Sepupu Saya

Dua minggu yang lalu, sepupu saya meninggal dunia. Usianya kalau tidak salah 30 tahun, sepertiga setengah umur standar orang sekarang. Tidak banyak yang mengira Ia pergi begitu cepat, tidak suami, tidak keluarga, apalagi orang tuanya.

Saya ingat dulu saat SMP sering berkunjung ke tempat nenek, kebetulan sepupu dan adiknya dititipkan di sana, jadi kami sempat bermain dan makan bersama. Apalagi ada juga om, tante, dan dua sepupu saya yang lain meninggali rumah tersebut.

Dulu saya pernah merakit sebuah radio FM mini, kemudian mencoba hasil rakitan dengan sepupu-sepupu saya itu. Mereka saya minta membawa radio ke belakang atau depan rumah nenek untuk mengujicoba apakah mereka mendengar siaran radio tunggal saya.

Saya berusaha untuk menjadi seorang penyiar radio! Dan lucunya saya tak ingat apa yang saya katakan saat itu, kesan saya: mengasyikkan.

Sekali waktu om terkecil saya datang mengunjungi nenek. Kami, atau hanya saya saja ya, memijat om saya itu dengan menginjak-injak punggungnya, dengan kaki. Terkadang sambil lompat-lompat :D

Waktu berlalu, saya dan sepupu saya tidak pernah bertemu. Saya hanya mendengar kabarnya dari keluarga saja. Ia telah menikah, dan saya tak datang di acara pernikahannya. Terakhir ketemu tahun kemarin, Ia beserta keluarganya datang ke rumah. Ia tinggal di Kalimantan, bersama suami dan satu anaknya.

Setahun kemudian, tahun ini, saya mendengar kabar bahwa Ia telah tiada. Penyebab kematiannya diduga tekanan darah tinggi atau pendarahan otak. Walaupun menurut keluarga, tidak ada sejarah tentang penyakitnya tersebut.

Cerita yang saya dapat, saat pulang dari jalan-jalan, Ia merasa pusing. Kemudian merebahkan diri. Sempat juga ada sesi pijat-pijatan, mungkin untuk meringankan pusingnya. Menjelang malam, suaminya meminta agar sepupu saya dibangunkan untuk makan malam, tapi Ia tak bangun. Koma.

Segera Ia dibawa ke rumah sakit. Bapak Ibunya sudah dihubungi dan segera terbang ke Kalimantan dengan tas berisi pakaian selama satu bulan. Tapi baru sampai bandara Soekarno-Hatta untuk transit, Bapak Ibunya mendapat kabar bahwa anaknya sudah meninggal.

Saya membayangkan, bagaimana sedihnya orang tua, terkhusus Ibunya yang dikabarkan masih teringat dan sering menangis sampai sekarang.

Mungkin tahun kemarin dirancang sebagai kunjungan terakhir silaturahminya dengan keluarga besar kami. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga sepupu saya diberikan kelapangan di alam kubur, diberikan rahmat, perlindungan, diterima segala amal ibadahnya, serta semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kesabaran. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s