Menggunakan GNOME3

GNOME 3.8Kurang lebih 1,5 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk pindah ke lingkungan destop GNOME, setelah sebelumnya menjadi pengguna setia KDE3, dan tidak cocok dengan KDE4. GNOME adalah salah satu lingkungan destop yang matang dan stabil, serta menjadi default di Debian GNU/Linux.

GNOME dikembangkan salah satunya oleh Miguel de Icaza yang sekarang jadi troll dan Apple fanboy :D GNOME terkenal dengan antarmuka yang konsisten, dan setahu saya mereka punya semacam panduan dalam perancangannya.

Tidak seperti KDE, GNOME terasa kaku dan relatif lebih butuh usaha untuk dikustom, bagi orang-orang yang suka merancang sendiri tampilan destopnya. Dan memang ini yang saya rasakan pertama kali, tapi setelah menggunakannya secara rutin barulah saya sadar, kita memang perlu destop yang punya “kerangka” jelas dan memberikan pengalaman pengguna yang konsisten.

Jadi, akhirnya saya menjadi pengguna setia GNOME sampai sekarang. Beberapa kali pernah berusaha untuk meringankan destopnya, tapi akhirnya membiarkannya menjadi default saja, walau ada perubahan standar tampilan seperti tema, set ikon, penataan ikon di destop, aplet, dst. Pengguna dapat melakukan kustomisasi tampilan tapi masih di dalam kerangka tampilan GNOME.

Kemudian menjelang diluncurkannya Debian “wheezy” yang menggunakan GNOME3 sebagai standar lingkungan destopnya, maka 4 hari yang lalu saya memutuskan untuk meningkatkan versi Debian di laptop dari “squeeze” ke “wheezy“. Walaupun saat ini “wheezy” masih calon rilis stabil, tapi tak apalah sekalian mencoba icip-icip sebelum menikmati versi finalnya.

Alhamdulillah semuanya lancar dan saya dapat menikmati pengalaman baru dengan GNOME3, walau perlu ada adaptasi dulu. Empat hari sudah cukup untuk penyesuaian. Tadi malam pun giliran Debian di komputer destop saya yang ditingkatkan ke “wheezy”, tempat saya mengetikkan terbitan blog ini.

Sejauh ini tidak ada kendala berarti, hanya masalah kebiasaan saja. Semoga semakin produktif, karena beberapa kali saya mencoba menyesuaikan tampilan begini begitu, dan akhirnya “menyerah” dengan bawaan defaultnya saja. Paling tidak ya itu tadi, “kerangka” destopnya masih sama. Perubahan-perubahan kecil masih berada pada kerangkanya.

* Gambar diambil dari halaman GNOME3, CC BY.

Iklan

4 thoughts on “Menggunakan GNOME3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s