Mode Musafir

Apa sih yang bisa dibanggakan dari seorang musafir? Seseorang yang berada dalam perjalanan? Saya kira tidak ada. Harta tak dibawa, hanya sekadarnya saja. Rumah tak ada, hanya tempat istirahat sebagai jeda. Yang ada di kepala hanya bagaimana caranya sampai ke tujuan saja.

Ketika kita menjadi seorang musafir, seseorang yang asing, kita tak berharap banyak pada apapun. Kita berharap pada diri, amal, dan tentu saja dengan yang di atas. Kita hanya mempunyai tujuan untuk menunaikan hajat di sebuah daerah, mengumpulkan bekal, kemudian meninggalkan daerah tersebut untuk menuju ke daerah lain. Sampai suatu saat kita akan kembali ke kampung halaman.

Pertanyaannya, di manakah kampung halaman kita? Di sini masalahnya. Ada orang yang menganggap tempat yang Ia tinggali sekarang adalah kampung halaman, tempat menetap. Sehingga Ia banyak mengumpulkan banyak hal, merasa nyaman, berada di zona aman, mencukupkan diri dengan apa yang ada, bahkan melupakan target utamanya, untuk kembali ke kampung halaman yang sesungguhnya.

Jalan DesaIbuk pernah menanyakan kepada saya, “Sekarang sudah jadi orang Purwokerto ya?”. Saya hanya menjawab, “Belum tahu Buk, sekarang orang Purwokerto, nanti jadi orang Mountain View belum tahu nanti jadi orang mana lagi”. Ibuk berkomentar, “Lho kan sudah (pernah pindah) kemana-mana”. Maksud Ibuk, karena sudah tinggal di beberapa kota, kini saatnya menetap begitu.

Terus terang, saya belum merasa punya home. Jiwa ini belum mantap, masih labil. Beberapa kali saya ditanya “Kapan punya teman hidup?”, saya jawab “Belum tahu, tambatan hidup saya di kota lain saya masih suka main, suka jalan-jalan”. Kasihan keluarga nanti ditinggal-tinggal. Alesan.

Ngomong-ngomong, kita sebenarnya perlu mengkonfigurasi diri pada mode musafir dalam hidup. Sedapat mungkin semua hal yang kita lakukan sesuai dengan pertimbangan dan kebijakan mode ini, termasuk ketika mencari suatu kebutuhan atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Jika kita suka gajet, ketika akan membelinya, pikirkan dan pertimbangkan apakah gajet ini membantu perjalanan atau malah membebani? Ukuran besar, cuma bisa ditinggal atau dimainkan di rumah? ya mending ditunda dulu tidak perlu, apalagi kalau ringkih, kebanting-banting di jalan kan bisa repot. Contoh lain adalah baju, apakah jumlahnya sudah kebanyakkan? apa ada prosesi khusus saat mencuci misal harus dipisah atau cara menyetrikanya perlu hati-hati? dll.

Kalau kita masih ingat, bulan puasa kemarin sebenarnya mengajarkan pada kita mode musafir. Dalam hidup ternyata kita tidak butuh macem-macem. Sehari makan cukup 2 kali, sahur dan buka, itupun sedikit. Baru makan besar saja, perut sudah tidak muat. Keinginan saat siang besar sekali, tapi saat berbuka hilang, kecuali hanya minum dan makanan secukupnya. Jadi ingat pepatah Jawa, urip kuwi mung mampir ngombe.

Saya mengalami mode musafir beberapa kali, efeknya produktivitas meningkat, paling tidak ini asumsi saya :D. Ketika saya sadar saya akan pergi beberapa hari ke depan[1], ke luar kota, saya berusaha untuk menyelesaikan semua urusan di kampus, kos, dan sekitarnya. Mengingat banyak hal yang perlu disiapkan untuk bekal perjalanan, tiket, tempat menginap, kontak, agenda, sampai dengan memikirkan bagaimana caranya saat saya pergi semua aktivitas berjalan apa adanya, tidak kurang suatu apa.

Jadi, mestinya kita perlu menyimpan mode musafir ini supaya menjadi mode default. Disimpan di berkas /etc/default/musafir dengan variabel START=”yes”, agar saat diri di-boot di pagi hari langsung aktif modenya.

Semoga nggak lupa nyimpen.

[1] Apalagi kalau selamanya ya? :D

Iklan

9 thoughts on “Mode Musafir

  1. za

    Bepergian selalu menyenangkan. Mendatangkan satu cerita dengan seribu satu pengalaman. Sayang, karena keterbatasan kita tak selalu bisa bepergian. Menyirami rumput di pagi hari di tempat yang kita cintai bisa jadi hal yang menyenangkan.

    Balas
  2. stwn Penulis Tulisan

    Itu juga bepergian Zak, bepergian ke depan atau belakang rumah, paling tidak jauh dari kamar tidur boleh lah dibilang melancong :D

    Karena itu mode musafir perlu dimasukkan ke dalam konfigurasi firmware kita. Bukan nanti kita jadi selalu pergi-pergi, tapi secara internal kita punya konsep bahwa kita ini adalah musafir. #uhuk

    Balas
  3. sangprabo

    Ini kok jadi kelihatan bertentangan dengan postingan soal Ainol Novo7 kemarin?

    Mode musafir. Keren juga istilahnya :D

    Balas
    1. stwn Penulis Tulisan

      Karena itu jangan taklid buta pada orang bo. Lihat ilmunya, informasinya, dan juga metodenya, bagaimana dia mengambil ilmu :d

      Saya baru ingat, yang cukup sering menggunakan istilah “musafir” adalah mas Amal.

      Balas
  4. Ping balik: Thinkpad X200 « stwn.ngeblog.

  5. Ping balik: Pindah Meja Kerja | stwn.ngeblog.

  6. Ping balik: Nasib Seorang Musafir | stwn.ngeblog.

  7. ryan_oke

    Mode musafir harus diaktifkan selamanya, bahkan meski telah memiliki teman hidup dan sudah punya rumah atas nama sendiri. Jika tidak, hal yang remeh saja dapat menghambat karir.

    Balas
  8. Ping balik: Jangan Ganti Baju Dulu | stwn.ngeblog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s