Perjalanan ke Malang (2)

Setelah berhasil memasuki Terminal Bungurasih, masuk kemudian belok kiri, kami mencari bus cepat terbatas menuju Malang, yang kata orang banyak jumlahnya. Ketemu dengan bus Menggala, langsung naik, beberapa kursi masih kosong, cukup untuk kami berdelapan. Jejer dua-dua. Saya dan Eka memilih duduk di kursi agak belakang.

Tempat duduk dekat jendela memang lokasi strategis ketika menaiki bus, dan saya sebisa mungkin memilih untuk duduk di sana, agar bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Setelah menunggu beberapa menit, kursi penumpang (hampir) penuh, bus pun berangkat.

Perjalanan ke Malang dari Surabaya relatif biasa. Kesan yang saya dapat hanya jalan tol Surabaya-Gempol(?) dengan kanan-kiri berisi sawah, beberapa konstruksi baru jalan, juga baliho tempat wisata Jatim Park 1 dan 2. Ketika sampai di sebuah daerah yang sebelah kanan jalannya terlihat sebuah perusahaan air mineral Club, saya berkicau tentang ingatan saya akan analogi air dengan Software Merdeka (Free Software).

Seingat saya, dikatakan Software Merdeka itu seperti air yang bebas didapatkan di sumber mata air. Siapapun boleh mengambil, menggunakan, dan dapat pula memaketkan[1] kemudian mendistribusikan, dengan label harga atau tidak, ke masyarakat supaya mereka mendapat manfaat.

Yang terpenting, masyarakat punya pilihan untuk membeli dari orang/perusahaan “pemaket” air mineral, atau boleh sekali mereka mengambil sendiri dari sumbernya. Bahkan mereka dapat memaketkan dan menjual hasilnya seperti perusahaan air dalam kemasan tersebut. Masyarakat punya kendali. Dengan syarat, air digunakan secara bebas, adil, dan mempertimbangkan lingkungan hidup, agar air tetapi lestari.

Karcis BusKembali ke perjalanan, kami sampai Terminal Arjosari sekitar pukul 8 dengan waktu tempuh ~2 jam. Setelah turun dari bus, kami menuju toilet, karena beberapa orang mau ke belakang, selain itu karena kami ingin sedikit beristirahat dan kontak panitia untuk mendapat ancer-ancer menuju STIKI Malang, lokasi Pertemuan KPLI.

Setelah mengetahui arah mana yang harus ditempuh, kami menuju gerbang keluar terminal. Abrao sempat tertinggal karena ingin mencari makanan. Ia belum makan semalam. Dapatlah roti sisir yang dimakannya dengan lahap dan dibagi pula dengan yang lain. Saya tidak ikut makan, takut jatahnya habis.

Di luar terminal sudah ada angkot dengan trayek-trayek yang sudah ditentukan. Estu, sebagai pemimpin perjalanan, menanyakan pada seorang sopir angkot, kalau tidak salah AT, angkot yang melewati Jalan Raya Tidar. Setelah pasti, kami masuk angkot dan menunggu sebentar saja, karena angkot selanjutnya sudah datang dan ingin menggantikan posisi mangkal angkot yang kami naiki. Saya pikir cukup tertib juga angkotnya.

Singkat cerita, perjalanan dengan angkot cukup jauh juga, mungkin karena muter-muter kota. Kesan saya terhadap Malang, masih seperti dugaan saya sebelumnya, hanya saja udara dinginnya tidak seperti yang saya bayangkan. Jalanan di sana cukup ramai, padahal hari Sabtu.

O iya, ada kejadian yang lucu, seorang ibu-ibu ingin naik angkot, tapi ibu tersebut diantar dengan motor oleh (mungkin) suaminya. Mungkin karena terburu-buru dan kondisi motornya tanpa pelindung rantai, rok si ibu tersangkut.

Angkot kami menunggu (dan tidak membantu, begitu pula bapak pengantar) sampai ibu tersebut berhasil melepaskan roknya dari jeratan rantai/roda belakang motor si bapak. Saat ibu itu sudah naik angkot, kami tidak berkomentar atau bertanya apa-apa, karena kami tahu ibu itu pasti malu, dan juga kami tidak tahu malu karena tidak menolong atau memberikan dukungan padanya saat aksi pelepasan rok dilakukan. *opoiki*

Spanduk ILC 2012Setelah menempuh perjalanan “keliling kota” dengan angkot, sampailah kami di Jalan Raya Tidar, dan berhenti pas di depan STIKI Malang. Leganya hati ini. Kami turun, dan Estu membayar tarif angkot yang kalau tidak salah masing-masing orang 2500 rupiah. Semestinya 2000 rupiah saja ya?

Kami tahu acara Pertemuan KPLI bersamaan dengan Seminar Nasional yang diisi oleh Pak Onno dan Pak Rusmanto. Seminar sudah dimulai dan banyak orang di sana, jelas, minimal proses daftar ulangnya. Kami masuk gerbang, dan bertegur sapa dengan panitia ILC 2012, juga kontingen dari KPLI Semarang.

Gedung B, STIKI MalangDengan muka kucel dan penampilan seadanya agak tidak karuan kami naik ke lantai 2 Gedung A, STIKI Malang. Kami menanyakan keadaan dan agenda kegiatan ke panitia di sana, ternyata Pertemuan KPLI diadakan sore hari, setelah Seminar Nasional selesai. Kami memang tidak berminat ikut Seminar, karena ingin santai dulu, jadi kami mencari makan ke kantin di belakang kampus. Mau istirahat selonjoran tapi perut lapar, dan ruangan tempat istirahat kontingen KPLI sedang dicarikan kuncinya.

[1] Boleh kita sebut distribusi, distro, paket, atau kemasan?

Iklan

6 thoughts on “Perjalanan ke Malang (2)

  1. sangprabo berkata:

    Harusnya stwn mendapat teman baru di perjalanan. Apa bedanya perjalanan ini dengan perjalanan biasa? Kurang ada added value-nya kalau begitu.

  2. Hallo,
    Saya mau share nich siapa tau ada yg perlu info:
    Tgl 9 Mei 2013 saya berangkat dari Psr Senen (JKt) dgn kereta Kertajaya jam 14:10 kemudian tiba di Surabaya (Psr Turi) pemberhentian terakhir di SBY lewat jalur Utara jam 03:30.
    Karena tujuan saya ke malang maka saya naik taxi dari St Psr Turi ke St Semut ( surabaya Kota )Rp 20 Rb sesampai di St semut langsung beli tiket KA Penataran jurusan Malang tetapi ternyata jam keberangkatan pertama yaitu Jam 05 pagi telah habis dan saya beli jam keberangkatan ke 2 yaitu jam 07:10 dengan harga tiket Sby – Malang Rp 4000 rp tapi tanpa tempat duduk dan setelah berbincang bincang dgn penjaga pintu masuk diberi saran agar saya mencari gerbong terakhir karena disana biasanya ada tempat duduk kosong dan tidak perlu punya nomer tempat duduk yang pasti, tetapi setelah saya perhatikan ternyata gerbong tersebut adalah gerbong restorasi sehingga dengan hanya membeli sarapan serta minum dgn dana Rp 10 rb sudah dapat menempati kursi empuk plus dinginnya AC, maka tibalah saya di malang pada jam 10:30 kereta tertunda krn Loko keretanya terlambat datang. Menurut org-org yg saya tanyai perjalanan dr surabaya ke malang memakan waktu sekitar 3 jam.
    Nah itulah pengalaman saya jalan-jalan ke malang melalui surabaya. Semoga menambah wawasan pd teman-teman semua. Bye……….. ” Selamat berlibur “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s