Kearifan Lokal

Saat kemarin bertamasya ke Bali, saya teringat kembali istilah “kearifan lokal”. Pemandu wisata bercerita banyak hal tentang budaya di sana. Saya kira budaya tersebut turun temurun dari nenek moyang, dan ada beberapa di antaranya berubah, tapi secara umum masih sama, muncul dari kepercayaan yang dibuat manusia.

Kalau dulu saya berpendapat bahwa budaya nenek moyang yang tidak baik, khususnya yang berhubungan dengan kepercayaan, tidak perlu dilestarikan. Saat ini pendapat saya masih sama, hanya saja saya mulai mempelajari berpikir kenapa ada budaya seperti itu. Mungkin karena pengaruh umur dan sedikit pengalaman #uhuk saya jadi mulai melihat kembali kemungkinan yang melatarbelakangi munculnya budaya-budaya tersebut.

Salah satu contoh budaya yang tidak baik, dalam pandangan saya sebagai seorang muslim, adalah menyediakan sesaji pada pohon yang akan ditebang. Kalau tidak dilakukan, akan terjadi suatu hal buruk. Nilainya pun dalam kisaran juta, untuk satu pohon. Ya, satu pohon. Jadi kalau pemerintah Bali ingin melakukan pelebaran jalan atau pembangunan gedung, maka mereka perlu menyediakan anggaran yang (sangat) besar.

Di sisi lain, dengan adanya budaya tersebut, orang jadi tidak sembarangan menebang pohon dan melakukan pembangunan secara liar. Di sinilah salah satu gagasan yang disebut dengan kearifan lokal[1] masyarakat di sana. Di daerah-daerah lain di Indonesia pun akan kita temui hal-hal semacam itu.

Saya kira dulu, orang-orang yang disebut dengan “para sesepuh” berusaha merumuskan gagasan bagaimana cara untuk membuat aturan serta etika dalam hidup bermasyarakat supaya diri, orang lain, dan dunia ini tidak rusak. Kemudian muncul mitos dan kepercayaan yang sengaja dibuat untuk menyukseskan tujuan tersebut. Bentuk umumnya adalah dengan menakut-nakuti.

Sekarang, ketika kita sedikit demi sedikit mendapatkan ilmu, apakah kita akan terus percaya dengan hal-hal seperti itu? Mungkinkah kita bisa meninggalkan budaya yang buruk dan melestarikan yang baik[2]?

Sepertinya, kita perlu mendidik diri sendiri dulu.

[1] Sila mengoreksi jika saya salah mendefinisikan istilah ini.
[2] Yang tidak merusak kehidupan dunia dan akhirat kita.

Iklan

One thought on “Kearifan Lokal

  1. stwn Penulis Tulisan

    Konsep kearifan lokal tetap dipelihara, tapi kepercayaan/keyakinannya yang ditinggalkan. Contoh pada kasus pohon di atas, setiap penebangan tetap dimintai dana yang sama dengan sesaji, tapi uangnya dikumpulkan untuk mendukung pendidikan, pembangunan infrastruktur yang bermanfaat, dst.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s