Perjalanan ke Malang (5)

Acara Pertemuan KPLI selesai kalau tidak salah pukul 1 pagi. Kami semua kembali ke tempat peristirahatan sendiri-sendiri. Ada yang ke tempat penginapan, kos teman, kantor. Untuk rombongan dari Jogja dan sebagian yang lain akan tidur meninggali di ruang istirahat yang telah disediakan panitia. O iya sebelum keluar dari ruangan, saya sempat bertegur sapa dengan pak Utian, sambil bergurau tentang analogi air dan Software Merdeka.

Kebetulan tempat untuk merebahkan badan terbatas. Banyak orang “malang melintang” di karpet-karpet yang ada di ruang istirahat. Karena itu saya, Agasi, dan Estu memutuskan untuk tidur di musholla kampus STIKI Malang. Estu membawa kantung tidurnya yang pada akhirnya hanya Ia gunakan sebagai bantal atau selimut.

Saya tidur dengan bantal dari tas ransel yang saya bawa, dan di samping “tempat tidur” saya ada meja kecil yang sepertinya digunakan untuk belajar atau rapat. Di sebelahnya lagi ada rak buku. Udara cukup dingin sehingga kami harus menutup pintu musholla. Walau begitu, ventilasi di bagian atas masih terbuka, jadi udara malam pun masih leluasa masuk menggigiti tubuh-tubuh kami.

Alhamdulillah kami tidur dengan sukses. Paginya saya bangun dan langsung membuka laptop untuk menulis atau yang lain. Berbekal hotspot jinjing dari ponsel, saya terhubung ke Internet. Kemudian menjelang fajar, saya diajak Agasi untuk sholat shubuh.

Agak siang kami kembali ke ruang istirahat untuk berkoordinasi acara kami selanjutnya. Kami tidak ikut Pertemuan KPLI lanjutan (memang ada?), dan berencana ke Batu untuk sekadar bertamasya sebelum pulang. Kami memutuskan akan berangkat pukul 8. Sejenak muncul panitia mengajak para kontingen untuk ikut ke Jalan Ijen karena di sana ada Hari Bebas Mobil dan pasar dadakan seperti Sunday Morning di UGM.

Sejurus kemudian saya langsung mengiyakan untuk ikut, padahal kemarin sudah ke sana. Saya ingin tahu saja seperti apa suasananya, sambil menunggu teman-teman lain berkemas. Saya hanya titip pesan, kalau semua sudah siap kirim pesan singkat saja. saya akan langsung kembali dan kami segera berangkat. Paling cuma ~1 jam.

Sampai Jalan Ijen pas di Boulevard, diantar boncengan dengan panitia. Setelah parkir dan menunggu teman-teman lain yang dijemput, kami berjalan-jalan di pasar kaget di sebelah timur. Padat sekali. Kami, kaum laki-laki memutuskan untuk memotong ke kanan di jalur pasar kaget menuju keluar. Ternyata rombongan juga berkumpul pula tepat di depan tukang jual sate “cilok” atau sejenisnya. Sebagian beli, dan hasilnya dimakan bersama.

Museum Brawijaya Museum Brawijaya Museum Brawijaya

Muncullah pesan singkat dari Estu, saya dan seorang panitia pamit untuk pulang ke kampus STIKI Malang. Sampai di sana, ternyata semua sudah siap kecuali Agasi, Ia sedang tidur di musholla dan belum dibangunkan! Kurang koordinasi. Terpaksa saya turun dan memintanya segera bersiap-siap. Lama juga Ia di kamar mandi, kami menunggu dengan sedikit jenuh, sepertinya Ia boker juga :D

Akhirnya, kami berangkat ke Terminal Landungsari, sebagai tempat transit menuju Terminal Batu. Berdasarkan kode Estu, kami tidak naik langsung angkot yang menuju Batu. Kami menunggu sebentar dan pergi keluar terminal, sampai akhirnya ada angkot yang mendekat. Tawar menawar, pas, tancap gas.

Perjalanan cukup menyenangkan dan ramai, udara agak sejuk, serta jalanan penuh dinamika pula, belok, naik menanjak. Saat tanjakan yang cukup curam, saya agak khawatir juga kalau angkot ngglundung, wong yang naik banyak banget, penuh. Kebetulan, Abrao duduk di bagian depan, Ia sepertinya menikmati pemandangan bersama pak sopir yang ternyata orang Timor juga. Akrab.

Sesampainya di Terminal Batu, kami ditanya mau ke mana, kami bilang ke Jatim Park 2. Sopir menawarkan untuk mengantarkan kami ke sana, karena cukup dekat dari terminal. Sampailah kami di tujuan, dan terpesona dengan bermacam bangunan artifisial. Ada tempat penginapan yang dinamakan Pohon Inn. Ada Parthenon palsu, dan Batu Secret Zoo.

Pohon Inn Parthenon Palsu Batu Secret Zoo

Paling tidak itu yang kami lihat. Kami tidak masuk ke dalamnya. Kami hanya berfoto ria dan melihat-lihat saja. Semacam “check in” saja di Foursquare. Setelah puas dengan hanya di depan Jatim Park 2, kami menuju ke luar arena dan makan siang bersama. Saya memilih rawon, enak banget! Apalagi dikelilingi teman-teman yang baik hati dan tidak sombong.

Setelah selesai makan, kami memilih berjalan kaki ke Terminal Batu. Mampir di pasar yang kebetulan di depan terminal tersebut untuk membeli apel. Selesai, kami segera bersimpuh di sebuah masjid kecil tapi bagus di dekat terminal. Jamaahnya ramai. Keren deh. Setelah itu kita cabut menggunakan bus Puspa Indah melewati jalan-jalan berkelok yang belum pernah kami lewati sebelumnya, menuju Jombang. Pulang.

Iklan

2 thoughts on “Perjalanan ke Malang (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s