Kisah Seorang Om

Saya memiliki seorang Om dari sekian Om, adik yang paling kecil dari Bapak saya. Saat kecil saya suka menunggu Om tersebut pulang dari perantauannya di tempat tinggal Eyang. Saat itu Eyang tinggal bersama dengan Tante saya, dan Om saya bersekolah di sebuah universitas di ibukota. Ketika dikabarkan bahwa Om akan pulang, saya akan pergi ke rumah Tante dengan bersepeda. Dulu sepeda saya jenis BMX.

Seingat saya, biasanya Om saya sampai di rumah Tante pada malam hari, jadi ketika subuh saya sudah bertemu dengannya. Saya suka ikut Om pergi ke masjid untuk menunaikan salat subuh. Sebuah pendidikan yang tak terduga dari sebuah interaksi antara keponakan dan “bapak kecil”. Saat pagi atau siang, saya sering melihat Om membaca Alquran dari sebuah mushaf kitab kecil, saya terkadang duduk di depannya dan sering hanya melihat sambil lalu karena saya sibuk bermain dengan sepupu-sepupu saya.

Saya masih melihat banyak kebaikan pada dirinya, walaupun sekian tahun yang lalu saya pernah berkata bahwa Om saya telah berubah, beliau tak seperti yang saya lihat dulu, tapi semakin ke sini akhirnya saya menyadari bahwa perubahan yang saya lihat adalah perubahan dari saya yang lihat, bukan perubahan sejati dari personal atau kehidupannya. Om sudah berkeluarga dengan 3 anak, masih bersemangat ketika berbicara, masih memiliki niat dan usaha untuk membantu saudara. Ada banyak hal yang sebenarnya sudah tidak bisa saya lihat lagi secara langsung. Saya kemudian berpikir, betapa naifnya saya ketika berbicara “Om saya telah berubah”.

Iklan

3 thoughts on “Kisah Seorang Om

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s