Oprekable dan Awet

Saya memiliki satu syarat ketika akan membeli perangkat atau barang, yakni sebisa mungkin oprekable. Bisa dioprek, mudah diperbaiki. Ini penting karena kita tidak tahu kapan kita akan mengubah perangkat/barang tersebut agar sesuai dengan kebutuhan, atau memperbaikinya jika mengalami kerusakan.

Alhamdulillah perangkat-perangkat yang saya miliki masih sehat wal afiat, dan awet. (Relatif) awet, ini syarat yang kedua, tergantung dari syarat pertama dan/atau relatif berdiri sendiri tergantung barangnya. Biasanya dihubungkan dengan merek, tapi tidak selalu. Lihat kualitasnya.

Ponsel pintar pertama saya, dengan sistem operasi Symbian, yang saya beli 4 tahun lalu masih bisa dipakai. Juga pemutar suara Phillips GoGear Mix 4GB[1] yang dibeli pada tahun yang sama, masih jalan bagus, awet. Laptop Thinkpad yang umurnya 5 tahun, sejak mbrojol dari pabrik, masih lancar jaya, walau sekenan. Alhamdulillah.

Setiap barang memang ada umurnya, seperti manusia akhir zaman yang katanya punya umur standar ~60 tahun. Tapi setiap barang juga memiliki bagian-bagian/komponen yang masing-masing memiliki umur. Bisa jadi ada bagian-bagian yang umurnya pendek, ada juga yang umurnya lebih panjang.

Saat barang kita rusak, kita bisa memeriksa/mengopreknya sendiri, atau minta tolong teman/tetangga/tempat reparasi. Lihat apakah bagian yang rusak bisa diperbaiki, atau bisa diganti hanya bagian itu saja? Contoh yang saya alami adalah baterai laptop soak. Saya tinggal beli baterai baru dan pasang, laptop bekerja kembali tanpa colokan listrik. Pertanyaan selanjutnya bagaimana dengan baterai bekasnya? bingung mau dibuang ke mana.

Electronic parts vendor in Akihabara, Tokyo

Penjual komponen elektronik. (rc!)

Tren barang sekarang, khususnya yang elektronik, berubah menjadi model “pakai dan buang”, hal ini menguntungkan bagi produsen, tapi merugikan bagi konsumen (sebenarnya). Dan jika kita pikir lebih jauh lagi, merugikan pula bagi kehidupan manusia di bumi ini. Karena akan banyak sampah. Sampah elektronik. Di mana kita bisa membuangnya? apa bisa didaur ulang? Bagaimana dengan barang-barang yang sifatnya mirip seperti plastik?

Karena itu saya kurang setuju dengan konsep lembiru, lempar beli baru, sungguh konsumtif sekali dan menghasilkan cara pikir yang cenderung individual, serta mengabaikan sifat merasa cukup aka qana’ah dan produktif *sok2an* Pembaca boleh mengatakan saya munafik, karena saya memiliki beberapa barang, tinggal seberapa berani Anda mengetahui kegunaan barang-barang yang saya miliki tersebut. #uhuk

Kemudahan dioprek dan diperbaiki akan meningkatkan umur barang, seperti memperpanjang umur kita jika menyambung tali silaturahmi[2]. Kalau ternyata kita sudah tidak memanfaatkan barang tersebut, baik karena sudah punya pengganti atau sudah bosan ngoprek, tinggal berikan pada keluarga, teman, atau tetangga yang membutuhkan. Barang tersebut punya kesempatan untuk bertambah umur karena ada yang memelihara.

Jadi, dari awal ketika akan membeli barang, yang pertama dilihat adalah kebutuhan, setelah itu pertimbangan oprekable dan keawetan, termasuk garansi *lho nambah lagi, tapi ada hubungannya kan?*. Yang akhirnya, semoga, didapatkan umur barang yang panjang dan memberikan bermanfaat untuk kita dan/atau orang-orang yang kita cintai, juga dunia yang kita tinggali ini.

[1] Saya belum tahu apakah barang ini mudah diperbaiki atau tidak
[2] Umur hasil “perpanjangan” pun sebenarnya sudah dituliskan-Nya

Iklan

6 thoughts on “Oprekable dan Awet

  1. sangprabo

    Menurut sahaya Mas, memang penting memiliki filosofi dalam membeli barang. Tapi kalau misalnya oprekable dijadikan patokan untuk kadar kebermanfaatan, takutnya nanti kita melanggar paten/aturan dan menjadi zolim terhadap pencipta barang tersebut. Contohnya kalau kita nekat ngoprek gadget yang seharusnya nggak boleh dikutak-katik, nggak boleh dioprek.

    Kasus lain, kadang kita nggak perlu sesuatu yang oprekable. Kadang kita hanya perlu beli barang yang simpel, manfaatnya terasa sejak kali pertama pakai. Semacam pengen beli tempat tidur atau kursi, tapi ditawarin lego. Bisa dioprek sih iya, tapi kita akan banyak menghabiskan waktu untuk ‘mengoprek’ sesuatu yang pengen kita rasakan langsung manfaatnya. Selain itu, kita juga sudah jago ngoprek, jadi alih-alih melakukan hal-hal yang sama dan melulu itu, kita beralih ke brand yang just works. Selain itu, kita fokus pada sesuatu yang lain, yang juga oprekable.

    PS: mudah2an nyambung :D

    Balas
  2. stwn Penulis Tulisan

    Karena itu usahakan jangan beli barang yang malah bikin kita tertawan. Wong barang-barang kita sendiri, kok nggak boleh dioprek :D

    Barang, khususnya barang elektronik, yang kita beli memang harus bisa dipakai saat dibawa pulang bo, tapi kita sebagai pengguna/pengembang memiliki kesempatan ngapa2in itu barang (selain punya kesempatan juga makai yang sudah bawaan). Mungkin ini bisa jadi prasyarat oprekable ya

    Karena oprekable kita tidak tergantung pada satu vendor atau perusahaan tertentu, kita bisa memperbaiki sendiri, minta tolong tetangga, teman, atau tukang reparasi

    Komponen-komponennya juga bisa diganti atau diperbaiki dengan mudah di masa mendatang, jadi awet dan bisa bermanfaat bagi orang lain kalau kita sudah bosan

    Balas
  3. Ping balik: Mencari Pembaca Buku-e « stwn.ngeblog.

  4. Ping balik: Sendiri « stwn.ngeblog.

  5. Ping balik: Memicu Inovasi « stwn.ngeblog.

  6. Ping balik: Kebutuhan yang Jujur | stwn.ngeblog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s