Perjalanan ke Malang (1)

Perjalanan ke Malang, untuk mengikuti Konferensi Linux Indonesia 2012, dimulai tanggal 14 September, sore hari sekitar pukul 15.30 dari Purwokerto, setelah saya pulang dari kampus dan menyiapkan barang bawaan. Paginya saya ada pertemuan tentang kurikulum baru prodi, jadi rencana berangkat pagi atau siangnya pada hari itu tertunda sore. Tak mengapa, wong namanya juga kewajiban ya ditunaikan dulu.

Saya berangkat ke Malang melalui Jogja menggunakan bus kelas royal Efisiensi yang eksklusif. Sebelah saya seorang laki-laki dengan topi dan kacamata, masih muda. Saat saya sapa, sepertinya Ia tidak berniat untuk mengobrol. Ya sudah, pemicu obrolan tidak disambut, saya pun merengut mengerti dan melihat keluar jendela. Merenung.

Perjalanan ke Jogja lumayan lancar, Alhamdulillah. Saya segera menuju ke markas KPLI Jogja dengan kendaraan pengantar yang disediakan oleh bus. Walaupun tak benar-benar sampai atau melewati lokasi target, paling tidak saya terbantu karena tidak perlu repot mencari angkot dan mengeluarkan uang lagi. Hanya saja jarak tempuh dari tempat turun sampai markas kira-kira 1 kilometer. Lumayan kalau jalan kaki.

Sesampainya di markas KPLI Jogja, saya bertemu dengan beberapa orang dari Kelompok Studi Linux (KSL) universitas. Ada dari UPN, Amikom, El Rahma, dan UIN. Ngobrol sebentar, sholat, siap-siap, dan kami berangkat ke Surabaya sekitar pukul 22, menggunakan bus Sumber Kencono yang kini bernama Sugeng Rahayu.

Kursi Bus EfisiensiBus ramai dan penuh sesak, tapi kondektur bilang “nanti akan banyak yang turun di Solo”. Kami percaya saja, selain memang karena ada satu orang teman yang minta menggunakan bus ini. Kalau saya pribadi sih sering menggunakan Eka atau Mira, bukan nama orang.

Kami semua berdiri, tapi lambat laun penumpang turun, jadi satu per satu kami pun dapat duduk, walau terpencar. Abrao memilih bangku kosong di belakang supir, karena ingin melihat perjalanan dan asyiknya bus ini melakukan “manuver”.

Belakangan Ia menyesal karena ternyata bus ini tidak seperti biasanya. Kami pun menyadari, perjalanan dapat dikatakan relatif lambat sampai Surabaya. Tidak sesuai dengan spesifikasi bus yang kami kenal. Yang penting selamat saja.

Kami sampai Surabaya sekitar pukul 4.30. Setelah turun dari bus, kami menuju masjid untuk sholat subuh. Bergantian, ada yang sholat dan ada yang menjaga barang bawaan. Di sini cukup ramai, ya iya kan namanya terminal, Bungurasih alias Purabaya. Setelah semua sholat kami masuk ke dalam terminal, tanpa ada godaan dari calo apapun.

Iklan

2 thoughts on “Perjalanan ke Malang (1)

  1. sangprabo berkata:

    Hlo, bukannya memang lebih enak pakai Eka atau Mira? Tapi terakhir kali saya pakai Eka, dia nggak berhenti makan di Madiun (duh lupa, apa nama rumah makan yg gede banget itu ya?). Jadi tarifnya lebih murah. Kalau bis yg lain suka berhenti-berhenti ngangkut penumpang, jadi lebih lama.

    Ditunggu catatan perjalanannya yg seri 2

    • Memang enak pakai Eka, kalau Mira lumayan saja. Ya itu tadi, karena ada yang minta naik Sugeng Rahayu ya dilayani saja, sepertinya harapan mereka ingin cepat, tapi kenyataan berkata lain bo..

      Eka biasanya berhenti di rumah makan Duta, Ngawi. Mungkin karena sudah malam jadi tidak berhenti? :d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s