Menginjakkan Kaki di Bandung

Kesan pertama saya terhadap kota Bandung adalah dingin. Saya pernah ke sana saat SD, mengunjungi pakde dan melancong ke Tangkuban Perahu. Terus terang, saya tidak pernah berpikir pergi ke sana lagi, apalagi sampai tinggal hampir 3 tahun, tapi karena Allah telah menakdirkan ya mau gimana lagi?

Perjalanan saya sampai bisa ke Bandung dimulai ketika saya mencari sekolah untuk tingkat pasca sarjana. Target saya tinggi, ke luar negeri, yang ada beasiswanya lagi. Tidak sadar kemampuan dan keberuntungan saya seberapa besar. Saya mencoba ke Rits dan TU/e, yang disebut terakhir masih saya idam-idamkan sampai sekarang.

Pada akhirnya saya menerima, bahwa saya belum jodoh dengan kedua universitas tersebut. Di tengah kegundahan, tapi dengan disertai komitmen untuk selalu berjuang, akhirnya saya mendapatkan informasi dibukanya sebuah program studi dengan beasiswa di ITB.

Sebenarnya saya sudah agak lelah juga mengurus ini itu, karena sedang ingin beristirahat setelah melalui perjuangan keras mendapatkan sekolah #lebai. Saat itu saya sedang berada di rumah orang tua, agak ragu saya menelpon nomor yang ada di kontak prodi. Saya tanya tentang pendaftaran dan kesempatan belajar di sana. Bapak yang menerima telpon hanya bilang “Sudah, dikirim saja berkasnya ya! Saya tunggu!”. Akhirnya terkirimlah berkas saya. Singkat cerita, saya dipanggil ikut ujian tulis dan wawancara.

Menunggu Teman

Saya buta Bandung dan tidak punya calon tempat tinggal di sana, jadi saya mencoba mencari teman yang bisa dinunuti dulu, sembari mencari kos terdekat. Ada seorang teman, yang memang beberapa kali sebelumnya sudah pernah saya kontak. Teman SMA, teman nongkrong bareng, teman nge-band. Orangnya cukup pintar, tapi sering merendahkan diri. Dulu kami ikut ke dalam beberapa band, paling tidak tiga di antaranya cukup banyak bermain di berbagai acara.

Setelah mengontak dia, saya berangkat ke Bandung. Seingat saya, saya membawa 1 tas travel besar, 1 tas ransel, dan 1 tas jinjing. Sampai di stasiun Bandung, subuh, tidak ada yang menjemput. Teman saya beralasan udara terlalu dingin untuk keluar. Huh, dasar pemalas, paling juga masih molor slimutan :p

Dengan kode-kode yang diberikan teman saya, berupa nomor, warna, dan tujuan angkot, saya segera mengikuti petunjuknya. Berharap bisa sampai tujuan tanpa terculik. Hari masih agak gelap, dan penumpangnya hanya 1-2 orang saja. Alhamdulillah sampailah saya di lokasi ancer-ancer, ternyata teman saya itu sudah menunggu dengan antusias.

Setelah bersalaman dan saling berkomentar satu sama lain, kami menuju kosnya, yang kurang lebih 250 meter dari tempat saya turun angkot. Itulah pertama kalinya stwn menginjakkan kaki di Bandung, tahun 2007.

Iklan

4 thoughts on “Menginjakkan Kaki di Bandung

  1. Ping balik: Kesan Kedua di Bandung « stwn.ngeblog.

  2. Ping balik: Lulusan SMK « stwn.ngeblog.

  3. Ping balik: Naik Kereta Eksekutif | stwn.ngeblog.

  4. Ping balik: Kembali ke Bandung | stwn.ngeblog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s