Lulusan SMK

BogowontoSuatu ketika saya menaiki kereta menuju Purwokerto dari Stasiun Pasar Senen, setelah mengikuti Konferensi CC AP 2012. Sebelum naik di detik-detik terakhir kereta berangkat, terus terang saya mengalami kejadian yang dramatis dalam mengurus tiket yang “bermasalah”. Alhamdulillah semua akhirnya beres. Terima kasih kepada mbak layanan pelanggan dan mas polisi yang berjuang dari awal sampai mengantarkan saya ke gerbong kereta.

Saat itu hari Minggu, penumpang di stasiun banyak sekali, jalan saja susah, sehingga perlu “bermanuver”, atau keluar dari jalur keramaian. Saya menaiki gerbong ketiga dari depan lokomotif kereta ekonomi AC Bogowonto. Nomor tempat duduk 11D, kebetulan dekat dengan jendela. Sambil terengah-engah setelah kejadian tadi, saya melingkarkan sweter di leher untuk mengurangi pegal karena posisi tempat duduk kereta hampir 90 derajat.

Saya bertanya kepada seseorang di depan saya, setelah sedikit melakukan obrolan kecil, “Nyaman mana kereta ini sama bisnis, Mas?” Nyaman bisnis, bedanya cuma di AC, tempat duduknya lebih lega dan bisa selonjor, ujarnya. Ia adalah seorang laki-laki muda seumuran dengan Andri, teman saya di Bandung. Kira-kira kelahiran tahun 1989. Ia mengaku orang DAMRI, dan akan berlibur ke Jogja, walau cuma sehari untuk bersantai. Senin itu Ia libur.

Ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai teknisi, ada beberapa bagian di sana, dan Ia sendiri adalah karyawan paling muda. Tiga tahun sudah Ia di Jakarta, merantau dari tempat kelahirannya, Brebes. Saya tanya “Enak tinggal di Jakarta?”, “Ya mau gimana lagi?” jawabnya, sambil tertawa agak getir dan menambahkan dengan komentarnya tentang ibukota yang saya kira mirip dengan komentar sebagian orang yang tinggal di sana. Benci, tapi rindu.

Saya menimpali “Kenapa tak pindah ke Jogja? Kan sering pergi ke sana?”. Ia mengungkapkan kesempatan ada dan bisa, cuma pemasukannya yang lebih kecil daripada di Jakarta. “Lho, kan kalau di Jogja pemasukannya lebih sedikit tapi pengeluarannya juga lebih sedikit?”, kata saya. “Iya sih, tapi kalau di Jakarta banyak bonus, karena lebih ramai, rute ke Bandara, dkk.”, belanya. Saya cuma tersenyum, kemudian memunculkan cerita “Saya punya teman, seumuranmu. Sama-sama lulusan SMK, sama-sama praktik kerja dulu, kemudian ditarik oleh tempat praktik kerja sampai sekarang. Dia malah dikuliahkan lagi.”

Saya kemudian teringat saat Andri datang dulu, setelah diwawancarai pak Adi, dan mungkin diantar Zaki? Ia diminta alias disuruh benerin komputer yang rusak sama si Yudhie. Setelah waktu berlalu, melalui berbagai macam sesi perpeloncoan Ia mulai diminta untuk membantu saya, semacam asisten begitu, walaupun saya asisten juga. Berarti asistennya asisten. Semakin lama kemampuannya meningkat, pesat, sampai sekarang. Terakhir di sana, saya menganggap Ia sebagai tandem.

“Lulusan-lulusan SMK jarang sepertimu dan Andri, yang punya kemampuan dan kemauan”, ungkap saya. Ia menimpali “Nggak begitu mas, mujur juga saya. Teman saya yang pintar di sekolah, dari lulus sampai sekarang belum kerja juga”. “Sampai sekarang?”, tanya saya. “Iya. Ya cuma di rumah saja”, jawabnya. Saya berkomentar iseng “Mungkin belum ketemu jodohnya”. Ya, seperti jodoh begitu, katanya.

Dalam hati saya berkata, kalau pekerjaannya tidak bagus kenapa orang-orang seperti Ia dan Andri masih dipertahankan? Malah diberi fasilitas dan disekolahkan? Pasti kerjanya bagus, pasti Ia berusaha, karena ada teman Andri yang lain, panggil saja si C, masuk untuk praktik kerja dan ternyata kurang bagus kinerjanya. Kurang rajin masuk dan berkoordinasi, diminta ngoprek ini agak lambat, dst. Bisa jadi Ia kurang suka dengan bidangnya? Kurang cocok? Kurang minat? Mungkin yang Ia cari bukan di sana? Di tempat lain? Bisa jadi. Bisa jadi si C juga kurang berusaha saja.

Ia cerita pula bahwa Ia sempat diminta mendaftar sekolah di Toyota atau apa begitu, kemudian karena tingginya kurang, Ia tidak lolos. Mungkin Ia hanya masih muda saja. Paling 2-3 tahun lagi bisa, tinggi sudah bisa bertambah. *optimis*

Saya lalu berpikir, sepertinya memang kemampuan dan kemauan dalam arti berusaha atau berjuang gigih dalam bekerja, serta mau belajar jadi bekal yang ampuh di dunia kerja. Selain itu kesempatan, berapa banyak orang-orang seperti Ia dan Andri yang potensial tapi tak memiliki kesempatan bersentuhan dengan dunia kerja?

Selain itu memang semuanya kembali ke kehendak yang di atas, kita manusia yang perlu berusaha dan berjuang (keras). Saya jadi ingin tahu, bagaimana cara mempertemukan antara lulusan-lulusan SMK ini dengan dunia nyata, tempat mereka belajar, agar mereka dapat berkontribusi dan berkarya di dalamnya? Apalagi jika sekolahnya tidak pintar dalam menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain.

Saya kira ketika kita punya kesempatan bertemu dengan lulusan-lulusan SMK, yang harapan dari sebagian orang tua mereka adalah bekerja, mari mencoba menggali potensi-potensi mereka. Coba diminta X, kalau kurang bagus kinerjanya diubah menjadi Y, kalau masih kurang bagus Z. Barangkali mereka punya ketertarikan di sebuah bidang atau topik yang mereka sendiri belum tahu.

Tentu saja, bekal yang harus ada di diri mereka sendiri adalah kemauan untuk berusaha dan belajar, kemudian berkomunikasi. Kalau tidak, ya siapa yang mau mencari dan menggali bakat minat mereka, sedang “orang gila” itu sedikit?

* Gambar kereta Bogowonto oleh DhimazNF, lisensi GNU FDL 1.2.

Iklan

10 thoughts on “Lulusan SMK

  1. za berkata:

    SMK, Bisa!

    Ya Wan, orang-orang yang memiliki potensi besar baiknya diberi arahan dan juga tantangan agar terus berkembang.

    Di kereta ekonomi masih ada yang jualan nasi yang hangat terus gak? :D

    • Tergantung orang dan tempatnya, bo. Dilihat dulu

      Tapi, kalau misal kita tidak membedakan sumbernya, kita hanya menmpersyaratkan tadi: kemauan untuk berusaha dan belajar, kemudian berkomunikasi, maka dari manapun Ia berasal, Ia akan bisa berkembang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s