“USB mass-storage” vs MTP

Galaxy Nexus oleh Roger Luo, berlisensi CC BY-NC-NDSaat memiliki ponsel “Nexus 3” beberapa waktu yang lalu, ada sedikit kendala saat nyolok ke komputer melalui kabel microUSB. Hanya ada 2 pilihan yaitu Media Transfer Protocol (MTP) dan Picture Transfer Protocol (PTP). Kalau yang terakhir kita bisa langsung[1] akses ke ponsel, tapi cuma ke direktori gambar doang.

Ternyata fitur USB mass-storage device class (MSC) yang biasanya ada pada mayoritas ponsel, di “Nexus 3” digantikan oleh MTP. Kalau kita baca informasinya sekilas di Wikipedia, tujuan dari MTP adalah untuk menangani transfer berkas multimedia dan informasi lainnya. Yang ngenalin protokol ini adalah MS, dan merupakan bagian penting dari WMDRM. Argh, ketemu DRM lagi.

MSC diperlakukan sebagai diska portabel atau removable drive, sehingga sistem berkasnya ditangani sistem operasi pada komputer. MTP tidak, sistem berkas ditangani oleh perangkat/ponsel itu sendiri. Keuntungannya, kita tidak perlu melakukan proses mengait dan melepas (mount/unmount) penyimpan pada perangkat.

Kerugiannya kita tidak merdeka dalam mengakses penyimpan, termasuk melakukan pemulihan/recovery berkas secara langsung. Jadi boleh kita katakan, media penyimpan diikat ke perangkat. Kita kehilangan kemerdekaan untuk mengakses penyimpan secara “gelondongan” pada perangkat yang sudah kita beli. Yah, memang dapat dipahami sih kalau memang tujuan besarnya adalah DRM.

Baik, saat saya mencoba mengakses pertama kali penyimpan pada “Nexus 3”, memang ada sedikit rasa marah, terhadap perubahan cara mengakses, dan kecenderungan implementasi yang membatasi hak pengguna. Untuk yang pertama bisa dipahami sebagai manusia dan saya bisa beradaptasi, tapi untuk yang kedua saya belum tahu harus bagaimana selain mencoba untuk terus membicarakan soal DRM.

Di Debian dan turunannya, program yang perlu dipasang untuk mengakses berkas melalui MTP adalah mtp-tools dan gmtp, beserta teman-temannya. Saya berhasil menyalin, istilah di gMTP adalah “mengunduh”, berkas dari penyimpan di ponsel, tapi memang aksesnya lebih lambat (sekali) daripada menggunakan MSC, paling tidak terlihat saat memuat daftar direktori/berkas pertama kali. Dan operasi pada penyimpan melalui MTP hanya diijinkan satu saja. Modifikasi berkas langsung tidak diperbolehkan. Sip.

Sebagai penutup, sebenarnya jalan tengah dalam kasus MSC dan MTP, serta kasus lain yang cenderung menghilangkan kemerdekaan pengguna untuk memiliki perangkat yang sudah dibelinya adalah dengan memberikan pilihan akses kepada mereka, mau cara orang awam atau cara opreker?

Karena bisa jadi, jika kita bersangka baik, tujuan penggunaan MTP salah satunya supaya orang awam tidak repot misal mengait/melepas penyimpan, dan mengurangi efeknya seperti berkas yang rusak karena lupa melepas/umount/safely remove.

Kemerdekaan adalah soal pilihan dan otonomi. Kita bisa melihat orang, organisasi, atau perusahaan mana saja yang memiliki itikad baik untuk berusaha memberikan dan memperjuangkan kemerdekaan penggunanya.

[1] Desainnya supaya kita tak perlu memasang driver terlebih dahulu.

* Gambar oleh Roger Luo, berlisensi CC BY-NC-ND.

Iklan

One thought on ““USB mass-storage” vs MTP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s