Berpindah Konteks

Kata orang yang namanya berpindah konteks alias context switching itu mahal. Seperti CPU yang berpindah dari satu proses ke proses lainnya. Perlu ada penyimpanan informasi pada proses pertama terlebih dahulu, sebelum memulai dan memuat kembali informasi pada proses yang kedua. Informasi dapat berupa status, program counter, stack pointer, alokasi memori, informasi berkas yang dibuka, pencatatan, penjadwalan, dst.

Kita manusia, kita tidak bisa disamakan dengan komputer. Walaupun secara umum ada sifat/hukum alami yang memang ada pada setiap makhluk di muka bumi ini. Saya ingin mencoba memahami sisi manusianya, dan saya dapat katakan kita sebagai manusia bisa tetap produktif dan bahkan mungkin lebih produktif jika melakukan context switching.

Alasan pertama, karena manusia terbiasa melakukannya. Kedua, hal ini tidak dapat dihindari di era sekarang ini. Ketiga, manusia cenderung bosan. Karena itu perlu dirumuskan sebuah metode *opoiki* untuk melakukan optimasi context switching ini, yaitu dengan membuat kelompok-kelompok pekerjaan sejenis/mirip/berhubungan dan melakukan context switching pada satu kelompok pekerjaan tersebut dalam satu rentang waktu tertentu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s