Bertanya ke Belakang

Saat mengunjungi Bapak suatu kali, beliau bercerita “Dulu, di sekolah ketika Bapak mengawas ujian, ada siswa yang terlambat”. Siswa tersebut ditanya “Kenapa terlambat?”, jawabannya “Bangun kesiangan”. Kala itu Bapak minta siswa tersebut lari berputar keliling lapangan sekian kali, kemudian Ia baru boleh masuk ujian.

Ketika sampai rumah dan menceritakannya kepada Ibuk sebagai “laporan hari ini“, Bapak dimarahi diingatkan oleh Ibuk, “Anak telat ujian kok disuruh lari”. Bapak pikir iya juga ya, sudah terlambat, disuruh lari. Waktu yang tersisa untuk ujian semakin sedikit. Entah bagaimana pula konsentrasi siswa tersebut dengan kondisi buru-buru dan ngos-ngosan seperti itu?

Keesokan harinya atau sekian hari setelahnya, Bapak memanggil anak itu dan meminta maaf, kemudian menanyakan dengan berurutan pertanyaan “Kenapa”. Kenapa kemarin terlambat? Bangun kesiangan. Kenapa bangun kesiangan? Karena capek dan semalam tidurnya malam. Kenapa capek dan tidurnya malam? Karena habis membantu memperbaiki motor di bengkel. Kenapa harus memperbaiki motor di bengkel? …

Ternyata dari pertanyaan “Kenapa” secara berurutan ini, Bapak mendapatkan akar permasalahannya. Siswa tersebut memang punya kegiatan membantu orang tua atau omnya di bengkel, dan sering diminta menyelesaikannya. Kurang lebih ceritanya seperti itu. Aku tidak menyinggung apakah memang anaknya ingin memperbaiki, atau Bapak/om anak tersebut saat itu tidak punya pertimbangan tertentu, atau memang kondisinya mendesak.

Jadi, aku mendapatkan pelajaran bahwa untuk mencari akar permasalahan, sering seseorang harus merunut dan bertanya “Kenapa” ke belakang. Terkadang, jika diperlukan, terjun langsung ke medan permasalahan dengan mendatangi dan mengkonfirmasi fakta-fakta yang didapat.

Omong-omong, ini adalah kali kedua beliau menceritakan hal yang sama. Dan saya masih terkesan. Terima kasih, Pak.

Iklan

One thought on “Bertanya ke Belakang

  1. astonix

    Kalau dalam dunia kerja, ada yang namanya Quality Control Circle (Gugus Kendali Mutu), salah satu alatnya dengan metode diagram tulang ikan. Dalam diagram itu, analisa pencarian akar masalah ada 5 faktor : man, method, material, machine, environment. Mirip seperti yang diuraikan di atas :D

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s