Konsumtif

Saya punya keinginan, Anda punya keinginan, kita semua punya keinginan. Orang sudah paham bahwa keinginan beda dengan kebutuhan, tapi sebenarnya orang tidak begitu mengerti (secara sadar) yang pertama lebih mendominasi daripada yang kedua. Paling tidak menurut saya :D

Coba kita lihat apa yang kita punyai. Kita bisa bilang “saya butuh ini itu”, kemudian serentetan alasan dengan argumen dan fakta memperkuatnya, agar terlihat masuk akal atau keren. Agar orang tahu bahwa pilihan kita tepat, bahwa kita butuh, bahwa kita tidak boros, tidak konsumtif. Kenyataannya, bisa jadi kebalikannya.

Banyak keinginan dapat disertai dengan alasan yang dibuat. Sebenarnya kita perlu menghargai jika hal tersebut didukung oleh data, fakta, dan pertimbangan yang kuat. Hanya saja, bagaimana kita bisa tahu kalau keinginan kita bersembunyi di balik kebutuhan, atau memang keinginan muncul dari kebutuhan?

Jawabannya, tanyakan pada rumput yang bergoyang waktu saja, karena waktu yang bisa menjawabnya.

Jika kita butuh pada seseorang sebuah barang, pasti kita akan kehilangan jika barang tersebut tidak ada, secara nyata, bukan ilusi. Jadi konsep menyembunyikan barang-barang terlebih dulu kemudian mengambilnya satu per satu sejalan dengan waktu dan sesuai dengan kebutuhan kita, memang tepat.

Sekarang mari berpikir, kenapa orang sengaja membutuhkan barang, ingin membeli gajet, perkakas, dan lain-lain? Sering orang menyebutnya konsumtif, jika hal tersebut menjadi gaya hidup.

..sila berpikir, saya beri waktu 15 detik..

Jawabannya menurut saya adalah kita (merasa) kurang, (merasa) tidak lengkap, (merasa) tidak sempurna. Dan sebagian (besar) memang hanya perasaan saja[1].

Kita sering khawatir tidak sempurna jika tidak pakai jam tangan yang berwarna mencolok. Takut dibilang tidak gaul kalau tidak punya gaya rambut yang sedang ngetren. Bahkan di era informasi ini *opoiki*, kita khawatir ketinggalan berita. Semua kanal media diikuti, setiap detik memantau aliran informasi. Takut kalau dibilang kuper saat ngobrol dengan orang.

Kalaulah penting sebuah berita, pastilah akan sampai ke telinga kita.

Jadi untuk melawan gaya hidup konsumtif adalah dengan melakukan gaya hidup produktif. Melawan (perasaan) kurang dengan (perasaan) cukup. Melawan (perasaan) tidak lengkap dengan (perasaan) lengkap. Melawan (perasaan) tidak sempurna adalah dengan (perasaan) sempurna *lho!*

Susah kan? Iya, karena kita belum berlatih. Maka dari itu, berlatih setiap hari dan minum …

[1] Sila tulis komentar jika Anda punya jawaban berbeda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s