Diperalat Alat

Alat atau perkakas, seperti namanya berfungsi untuk membantu kita dalam hidup dan berkarya. Karena fungsinya sebagai alat, maka anggaplah alat sebagai alat. Alat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan baik kita di dalam hidup. Kita semestinya menggunakan alat, bukan alat yang menggunakan kita.

Sering ketika kita berada di depan perkakas atau alat yang modern seperti komputer, laptop, dan ponsel, kemudian kita lupa diri. Lupa cucian, lupa kanan-kiri, lupa segalanya. Ketika kita merasakan hal ini berarti kita sudah diperalat alat. Perkakas menggunakan kita, bukan kita menggunakan perkakas.

Saya kira yang menjadikan terjadinya perpindahan posisi dari “alat yang diperalat manusia” ke “manusia yang diperalat alat” adalah konvergensi teknologi, beragam fungsi dapat ditangani oleh sebuah alat (berbasis komputer), dan alat ini sekarang menjadi media konsumsi manusia modern. Pintu gerbang informasi. Informasi yang baik, juga informasi sampah.

Kemudian, apakah kita harus membuang semua itu? Tentu saja tidak. Barang-barang itu adalah alat. Alat digunakan sesuai dengan tujuan yang menggunakan yakni kita. Alat-alat tersebut bersifat netral, tinggal kita gunakan untuk yang halal atau yang haram *pasangpeci* #salahfokus

Saya punya usulan untuk menyadarkan kita ketika berada di depan alat-alat modern yaitu sebelum menyalakan atau berhadapan dengannya, kita diam dulu, berhenti sejenak dan berpikir.

Tulis apa yang akan kita lakukan dengan alat tersebut di kertas. Kemudian, lakukan apa yang sudah kita tulis, dan jangan melakukan hal-hal selain yang dituliskan :D Kalau memang setelah pekerjaan-pekerjaan utama sudah selesai, sebagai hadiah tulis saja “30 menit membaca pasokan berita” atau “10 menit menyapa kawan lama”.

Mungkin cara ini teratur banget ya, tapi dengan ini hidup kita menjadi lebih terkendali. Terkendali oleh kita sendiri, bukan alat. Kalau memang mau sedikit fleksibel, coba saja diadaptasi. Yang susah di sini adalah kemauan kita dalam menuliskan tujuan penggunaan alat dan mematuhi tujuan yang sudah kita tulis, secara konsisten dan istiqomah.

Benang merah dari hal ini setelah saya pikir adalah kemerdekaan kita dari peralatan tersebut. Ketidakterikatan kita terhadap alat untuk mencapai tujuan. Secara psikologi, sudah dibahas di atas, serta yang tak kalah penting adalah teknologi dan isi.

Nah di sini ada sedikit isu *mulai*, berarti apapun alatnya yang penting menggunakan standar yang baku dan terbuka, serta berfungsi sebagaimana mestinya? Benar, tapi jangan lupa yang kita inginkan adalah kemerdekaan kita terhadap alat, jadi alat tidak boleh mengikat bagaimana kita (ingin) menggunakannya[1], secara individual dan sosial.

freedomdefined.orgDi sisi teknologi ada Perangkat Lunak Bebas dan Perangkat Keras Sumber Terbuka. Di sisi konten ada Karya Budaya Bebas. Tentu saja kita merdeka untuk memilih mana yang memberikan nilai positif dalam kehidupan.

Mari berusaha semaksimal mungkin untuk memakainya.

[1] Kita bisa secara kreatif melakukan hal-hal lain dengan alat tersebut

Iklan

9 thoughts on “Diperalat Alat

  1. sangprabo

    Tidak paham di bagian ini…

    “Nah di sini ada sedikit isu *mulai*, berarti apapun alatnya yang penting menggunakan standar yang baku dan terbuka, serta berfungsi sebagaimana mestinya? Benar, tapi jangan lupa yang kita inginkan adalah kemerdekaan kita terhadap alat, jadi alat tidak boleh mengikat bagaimana kita (ingin) menggunakannya[1], secara individual dan sosial.”

    [1] Kita bisa secara kreatif melakukan hal-hal lain dengan alat tersebut

    Artinya, Perangkat Lunak Bebas, Perangkat Keras Sumber Terbuka, dan Karya Budaya Bebas bukanlah sebuah keharusan, karena boleh jadi seseorang dapat menjadi pribadi yang lebih kreatif, tapi menggunakan perangkat lunak berbayar, dan dia secara sadar dan legal membeli lisensinya. Boleh jadi pula, tidak setiap perangkat lunak bebas memiliki kualitas yang setara dengan versi berbayar.

    Menurut saya, konsumen diarahkan dulu bahwa ketika mereka menggunakan perangkat lunak ilegal, sama artinya dengan mencuri. Jika tetap terus ingin menggunakan, mereka harus membayar sejumlah biaya. Alih-alih mengarahkan orang untuk menggunakan perangkat lunak bebas, kita bimbing dulu dengan jurus marketing : “orang akan lebih tertarik pada tempat tidur yang kalimat iklannya ‘selama ini cara tidur Anda salah’ daripada ‘mutu tempat tidur kami bagus'” alias dibimbing untuk menghindari kesengsaraan dibanding mengejar kebahagiaan.

    “Entar kalo pake bajakan bisnisnya digerebek polisi loh…”
    “Wah, biaya pake yang original mahal sekali loh…”
    baru kemudian…
    “Ini ada alternatif lain kok, boleh coba dulu, free…”

    Balas
    1. stwn Penulis Tulisan

      Dirimu perlu membandingkan yang bisa dibandingkan, Bo. Bebas atau merdeka semestinya dibandingkan dengan terikat/proprietary, sedang gratis dibandingkan dengan berbayar

      Jangan salah, perangkat lunak bebas sebagai perwakilan dari ketiga di atas, bisa saja berbayar. Bedanya dengan proprietary atau terikat, perangkat lunak bebas walaupun berbayar tetap memberikan kemerdekaan pada penggunanya, dan pengguna mempunyai pilihan untuk mengambilnya dari mana pun

      Dengan perangkat lunak bebas, kita boleh pakai untuk tujuan apapun, boleh mempelajari isinya, boleh menyebarkan kembali, boleh memodifikasi kemudian melepasnya ke masyarakat

      Secara umum orang tidak butuh fungsi yang macam-macam. Saya bicara orang kebanyakkan. Jangan sampai orang cuma mau ke pasar pikirannya langsung beli mobil balap. Wong jalan kaki atau naik sepeda juga bisa, malah sekalian olah raga, ketemu warga, dst

      Dan yang perlu kita garisbawahi, lihat kalimat “alat tidak boleh mengikat bagaimana kita (ingin) menggunakannya[1], secara individual dan sosial“. Alat-alat sekarang yang proprietary membatasi kita dalam menggunakannya untuk tujuan apapun, kita tidak boleh mempelajari isinya, kita tidak boleh membantu tetangga dengan memberikan salinan, kita tidak boleh memodifikasi/mengadaptasi sesuai kebutuhan kemudian menyebarkan hasilnya ke masyarakat supaya manfaatnya lebih besar

      Efeknya tidak hanya kita secara individu saja, tetapi juga sosial dengan masyarakat. Masa kita mau bilang “Maaf saya nggak boleh meminjamkan program ini, karena lisensinya cuma buat saya seorang!”, ketika ada tetangga yang membutuhkannya. Untuk kondisi sekarang memang dilema bagi orang yang memahami hak dan kewajibannya sebagai pengguna perangkat lunak proprietary, termasuk buku-e ber-DRM

      Yang kita bicarakan bukan soal harga, tapi soal kebebasan/kemerdekaan yang positif. Minimal kita merdekakan diri kita sendiri dulu, dengan mencoba dan berusaha maksimal

      Akan berbeda antara orang yang dari awal sudah memikirkan solusi yang memerdekakannya dengan yang “Udah beli saja” atau “Udah pakai yang proprietary saja”

      Btw, sepertinya kita perlu mempelajari psikologi dan cara berkomunikasi agar dapat mengajak manusia dengan cara yang baik/hikmah

      Balas
  2. za

    Teknologi memang bebas nilai. Masih ingat botol coca cola yang jatuh di tengah gurun Afrika kan? Saya lupa judul filmnya.

    Di sini lah yang menarik. Bagaimana perlakuan terhadap botol ini menjadi begitu berbeda. Hal yang sama dengan teknologi.

    _renungan tingkat awal kuliah_

    Balas
      1. za

        Itu dia judulnya! Betul kan, bisa jadi tablet di belahan dunia lain digunakan untuk membaca, di belahan bumi lainnya digunakan untuk bermain, sementara di belahan bumi lainnya untuk melukis.

        Terkadang, fenomena ini tidak perlu dihakimi, benar/salah.

  3. sangprabo

    Dulu, saya punya pengalaman make modem merek tertentu. Di Windows lancar, di Mac apalagi. Di Linux, sampe paket gratisan 3 bulannya habis, oprek2 abis waktu, itu modem buat konek aja nggak bisa. :))

    Jadi menurut saya masing-masing ada porsinya. Simple approach sajalah. Kalau dirasa lebih bisa memberi manfaat kalau pakai software merdeka, ya pake. Tapi kalau harus ada cost dan setelah dihitung-hitung tetap menguntungkan pake proprietary, ya mending rogoh kocek (daripada nasib terkatung-katung mengharapkan ada yang bantuin atau waktu dan tenaga habis untuk ngoprek).

    Nggak seneng juga kan sama yang “taklid buta” alias hanya senang pada brand tertentu semata?

    Balas
    1. stwn Penulis Tulisan

      Pertama, kenapa dari awal dirimu tidak mencari modem yang didukung dengan baik oleh Linux? Kedua, kenapa dirimu tidak sabar dengan menerima (karena sudah terlanjur beli) dan terus berusaha untuk mencari solusinya?

      Ada orang yang berpikir panjang, jauh ke depan, atau bahkan melebar. Dan ada orang yang belum sampai berpikir ke sana. Ingat bo, jalan ke surga itu tidak penuh dengan bunga-bunga :D

      Kemudian, apa yang dirimu maksud dengan “taklid buta”? apa saya berbicara tentang merek-merek tertentu?

      Balas
  4. sangprabo

    Perkara modem hanya 1 dari sekian banyak masalah umum yang dihadapi pengguna Linux, yaitu soal kompatibilitas. Dengan sibuk memikirkan bagaimana caranya menggunakan sebuah alat, maka ada waktu dan tenaga yang hilang. Walau tidak keluar biaya, kita sama saja kehilangan resource yang bila “diuangkan” juga sangat berharga.

    Memang, dalam rangka oprek-mengoprek itu mungkin ada pengalaman/teman/pengetahuan yang kita dapatkan. Tapi, kalau boleh saya ibaratkan, ini adalah investasi jangka sangat-sangat panjang yang belum tentu tahu kapan balik modalnya.

    Misalnya kita punya pilihan untuk riset yang “biaya”nya Rp 1 juta, maka produktivitas naik 50%. Namun ada alat yang bila kita beli dengan harga Rp 250ribu, maka produktivitas naik 25%. Dengan biaya seperempatnya, saya mendapat hasil separuh (profit), dibanding harus menunggu lama.

    “Taklid buta” adalah memakai kacamata kuda dengan tidak mengindahkan adanya solusi lain yang mungkin merupakan simple approach, pendekatan yang lebih sederhana. Alias hanya tertuju pada software bebas terbuka. Jika tidak bebas terbuka, tidak mau pakai?

    Saya setuju sekali dengan ini

    “Tentu saja kita merdeka untuk memilih mana yang memberikan nilai positif dalam kehidupan. Mari berusaha semaksimal mungkin untuk memakainya.”

    Balas
    1. stwn Penulis Tulisan

      Kita memang berbeda kacamata, bo. Kacamatamu isinya angka-angka begitu :D

      Taklid buta setahu saya adalah membeo, mengikuti suatu hal tanpa ilmu dan bashirah

      Dua paragraf terakhir itu maksud saya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakan solusi yang memberikan kemerdekaan baik perangkat keras, perangkat lunak, dan konten

      Kalau memang terpaksa, karena solusi merdekanya belum ada, contoh sebagian firmware perangkat nirkabel, maka ya kita gunakan yang ada secukupnya dan sewajarnya saja. Dengan tetap terus mencari dan berusaha untuk menemukan solusi merdekanya. Terus mencari nilai positif yang benar-benar positif

      Mungkin saya terkesan mendorong sekali orang menggunakan solusi merdeka ya? Tujuannya, supaya kita tidak lupa, tidak keenakan, tidak manja, tidak malas. Kita perlu terus berjuang dari awal sampai akhir, karena jalan masih panjang

      Lagi-lagi, semuanya itu pilihan, Bo. Saya cuma mendorong diri saya sendiri untuk terus mencari solusi sarana/alat yang merdeka, memanfaatkannya, dan menyampaikan hal ini

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s