Nasib Seorang Musafir

Stasiun PurwokertoSaya beberapa kali cerita ke teman dan saudara tentang keinginan untuk menyewa layanan televisi berlangganan semacam *vision. Sebenarnya saya cuma ingin nonton Kompas TV saja sih hehe, acaranya bagus-bagus, selain itu kanal-kanal seperti National Geographic juga oke. Tapi setelah didiskusikan dan dipikir, saya ini kan suka bergerak ke sana kemari, dan juga sepertinya tak pantas anak kos langganan “tv kabel” :D. Jika saya pas di kamarpun, sering langsung ketiduran. Apa sempat nonton?

Pilihan lain untuk nonton adalah dengan streaming langsung dari situsnya. Ini solusi bagus, karena “on demand“, berdasarkan keinginan saya dan bisa dilakukan di mana saja. Sayang, koneksi Internet saya pakai modem dan berkuota, bakal langsung habis itu kuota kalau koneksi dipaksa buat nonton. Akhirnya, tidak jadi langganan.

Nasib seorang musafir. Tidak boleh punya hal-hal yang stabil, hanya boleh yang labil. Pantesan, si stwn labil terus haha. Sampai sekarang saya masih kos, labil. Laptop saya memang didesain untuk digunakan pada kondisi labil. Koneksi pakai modem, labil. Dan seterusnya. Bahkan saya menyatakan akan menjadi abg seorang yang labil dengan mengaktifkan mode musafir.

Sadarlah stwn, sudah nasibmu menjadi seorang musafir. Pikirkanlah hal yang dapat kau lakukan dalam kondisi saat ini. Jangan bermimpi yang stabil-stabil. Konsentrasikan dulu ke perbaikan diri. #fixstwn

Pikirkanlah hal-hal yang bisa kau bawa bergerak, dan itu pun tak banyak.

Eh, saya jadi ingat Setsuna, di kamar tempat Ia menginap tidak ada apa-apa. Hanya tempat tidur. Ia hanya memiliki satu gawai yang dibawa untuk memantau berita dan menerima informasi misi selanjutnya. Saat melaksanakan misi, Ia keluar dari kamar. Peralatan yang Ia gunakan pun bukan miliknya sendiri.

Iklan

One thought on “Nasib Seorang Musafir

  1. Pernah punya keinginan yang sama, berlangganan TV berbayar. Setelah dipikir-pikir, ternyata sama sekali tidak membutuhkannya, hanya sebuah keinginan saja. Lagipula juga jarang melihat TV, nanti malah mubadzir, membayar tapi tidak dinikmati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s