Format ePUB dan DRM

Logo ePUBTadinya saya merasa senang karena Qbaca menggunakan format buku-e standar ePUB yang terbuka, tapi setelah dilihat-lihat lagi berkas buku-e yang terunduh tidak berekstensi .epub saja, tetapi mendapat tambahan .enc. Terenkripsi? Mungkin.

Berarti Qbaca menginginkan buku-e yang dibeli dan diunduh hanya dapat dibaca di perangkat lunak Qbaca. Padahal kita tahu bahwa Qbaca tidak stabil dalam kasus saya. Dan pada dugaan pertama saja sudah menunjukkan bahwa Qbaca ingin mengikat penggunanya pada aplikasi Qbaca, dan buku-e di sana dilindungi oleh enkripsi.

Saya langsung terbayang DRM, kata Stallman Digital Rights Mismanagement. Terus terang ketika Qbaca crash dan tidak berkutik, saya belum sama sekali membaca buku-e yang saya beli. Saya pun tidak mau menerima pengembalian uang pembayaran untuk buku-e tersebut.

Yang saya lakukan hanya mencari barangkali ada berkas .epub yang terunduh seperti yang ada di Aldiko[1], kemudian tentu saja saya impor ke Aldiko. Ternyata setelah dicari-cari yang ketemu adalah seperti yang disebut di paragraf awal, berkas dengan tambahan ekstensi .enc dan lain-lain.

Kalau kita mengunduh buku-e di Qbaca baik yang gratis atau berbayar, berkas cache dan buku-e yang telah diunduh akan tersimpan di dalam direktori Android/com.access_company.android.ai_qbaca_telkom, di bawahnya akan ada direktori cache, tmp, dan buku-e yang diunduh seperti GRAF_*, MZN1_*, dst.

Contoh di dalam direktori MZN1_* di ponsel saya ada berkas-berkas license, MZN1_*_.epub.enc, MZN1_*_.epub.enc_dat, MZN1_*_.jar, MZN1_*_.jar_dat. Dan ukuran terbesar ada di berkas berformat .epub.enc dan .jar. Saya mencoba mengekstrak berkas .jar, dan ditemukan dua berkas, yang pertama berkas bernama info_1_0_0.json, serta yang kedua berkas bernama dan berukuran sama dengan berkas MZN1_*_.epub.enc di atas.

Sudah saya coba ganti nama berkasnya ke .epub saja tidak bisa :d Kemudian saya pindahkan direktori com.access_company.android.ai_qbaca_telkom seluruhnya ke perangkat lain, Elf2, di tab Rak tidak muncul buku yang saya beli. Sementara saya nyerah dulu. Saya cuma ingin menunjukkan bagaimana pembatasan yang dilakukan, dan hal seperti ini tidak bagus. Serius.

Penggunaan format standar terbuka ePUB di Qbaca percuma karena hanya digunakan sebagai “media penampil” saja. Tidak membuatnya bisa dibuka di perangkat keras dan aplikasi apa saja asal mendukung format ePUB. Saya sendiri juga belum mencoba apakah bukutablet.com seperti ini juga.

Kita masih ingat kan bagaimana AMZN menghapus buku-e secara jarak jauh/remote pada perangkat baca Kindle yang sudah dibeli oleh penggunanya. Ini adalah salah satu contoh dari ketidakbagusan DRM.

Katanya mendukung pendidikan? Bukankah pendidikan tidak mengikat seseorang? Bukankah ilmu itu membebaskan manusia? Mana kemerdekaan? Mana keterbukaan? *berapi-api*

DRM-freeSaya kira perusahaan yang mau terjun ke bisnis buku-e dan konten kreatif di Indonesia perlu mengikuti O’Reilly Media, The Pragmatic Bookshelf, dkk untuk menghilangkan DRM pada buku-e yang diterbitkan, bila perlu penulis-penulisnya melisensikan bukunya di bawah Creative Commons.

Akhirnya, tulisan ini hanya dugaan komentar kecil pada Qbaca yang perlu dikonfirmasi pasti, selain itu sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi standar bebas dan terbuka pada buku-e yang mengikuti jalan yang lurus. Jalan yang benar, seperti yang sering diungkapkan pak Onno dengan “shirothol mustaqiim“.

Ada pertanyaan atau koreksi kebodohan saya?

Pemutakhiran 20121122: saya baru tahu ternyata konsep Qbaca dari awal memang sudah menyertakan DRM. Kalau saja saya tahu dari pertama :D Kata sebuah iklan, “kalau tidak kotor tidak belajar”.

Pemutakhiran 20121119: saya sudah melakukan konfirmasi ke Qbaca, dan mendapatkan jawaban yang dapat saya simpulkan: memang benar kita belum boleh memperoleh berkas .epub secara langsung. Implikasinya buku yang kita beli tidak dapat dibuka di aplikasi pembaca lain.

[1] Berkas .epub di Aldiko berada di direktori eBooks dan tersusun rapi

Iklan

4 thoughts on “Format ePUB dan DRM

  1. sangprabo

    Coba dilirik dari sudut pandang Qbaca. Mereka susah payah nyari penulis yang mau nerbitin buku di Qbaca, mungkin karena penulis tahu bahwa format e-pub tidak cukup aman, alias bisa “dibajak”. Tabiat masyarakat kita juga salah sih, selalu mencari gratisan walau haram. Tidak semua orang berpikir seperti stwn atau sangprabo, yang berusaha “merdeka”. Tapi menurut saya sudah bagus, awal yang bagus.

    Oia, ada 2 pertanyaan saya
    0. Kalau DRM Amazon itu toh tidak merugikan pelanggan yang sudah membeli buku, karena bisa dibaca di device non Kindle yang ada aplikasi Kindle. Mohon maaf kalau salah..

    1. Bagaimana industri percetakan menyikapi hal seperti ini? Bukannya ordernya bakal jadi sepi?

    Balas
    1. stwn Penulis Tulisan

      Kita sering hanya berpikiran praktis dan jangka pendek. Masalah kemerdekaan adalah masalah pilihan bo. Bagaimana caranya supaya orang memperoleh pilihannya dan tidak didikte bagaimana menggunakan, bagaimana cara membaca karya/buku-e yang sudah dibelinya, …

      Berhubungan dengan standar ePUB yang terbuka, kita menginginkan interoperabilitas bukan? Perangkat dan aplikasinya sembarang asal satu standar, bisa saling berkomunikasi satu sama lain, bisa dibuka di mana saja dan kapan saja, …

      Kalau buku-e yang dibeli hanya dapat dibaca di perangkat Kindle atau aplikasi Kindle saja ini berarti mengikat kemerdekaan “5W+1H” pengguna atau pelanggan yang sudah beli

      Saya membayangkan DRM pada buku-e seperti membeli buku tapi bukunya diikat dengan kawat 1 meter (panjangnya tergantung penerbit sih :d). Pelanggan hanya boleh membaca buku yang dibeli di depan kios, tidak boleh lebih dari 1 meter, tidak boleh mengajak teman, kalau duduk harus bawa pakai kursi punya kios sendiri, perlu pakai kacamata baca yang dibeli di kios, dst. Bandingkan dengan ketika kita membeli buku versi cetak biasa?

      Buku versi cetak bisa dibaca di mana saja, kapan saja, bagaimana pun caranya, bisa dibaca bareng di klub membaca, bisa dibaca sambil jumpalikan atau koprol, bisa dipinjamkan ke teman, bisa beli banyak kemudian dibagi-bagikan, bisa ditaruh di perpustakaan, dst.

      Di sisi lain bagi pelanggan atau calon pelanggan yang menghargai dan mendukung karya/buku dengan membelinya, akan merasa terhina jika DRM diterapkan. Kenapa? karena kita diduga atau diprasangkai buruk akan melakukan pembajakan kalau karya/buku yang diterbitkan dilepas begitu saja tanpa DRM

      Jadi ada sisi manusianya juga. Perlu ada data pula, berapa persentase yang membajak versus berapa yang membeli?

      Prasangka baik saya mengatakan, banyak orang lebih cenderung membeli buku asli daripada fotokopian, kecuali buku teks karena sebagian orang menganggap buku tersebut digunakan dalam jangka waktu yang pendek dan tidak Ia gunakan di masa mendatang

      Sebenarnya yang terakhir ini keliru, tapi ini kenyataan, jadi PR besar bagaimana kita bisa mendorong orang/mahasiswa untuk mengerti bahwa buku itu investasi, bagaimanapun bentuk dan tipenya

      Untuk pertanyaanmu yang nomor satu seperti yang diungkapkan di atas adalah kita perlu data dulu, yang pertama penjualan buku cetak biasa dan yang kedua penjualan buku-e, ditambah apa pengaruhnya ketika buku-e diikat dengan DRM atau dilepas, juga jika mungkin penggunaan lisensi CC apakah mempunyai pengaruh pula?

      Dugaan saya, kenapa penerbit buku-e pakai DRM dari awal adalah karena ketakutan mereka melihat fenomena pembajakan yang sebenarnya perlu dihitung jumlahnya, kemudian melawannya dengan metode bertahan/tertutup. Hal lainnya, mereka mengambil contoh model yang keliru. Yang akhirnya cara seperti ini tidak alami, anti sosial, dan tidak dapat menggantikan kebebasan kita saat membeli buku versi cetak

      Wah, malah jadi kiriman blog nih. Kayaknya memang perlu dituangkan dalam tulisan ini bo, banyak yang perlu diungkap. Nanti saya pakai jawaban ini untuk materi tulisan baru saja dan saya buat terstruktur :D

      Tentu saja jika Allah mengijinkan..

      Balas
      1. stwn Penulis Tulisan

        Ternyata sistem hak cipta kompleks juga. Barusan baca peringatan di buku “Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta … dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

        Kebebasan pada buku cetak yang saya ungkap pada jawaban di atas ternyata tidak sepenuhnya benar, karena menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual (lagi) tidak diperbolehkan

        Parah, seperti perpustakaan dan klub membaca bisa dibilang melanggar hak cipta kalau begitu?

  2. sangprabo

    Tapi kan harganya beda Mas antara yg printed sama yg digital? Tiada bisa disamakan kalau menurut saya. Artinya bila dilihat dari sisi pedagang buku, mereka harus mencari model jualan yg juga sesuai dengan harganya, dihitung modalnya berapa, dll..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s