Pejuang Keikhlasan

Saya mengagumi seorang tokoh Islam bernama Abdullah bin al-Mubarak. Beliau dikenal sebagai ulama besar dan ahli hadis yang zuhud. Keunggulan beliau dibandingkan ulama lain adalah beliau diberikan kekayaan [1] dan kemampuan berperang/bela diri. Umumnya seorang ulama hanya memiliki ilmu saja, tapi beliau memiliki ilmu, harta, dan kemampuan fisik/berperang/bela diri.

Pada suatu saat terdapat seruan untuk berperang/jihad melawan musuh, saat itu Romawi. Abdullah bin al-Mubarak ikut serta bersama rakyat untuk berjuang, termasuk di antaranya seseorang bernama Abdullah bin Sinan yang menceritakan kisah ini.

Ketika bertemu dua rombongan pasukan, muncul dari barisan Romawi seorang prajurit yang menantang untuk duel atau perang tanding satu lawan satu. Hal ini biasa pada perang di zaman dahulu, perang dimulai dengan duel sebelum nantinya seluruh pasukan dari dua kubu saling menyerang. Muncul satu pejuang muslim dan terjadilah duel. Sang prajurit Romawi menang dan berhasil membunuh pejuang muslim tersebut. Duel berlanjut sampai prajurit Romawi ini membunuh satu per satu 6 pejuang muslim yang maju untuk mengalahkannya.

Prajurit Romawi ini berjalan bangga/sombong di antara dua barisan pasukan yang berperang dan menantang siapa lagi yang akan melawannya. Tidak ada seorang pejuang muslim pun yang berani untuk maju, mengingat sudah ada 6 orang yang telah dihabisi. Abdullah bin al-Mubarak menoleh kepada Abdullah bin Sinan seraya berkata, “Jika aku terbunuh, lakukan ini dan itu”. Sebuah wasiat sebelum meninggal. Kemudian beliau gerakkan tunggangannya keluar dari barisan tentara muslim menuju medan duel. Terjadilah perang tanding yang sengit dan duel dimenangkan oleh Abdullah bin al-Mubarak.

Seperti yang sebelumnya dilakukan oleh prajurit Romawi pertama, Abdullah bin al-Mubarak menantang pasukan Romawi untuk mengeluarkan jagoannya. Gantian. Muncul seorang prajurit dari pasukan Romawi untuk duel dengan beliau, dan beliau berhasil mengalahkan prajurit tersebut. Demikian selanjutnya sampai jumlah prajurit Romawi yang dikalahkan Abdullah bin al-Mubarak adalah 6 orang.

Beliau masih menantang dan tidak ada seorang prajurit dari pasukan Romawi yang berani untuk muncul menyambut tantangannya. Akhirnya beliau menggerakkan tunggangannya di antara dua barisan pasukan dan menghilang.

Terjadilah pertempuran dan tidak ada seorang pun dari pasukan muslim mengetahui siapa ksatria yang bertarung duel saat itu, kecuali Abdullah bin Sinan. Saat itu Abdullah bin al-Mubarak kembali ke dekatnya dan berkata, disebutkan mengancam, “Wahai Abdullah, jangan katakan pada siapapun selama aku masih hidup”. Sebagai catatan, saat Abdullah bin al-Mubarak keluar dari barisan pasukan untuk duel, beliau menutupi wajahnya, sehingga tidak ada orang yang mengenali.

Sungguh sebuah keteladanan yang patut kita tiru dari sisi keberanian dan usaha menjaga keikhlasan beliau rahimahullah. Kisah yang mirip juga disebutkan pada peperangan lain yang melibatkan beliau.


Saya membaca dan mendengar kisah ini beberapa kali sampai saya terakhir mendengar kajian “bedah buku” Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf [2] oleh Ustaz Aris Munandar pada Pertemuan 3, kemudian saya tuliskan ceritakan kembali apa yang saya baca dan dengar pada kiriman blog ini.

[1] Beliau berdagang dan memiliki sifat sangat dermawan.
[2] “Di manakah saya dibandingkan dengan akhlak orang (salih) terdahulu”

Iklan

2 thoughts on “Pejuang Keikhlasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s