Tidak Sempurna

Kemarin pagi, saat naik motor kesayangan kita, terbersit beberapa hal mengenai ketidaksempurnaan diri saya. Baru nyadar? :D Tepatnya sih tersadar, banyak ketidaksempurnaan pada diri, yang seharusnya membuat saya tidak terlalu banyak menyerang, atau paling tidak seimbang dalam menyerang dan bertahan dalam kehidupan.

Bukankah yang menarik adalah dengan ketidaksempurnaan setiap manusia membuatnya sempurna jika mereka semua mau saling membantu, bersama, bergotong royong, saling mengerti dan memahami? Mungkin ini tujuan-Nya menciptakan manusia sebagai makhluk yang tak sempurna, seperti tujuan-Nya membuat mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa?

Kalau sempurna sih sudah di surga saja, jadi malaikat. Seperti penggalan surat yang dilayangkan Hasan Al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz, kurang lebih “Tidaklah Adam diturunkan ke bumi melainkan untuk mendapatkan hukuman”.

Jadi ingat penjara, lihat orang-orang yang terhukum, mereka makan bersama, bersaudara, saling membantu, walau terkadang terkacaukan oleh oknum yang berbuat kerusakan.

Kalau kita merasa banyak kekurangan, contoh kurang nasi, semestinya kita berusaha menambah makan. Dengan bijak, jangan sampai kekenyangan dan tidak bisa jalan. Jika kita kurang di bagian tertentu, usahakan perbaiki bagian itu, atau pilih bagian terkuat dari diri dan berikan perhatian pada bagian tersebut. Dengan bijak, tidak mengabaikan bagian lainnya.

Akhirnya, tinggal bagaimana kita bisa saling mengerti, sesama manusia, bahwa masing-masing kita tidak sempurna. Dan kesempurnaan ada ketika kita saling memahami, dan ada usaha bersama untuk saling membantu mewujudkan impian serta harapan kita masing-masing. *opoiki*

NB: bagi yang belum pernah bertemu stwn sejak 2009/2010, Ia semakin tidak sempurna saja. Bayangkan stwn memiliki hewan peliharaan ini, mereka mirip.

Kita dapat melihat ketidaksempurnaan sebagai sebuah keindahan kan?

Iklan

2 thoughts on “Tidak Sempurna

  1. sangprabo berkata:

    Boleh jadi “kesempurnaan” malaikat juga adalah ketidaksempurnaannya. Apa yang spesial dari makhluk yang melulu menyembah Tuhan, sudah pasti masuk surga pula. Nggak seru. Kurang menggigit. Kerenan kita Mas, manusia.

    Yang perlu dilihat juga, mungkin perbedaan “kekurangan” dengan ketidaksempurnaan. Kurang makan boleh jadi bukannya kurang sempurna, sebagaimana cukup makan bukan berarti sempurna. Tapi segala sesuatu memang takaran kesempurnaannya punya level yang berbeda-beda.

    Demikian Mas, wallahu a’lam. #tiru2Ustad

  2. Terima kasih atas masukannya bo. Kita memang sepertinya perlu menentukan skala ya

    Seperti yang pernah kita dengar, soal dunia lihat ke bawah, soal akhirat lihatlah ke atas. Kalau soal dunia, skalanya cukup, atau naik sedikit sejalan dengan kebutuhan. Kalau soal akhirat, skalanya harus terus naik secara signifikan. Begitu ya bo? Tapi kok saya merasa berat ya :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s