Jalur Komunikasi Alternatif

Kita sering mendengar ungkapan “Ketika menghadapi jalur (utama) yang buntu, gunakan jalur alternatif”. Jalur alternatif, pada komunikasi, seperti namanya hanya sebagai pilihan saja, tapi kenyataannya banyak pula manfaatnya terkhusus dalam kondisi genting, sehingga menjadikan jalur alternatif tersebut “jalur utama” saat itu.

Kondisi darurat, kacau, dan tak menentu membuat kita perlu mencari cara untuk mengambil jalur lain, jalur alternatif, untuk menggerakkan diri dan masyarakat minimal untuk mencari tempat berlindung sekaligus meminta pertolongan pada tetangga kanan-kiri yang dekat dari tingkat RT sampai internasional.

Bisa pula jalur alternatif digunakan pula dalam strategi menyerang dan bertahan dalam peperangan, tentu bagi yang berperang. Bagi seorang jurnalis, jalur komunikasi alternatif digunakan sebagai media untuk mengirimkan informasi-informasi yang penting dan perlu bagi masyarakat dunia, supaya mereka mengetahui kejadian, tren, dan masalah yang muncul, sehingga mereka dapat melakukan sesuatu. Minimal mereka mendapat informasi yang obyektif[1] dan adil.

Kejadian baru-baru ini dan beberapa waktu yang lalu menunjukkan bahwa kita perlu menyiapkan dan memanfaatkan jalur-jalur komunikasi alternatif untuk mendapatkan serta menyampaikan informasi. Dengan teknologi informasi dan komunikasi hal ini mudah dilakukan, tentu saja jika jalur utama pada infrastrukturnya tersedia, tidak disadap, atau tidak dimatikan oleh rezim yang berkuasa.

Walaupun negara kita tidak sedang konflik besar-besaran, rasanya menarik pula kalau kita bisa mendapat manfaat dari bagaimana komunitas di dunia dan dukungan mereka kepada masyarakat di negara seperti Mesir, Libya, dan Palestina memanfaatkan jalur alternatif dari teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam sebuah tulisan “How to Remain Connected If Your Internet Gets Shut Off“, disebutkan bahwa kita perlu menyimpan perkakas teknologi jadul yang sudah jarang digunakan seperti modem dial-up dan mesin faksimile. Kita bisa gunakan modem dial-up untuk menyambungkan diri ke Internet/web melalui nomor internasional yang disediakan oleh komunitas di dunia, salah satunya Telecomix.

Kenapa harus menyambung ke nomor internasional? karena umumnya pada situasi konflik penyedia-penyedia layanan Internet lokal pada kasus negara-negara tersebut dimatikan, atau mendapat ancaman dimatikan. Di sisi lain orang-orang yang mengakses dan mengirim informasi juga perlu sadar bahwa banyak kemungkinan apa yang mereka lakukan direkam, disadap, atau dimodifikasi/dialihkan.

56Kmodem by Razor512 (CC BY)Setelah membaca salah satu poin dari tulisan tersebut, saya jadi teringat kalau saya masih punya modem 56K eksternal dengan chipset Rockwell, kapan-kapan akan saya coba, kalau-kalau lingkungan/negara kita dalam kondisi gawat darurat :D

Teknologi lain yang menarik dan dapat digunakan pada situasi yang tak menentu adalah OpenBTS, dan jaringan mesh. Untuk OpenBTS kita perlu merogoh 15-25 juta per buah, belum penguat sinyalnya, walaupun sebenarnya masih jauh lebih murah daripada BTS biasa. Untuk yang kedua, jaringan mesh ini yang paling mungkin dioprek jika kita tidak mau repot dengan perangkat tambahan seperti USRP dan penguat sinyal di OpenBTS.

OLPC XO by Anton Olsen (CC BY-NC)Terus terang dulu saat semuanya indah saya tertarik dengan jaringan mesh ketika tahu bagaimana hal ini diterapkan di OLPC yang menggunakan Linux sebagai sistem operasinya.

Saya melihat kasus di lingkungan minim infrastruktur listrik dan komunikasi, bagaimana seorang anak kecil yang membawa perangkat OLPC dapat terhubung langsung dengan kawan-kawannya yang membawa perangkat OLPC juga, saling berkomunikasi misal mengerjakan pekerjaan rumah bersama dengan hanya memanfaatkan jaringan nirkabel dan mesh yang secara otomatis terhubung. Semua orang di sekitar anak itu akan muncul sebagai “ikon” pada aplikasi yang dibuka.

Jika salah satu anak terhubung dekat dengan jaringan nirkabel yang tersambung ke Internet seperti di sekolah, semua orang yang terhubung secara mesh dengan anak itu akan dapat mengakses Internet pula, dengan sistem “estafet” tanpa tergantung dengan perangkat anak lain yang ternyata mati, mungkin karena baterainya habis dan perlu diisi dengan diengkol.

Ini hanya contoh kasus yang dapat diterapkan pula pada pemilihan jalur komunikasi alternatif pada daerah-daerah konflik sebelumnya, dan dapat pula diterapkan pada daerah yang terkena bencana alam atau minim sarana prasarana komunikasi. Kita punya ponsel dengan perangkat nirkabel, kita punya laptop dengan perangkat nirkabel, kita punya router nirkabel dan perangkat jaringan nirkabel yang lain. Kita bisa memanfaatkannya dengan memasang/menanam fitur jaringan mesh, dan mencobanya. Atau, buka akses melalui perangkat nirkabel kita ke Internet.

Diri kita, sebagai manusia, akan selalu menjadi perute/router informasi bagi manusia yang satu dan manusia yang lain. Seperti yang tertulis di judul sebuah artikel oleh Shervin Pishevar: “Humans are the Routers“.

Sebagian besar, jika tidak mau disebut semua, komponen teknologi sudah tersedia tinggal bagaimana kita menggabungkannya, walaupun kata “tinggal” itu menurut Bapak kurang baik jika tidak disertai dengan aktivitas nyata. Dan yang terakhir, kita tidak dapat melakukannya tanpa kemerdekaan pada perangkat lunak dan perangkat keras yang kita miliki.

[1] Walaupun bisa jadi ada bias, karena ilmu dan pengalaman jurnalis tersebut

* Gambar 56Kmodem oleh Razor512, dan OLPC XO oleh Anton Olsen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s