Perjalanan ke Malang (3)

Kantin di belakang kampus STIKI Malang yang kami singgahi ternyata lumayan “klasik”. Dibangun dari kayu, berbeda dengan kampus di depannya. Setelah meletakkan tas ransel dan barang bawaan yang lain, kami bertemu dengan ibu kantin. Saya memulai pertanyaaan dengan “Menunya apa saja, Bu?”. Dijawab dengan beberapa jenis makanan. Saya pesan pecel, dan sebagian besar kawan yang lain pun mengikuti. Abrao bertanya-tanya “Pecel itu seperti apa?”. Saya memilih tersenyum saja.

Sambil menunggu makanan tiba, kami berdelapan duduk berhadapan dan ngobrol, ada pula yang membaca koran, juga ada yang bermain ponsel. Seperti biasa, yang datang dulu adalah minuman. Teh hangat, es teh, dan jeruk hangat dapat dinikmati langsung. Yang menarik di sini adalah ada colokan listrik di sisi utara meja panjang yang kami hinggapi hadapi, jadi bisa sekalian mengisi daya ponsel kami.

Saya duduk berhadapan dengan Agasi yang membaca koran, kemudian Sam kalau tidak salah duduk sebelah kanan saya. Saya lupa ngobrol apa, tapi ada topik menarik yang kami bicarakan. Setelah selesai makan, kami segera kembali ke ruangan istirahat kontingen KPLI yang ternyata pintunya sudah terbuka. Walau tidak ada pendingin ruangan, udaranya tidak panas.

Barisan KursiWaktunya mandi. Kami bersiap-siap membawa peralatan mandi dan mencari kamar mandi, tentu saja, bukan kamar tidur. Di luar Gedung A tidak ada, di lantai 1 ada. Dua kamar mandi, serta 1 tempat pipis berisi 3 slot dan 1 wastafel. Ternyata saya dan Estu bertemu dengan Ayu dan pak Ade dari KPLI Bogor. Kami ngobrol di depan kamar mandi, sambil saling menunggu giliran mandi. Kebetulan aliran airnya kecil, jadi perlu dihemat.

O iya saya ingat, saat di bus Menggala, Eka tanya saya asli mana. Ia menebak dari sini-sini saja, alias Jatim. Salah besar men, saya orang Jateng. Demikian pula dengan tebakan Ayu ketika bertemu, Ia memanggil dengan nama lain, saya jawab “Bukan!”. Saya kemudian menyebut nama depannya, supaya Ia malu, bahwa orang yang namanya Ia lupakan ternyata mengingat nama depannya. Haha.

Singkat kata, kami semua sudah mandi, dan mulai ngumpul di ruang istirahat KPLI. Beberapa kontingen sudah datang seperti dari Bekasi, NTB, dll. Kontingen terpisah dari Jogja yakni KSL UPN datang pula dengan kurang lebih 5-6 orang menggunakan mobil sendiri.

Kaki dan RanselKami berdelapan bengong karena tidak ada kerjaan selain duduk, tidur, bermain ponsel dan laptop. Saya berdiskusi dengan Agasi bagaimana kalau kita jalan-jalan. Estu setuju. Sam, Obet, dan Abrao pun setuju pula. Setelah mencari referensi lokasi yang mungkin dikunjungi dalam waktu mepet, ketemu Jalan Ijen dan Jalan Toko Oen. Kami memutuskan untuk ke Jalan Ijen karena pertimbangan dekat dan dapat ditempuh dengan jalan kaki, tanpa menimpulkan cidera tentunya.

Jalan Ijen kemungkinan adalah salah satu jalan besar di Malang, yang terbagi dua oleh pembatas jalan bertaman dan pada banyak tempat berisi pohon Palem Raja. Kebetulan kami sampai di pertengahan jalannya. Ketemu semacam benda-benda bersejarah seperti Tank dan persenjataan jadul kuno yang beberapa di antaranya dipajang di sisi kanan jalan kalau kita bergerak dari arah utara. Belakangan diketahui ternyata itu adalah Museum Brawijaya.

Pohon Palem Raja Jalan Ijen, Malang Jalan Ijen, Malang Jalan Ijen, Malang

Menurut teman Estu, Jalan Ijen adalah tempat banyaknya bangunan berarsitektur Belanda yang relatif tetap dijaga bentuknya dan dilestarikan. Memang benar, ditambah dengan banyaknya pepohonan tinggi selain Palem Raja, membuat perjalanan dengan kaki kami lebih nyaman dan dapat dinikmati, apalagi dengan trotoar yang lebar dan bersih.

Dari perpotongan Jalan Retawu dan Jalan Ijen[1] kami bergerak ke utara sampai di Jalan Pahlawan Trip. Di sana ada semacam tugu kecil bertuliskan pesan para pelajar trip. Persis di depan tugu kecil itu ada gereja besar dengan arsitektur yang senada dengan corak bangunan di sana. Kami berjalan kembali sampai ke Monumen Pahlawan Mayor Hamid Roesdi dan memutuskan untuk beristirahat dengan duduk di depan Poltekes seberang monumen tersebut.

Pesan TRIP Jatim Ruas Jalan Ijen Pohon di Jalan Ijen Simpang Balapan

Kami sempat mengambil gambar dan video, seperti halnya dua orang yang ada di dekat monumen. Dan juga kami perhatikan lalu lintas di dekat situ tidak teratur, bagaimana mungkin kendaraan yang memutari monumen bertemu berhadapan dengan kendaraan lain dari utara Jalan Ijen, belum lagi lalu lintas dari sisi selatan? Bisa-bisa ditabrak dari utara dan diseruduk dari selatan. O iya ternyata lokasi ini dinamai juga dengan Simpang Balapan. Mangkane kok pada balapan..

Setelah beristirahat cukup, kami melanjutkan perjalanan sampai di pertemuan Jalan Ijen, DI Panjaitan, dan Jalan Bandung Simpang Ijen yang bersisian dengan Jalan Jakarta. Di sana kami mencari tempat sholat untuk asharan, telat. Hari sudah cukup sore, mungkin sekitar pukul 16.30. Ketemu musholla agak mblusuk, tapi tak terurus dan tempat wudhunya tak tahu entah ke mana. Kami mencari lagi dengan menyusuri Jalan Simpang Ijen ke barat sedikit, ketemu Universitas Muhammadiyah. Tanya satpam dan segera kami sholat berjamaah. #uhuk

[1] Saya menebak daerah ini yang dinamakan Ijen Boulevard, benar?

Iklan

2 thoughts on “Perjalanan ke Malang (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s