Antifitur

Restrictions oleh Josh Kenzer, berlisensi CC BY-NC-SA.Antifitur atau Antifeature[1] secara sederhana adalah fitur yang disertakan oleh pengembang produk tapi tidak diinginkan oleh pengguna. Awalnya saya sendiri bingung juga membaca definisi yang dituliskan oleh Mako. Setelah melihat contoh-contohnya jadi jelas.

Intinya pengembang produk ingin membatasi penggunanya dengan menambahkan antifitur. Supaya pengguna tidak bisa ngapa-ngapain, terus ujung-ujungnya pengguna diminta upgrade atau beli versi yang tidak ada pembatasan/antifiturnya. Padahal secara umum versi yang dimiliki oleh pengguna sudah bisa, hanya saja fiturnya dikunci.

Implementasinya bisa bermacam-macam, di tingkat cip pada ponsel dapat digunakan untuk membatasi pengguna supaya hanya menggunakan baterai keluaran perusahaan pengembang saja. Kalau pakai merek lain atau KW, ponsel tidak bisa dipakai, atau baterainya jadi boros. Atau kamera yang tidak bisa menyimpan gambar dalam bentuk RAW, padahal kamera tersebut bisa. Hal ini disampaikan Mako pada LinuxTag 2013 kemarin.

Perusahaan memilah-milah produknya, ada workstation, server, starter, basic, dst. Sering perbedaannya hanya di pembatasan pada versi yang lebih murah. Kalau di kamera, ada 2 tipe kamera, yang satu bisa simpan gambar RAW (mahal) dan tidak (lebih murah). Padahal yang terakhir sebenarnya sudah bisa, hanya saja perusahaan pembuat menambahkan fitur “konverter” dari gambar RAW ke JPEG. Bersusah payah membuat “konverter” hanya untuk diterapkan pada produk yang lebih murah.

Banyak perusahaan melakukan usaha maksimal untuk menyertakan antifitur pada produk yang mereka jual, padahal pengguna tidak menginginkannya. Aneh kan. Seperti menjual barang, tapi tidak ikhlas barangnya dijual. Sudah habis uang dan waktu banyak untuk membuat antifitur, ternyata antifiturnya tidak diinginkan pengguna, dan cepat atau lambat akan ada orang yang dapat menjebolnya.

Untung sekarang banyak opreker yang pintar sehingga dengan bantuan mereka kita dapat menghilangkan atau melewati batasan-batasan yang diberikan oleh pengembang produk[2]. Kita sudah membeli barang, terserah kita dong mau ngapain dengan barang yang sudah kita beli.

Contoh lain antifitur yang dikatakan ekstrim adalah Digital Rights Management (baca: Digital Restrictions Management, DRM)[3], yang kata Mako adalah “ibu” dari semua antifitur. Lucu juga, para antifitur punya “ibu”. :D

Untungnya dengan Free Software (Free as in Freedom), antifitur yang diterapkan padanya akan lebih mudah dihilangkan baik melalui teknik khusus, atau melalui versi modifikasi.

[1] Dalam ekonomi disebut dengan “produk rusak” atau damaged good.
[2] Di Amerika dan Eropa ada hukum yang akan dilanggar kalau kita melakukan ini.
[3] Baca juga pengalaman saya sebelumnya dengan buku-e yang diikat DRM.

* Gambar oleh Josh Kenzer, berlisensi CC BY-NC-SA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s