“Dua Puluh Persen”

Gedung JinggaSebagian perusahaan, khususnya yang berhubungan dengan teknologi, kini memberikan waktu luang bagi karyawannya untuk melakukan aktivitas/proyek mereka sendiri. Google dengan 20%-time. Apple dengan Blue Sky. LinkedIn dengan InCubator. Dalam seminggu berarti ada kurang lebih satu “hari bebas ngoprek” untuk karyawan.

Walau mengerjakan proyek sendiri, ternyata para karyawan masih berkutat pada hal-hal seputar pekerjaan, karena sebagian besar dari mereka bekerja karena suka pada pekerjaan mereka. Umumnya, yang mereka lakukan adalah semacam riset/pengembangan calon produk/layanan baru, dan perbaikan pada proyek tim lain yang mereka konsen/menggunakannya.

Berhubungan dengan kampus, saya sedang berpikir bagaimana konsep “dua puluh persen” ini bisa diterapkan dengan baik pada aktivitas di dalamnya. Untuk pengajaran, konsep ini saya kira cocok digunakan pada mata kuliah pilihan/konsentrasi. Saya sendiri sudah melakukannya dengan memberikan persentase 25-30% nilai untuk tugas besar atau proyek.

Hasilnya lumayan, paling tidak mahasiswa/i punya pengalaman untuk mengoprek proyek yang mereka ajukan sendiri. Masalah yang sering mereka hadapi adalah waktu ngoprek yang terbatas, dan mereka umumnya belum tahu benar batasan masalah yang akan mereka buat solusinya. Jadi, sering harapan jauh dari kenyataan. Bukankah hidup seperti itu ya? #uhuk

Selain itu masalah pembimbingan yang kurang intens dari dosen, karena memang konsepnya adalah proyek dilakukan mandiri dan di luar kelas. Mahasiswa/i biasanya malu atau segan bertanya kalau ada kesulitan, juga bisa jadi mereka memang benar-benar meluangkan waktu di luar kelas untuk aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan kelas :D

Kata orang, “murid tidak pintar karena gurunya tidak pintar”. Motivasi dan arahan dari dosen bisa jadi kurang, atau tidak menyentuh dan menggelorakan mahasiswa untuk selalu mengoprek. Karena itulah hanya mahasiswa-mahasiswa yang keren memiliki gairah untuk maju yang biasanya memberikan hasil yang maksimal.

Soal motivasi, terkadang dosen juga kurang memberikan inspirasi dengan memberikan contoh nyata dan mendiskusikannya dengan mahasiswa. Padahal, cara mendidik yang baik adalah dengan berdiskusi dan memberikan contoh nyata.

Kini saya sedang mengujicobakan porsi 20%-30% diambil dari waktu di kelas pula. Jadi, 70% teori/diskusi yang difasilitasi oleh dosen, dan 30% mereka sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Porsi yang terakhir dapat dikombinasikan dengan teori/diskusi yang dibahas sebelumnya, dapat berupa “sintesis”, atau “praktik nyata”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s