Kesan Kedua di Bandung

Setelah kesan pertama yang menggoda, berkaitan dengan suhu yang bisa mencapai 18 derajat Celcius kalau malam, selanjutnya saya mendapatkan banyak kesan lagi tentang Bandung. Kota yang dijuluki Parisj van Java ini memberikan pengalaman yang cukup berbeda dengan kota yang pernah saya tinggali.

Ada beberapa kesamaan dengan Jogja, seperti banyak kampus dan tentu saja mahasiswa, fasilitas dan infrastruktur lengkap, punya banyak tempat wisata, serta romantis. Dengan sentuhan dan gaya “industrialis”.

Kota ini dekat dengan industri, banyak kantor pusat perusahaan milik negara dan berbagai macam perusahaan berskala nasional, dan rintisan alias startup. Komunitas menjamur juga, dari teknologi hingga yang berbau kreativitas dan seni. Hanya saja menurut saya relatif tidak begitu “merakyat” seperti di Jogja.

Kota yang disebut Kota Kembang ini menurut saya kurang simetris dari sisi jalan dan posisi bangunannya secara umum, lihat saja ketika kita berjalan di satu sisi (AB) dan menuju sebuah lokasi di sisi lain (CD) melalui salah satu ujung sisi tersebut (misal A), jaraknya akan berbeda jika kita menyusuri ujung lain sisi tersebut (B), padahal seharusnya sama. Jadi terkadang kita perlu hafal jalan mana yang lebih dekat ke sebuah tempat daripada jalan lain yang kelihatannya sama dekat.

Seorang teman pernah berkomentar kepada saya, “Masak sudah di Bandung, nggak jalan kemana-mana?”. Memang benar, saya relatif tidak banyak jalan-jalan di kota ini. Bukan karena serius kuliah, tapi entah serius mikir apa :p Tempat yang saya kunjungi paling banter Tangkuban Perahu. Jaraknya kurang lebih 30 kilometer dari kota. Saya pergi ke sana dengan sepeda motor, boncengan, bersama seorang teman yang dipanggil “Si Bolang” oleh beberapa teman akrab. Kami masih saling bertukar pesan singkat untuk menanyakan kabar sampai sekarang.

Kopi Aroma oleh onlysenjaSelain Tangkuban Perahu, tempat yang beberapa kali saya kunjungi adalah pabrik/toko kopi Aroma di Jalan Banceuy[1]. Cukup terkenal karena kopinya memang dibuat dengan cara tradisional dan mungkin karena perlakuannya terhadap kopi berbeda sehingga menimbulkan rasa yang khas. Terdapat 2 jenis kopi yang ditawarkan, Robusta untuk rasa kopi yang kuat, dan Arabika dengan aroma yang menggoda.

Gedung Sate. Tempat ini juga dikenal orang karena arsitekturnya[2], tapi menurut saya kok biasa saja ya :p. Setelah wisuda saya sempat ke sana dengan sengaja bersama teman-teman kampus dan berfoto ria. Sebelumnya saya hanya lewat saja. Gedung Sate ini berada di depan Lapangan Gasibu, tempat banyak orang berkumpul, khususnya saat akhir minggu, atau juga saat pemilu.

Tangkuban PerahuKota Bandung cukup luas. Banyak jalan yang panjang, dan siap-siap saja jalan naik turun. Maklum daerah lembah, atau tepatnya bekas danau, yang dikelilingi gunung Parahyangan. Sebagian daerah ukuran jalannya lebih sempit. Kota ini menurut saya lumayan tidak teratur, dan macet kalau akhir pekan karena limpahan pengunjung dari ibukota. Salah satu perempatan utama di Bandung, di dekat BCA, Jalan Juanda/Dago dan Surapati, dulu menurut saya memiliki sistem lampu lalu lintas yang tidak beres. Masak lampu ijo semua untuk kendaraan yang saling berhadapan di perempatan?

Tempat lain yang ternyata menjadi biasa adalah Cihampelas, terkenal sebagai pusat jualan baju di Bandung. Saya cukup sering melintasinya. Sempat ada rencana untuk menyusuri jalan tersebut dengan jalan kaki tapi tak tercapai jua. Mungkin karena sebagian waktu dihabiskan di mal. Heh! ngapain ngomongin mal, di kota lain juga ada. Hihi, ya namanya juga ngikut teman. Diajak nobar atau jalan-jalan biasanya.

Mal yang cukup sering dikunjungi adalah Ciwalk di Cihampelas, Paris van Java di Sukajadi, dan BEC. Yang disebut terakhir memang menjadi target kunjungan rutin, untuk memeriksa kemutakhiran barang elektronik, walau tak beli tapi terkadang ngiler juga. Bukan karena SPG-nya lho. Ehmm, tapi sempat juga menjaga hati agar tidak tergerak ke tempat ini sih, berusaha untuk sering tinggal di kos, khususnya saat tanggal tua :D

Untuk kafe dan restoran tidak banyak saya sambangi, hanya sebagian kecil warung dan tempat makan, yang saya kunjungi jika mengalami kebosanan, menunggu, nongkrong bersama teman, atau setelah jalan-jalan. Toko distro tidak menarik hati. Toko buku hanya sebagian yang dikunjungi rutin, Togamas dan Gramed. Palasari cuma lewat doang. Makanan khas? sedikit yang dicicipi.

Terkadang, saya suka melewati Jalan Layang Pasupati yang keren. Pernah berniat berhenti di pinggirnya untuk menikmati pemandangan Bandung, tapi tak pernah terwujud karena tidak ada pasangan. Khawatir kalau mengganggu lalu lintas dan masalah keamanan, bisa tersambar mobil kalau beruntung.

Tempat lain yang rutin dikunjungi juga adalah terminal Cicaheum. Saat akhir pekan/bulan dan jika dana mencukupi biasanya saya akan pergi ke sini atau ke Stasiun Hall/Bandung, untuk naik bus atau kereta, mengunjungi keluarga dan handai taulan tercinta.

Jadi ingin mampir ke Bandung lagi. Sudah ada rencana, mungkin akan mengajak “Si Bolang” jalan-jalan. Lokasi yang ingin saya kunjungi, jika diberikan kesehatan dan kesempatan, adalah Puncrut, dan Ciwidey khususnya Kawah Putih. Kami, tim Rusnoss di kampus dulu, sempat merencanakan pergi ke sana tapi tak kesampaian.

[1] Gambar Kopi Aroma dicolong dari onlysenja
[2] Sebagian bangunan di Bandung punya arsitektur yang menarik

Iklan

5 thoughts on “Kesan Kedua di Bandung

  1. sangprabo berkata:

    Sering ke mall juga nggak papa Mas, yang penting niatnya baik, untuk menjalin relasi terutama dengan para pemilik kios yang gede2. Kalau beruntung, saat berbincang bisa jadi kuliah bisnis cuma-cuma.

    Btw, saya kok masih bingung dengan kalimat ini

    … kurang simetris dari sisi jalan dan posisi bangunannya secara umum, lihat saja ketika kita berjalan di satu sisi dan menuju ke salah satu ujung sisi tersebut, jaraknya akan berbeda jika kita menyusuri sisi yang lain. Jadi terkadang kita perlu hafal jalan mana yang lebih dekat ke sebuah tempat daripada jalan lain yang kelihatannya sama dekat.

    • Too often, we don’t give people a chance to fill in the blanks. — Seth Godin

      Sepertinya perlu diubah jadi “… menyusuri ujung lain sisi tersebut”. Maksudnya kalau kita berada di sebuah sisi jalan dengan ujung A dan B. Sisi sebaliknya adalah CD, dengan ujung sisinya C dan D

      A-------------------------B
      |                         |
      C-------------------------D

      Kalau kita jalan di sisi AB lewat ujung B, menuju sebuah titik di sisi CD yang seharusnya sama jaraknya jika dilalui lewat ujung A, tenyata kita mendapatkan jarak yang berbeda, karena bidang ABCD ternyata tidak berbentuk kotak seperti ilustrasi di atas

      Makasih atas koreksinya bo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s