Melihat dengan Dua “Kacamata”

Seseorang yang keren pernah mengatakan, ketika engkau melihat orang melakukan keburukan, lihatlah dengan dua “kacamata”. Yang pertama adalah “kacamata” syariat/aturan/etika/dst., dan yang kedua adalah “kacamata” takdir. Dengan melihat dengan dua “kacamata” ini, kita tidak serta merta mengatakan orang tersebut memang tidak baik, jahat, dan seterusnya, tapi kita juga bisa memahami bahwa demikianlah takdirnya pada saat itu.

Selanjutnya, secara natural kita mesti berpikir dan bertanya “kenapa Tuhan takdirkan dia seperti itu?”, kemudian “kenapa ya dia seperti itu?”. Hal ini akan memunculkan rasa iba pada sebagian orang dan membuatnya seimbang dalam melihat kejadian yang Ia lihat, kemudian Ia akan membayangkan dirinya di posisi orang tersebut. Empati.

Cara ini kalau ditilik lebih lanjut klop sejalan dengan teknik melihat latar belakang. Ketika terjadi konflik, polemik, dan sejenisnya yang melibatkan manusia, kita perlu juga melihat latar belakang seseorang secara personal atau kelompok di masyarakat. Kenapa dia suka marah-marah di dalam rapat? Kenapa nadanya tinggi saat berdiskusi di hari kerja? Dengan melihat beberapa kemungkinan jawabannya, paling tidak kita akan sedikit bisa memahami orang lain, misal ketika kita tahu kondisi orang tersebut “tidak ada tanggungan”, jauh dari istri/suami, dst.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s