terdapat 3 sel internal dan 3 sel eksternal [2].

ThinkPad X250 saya tidak memiliki pembaca sidik jari, tetapi memiliki porta VGA sekaligus Mini DisplayPort [3]. Prosesornya i5-5300U (Broadwell ULV). Layar biasa/TN, bukan IPS, dengan ukuran 12,5 inci dan resolusi maksimal 1366×768. Sayangnya mesin ini hanya dibekali satu slot DIMM DDR3L dengan memori bawaan 4GB. Saya meningkatkannya menjadi 8GB karena kebutuhan.

Untuk media penyimpan bawaan menggunakan diska 500 GB [4] dan di lain waktu saya ganti jadi SSD Samsung EVO 850 250 GB. Sebenarnya ada slot M.2 2242 yang bisa dipasangi SSD, namun karena ketersediaan barang yang langka sehingga tak jadi dimanfaatkan. Slot ini juga dapat diisi dengan modul WWAN atau LTE. Untuk porta USB sudah versi 3.0 sebanyak dua buah saja. Tidak seperti Thinkpad yang saya miliki sebelumnya, X250 ini sudah dibekali dengan kamera 720p plus 3 mikrofon internal yang beberapa kali saya gunakan untuk sekadar merekam diri sendiri dan keluarga ataupun latihan bicara.

Baca lebih lanjut

Menjual ThinkPad X200

Akhirnya saya memutuskan untuk move on dari ThinkPad X200 [1] ~3 bulan yang lalu. Walaupun sudah move on, baru Jumat kemarin saya benar-benar melepas kepergian mesin tersebut dengan menjualnya ke toko P yang sebelumnya telah melakukan servis dan tak berhasil.

Saat saya mengambil X200 dari tempat servis setelah toko P menyatakan belum bisa memperbaiki, saya mencari motherboard di pasar-pasar daring semacam Tokopedia dan juga toko-toko lokal yang menjual ThinkPad. Survei kecil saya mengatakan bahwa kisaran harga motherboard ThinkPad bekas sekitar 600 ribu rupiah, hal ini sesuai dengan pernyataan harga sebuah toko lokal yang memiliki ThinkPad X201 dan menyatakan mau mencoba mengganti motherboard mati pada X200 saya [2].

Waktu berlalu dan saya punya keinginan untuk menjualnya per komponen saja, misal memori, diska, baterai. Saat akan mencoba menjual memori 2GB ke toko P, saya ditanya mengenai keberadaan X200 dan ditawari bagaimana kalau dijual saja gelondongan. Waktu itu diberi tawaran <500 ribu rupiah. Setelah sekian lama akhirnya saya tekadkan hati menyiapkan X200 kemudian dibawa ke toko tersebut dan menerima tawaran 450 ribu rupiah [3].

[1] Saya pindah ke ThinkPad X250.
[2] Saat itu saya masih pikir-pikir.
[2] Setelah melewati proses tawar-menawar yang cukup.