Manis dan Lama

Anda suka dengan cola? pasti kenal dengan Coca Cola dan Pepsi. Yang paling terkenal dan populer sepertinya yang pertama. Saya ingat cerita Malcolm Gladwell, tentang “sip test” alias “uji cicip” kedua produk cola tersebut di dalam bukunya, Blink.

Dibilang “uji cicip” karena memang orang hanya mencoba merasakan sedikit, “hanya satu tegukan” saja, dari cola yang disediakan. Dan tentu saja kedua produk tersebut tidak diberi label saat disajikan.

Saat itu Pepsi melakukan “uji cicip” pada ribuan orang di Amerika dan mendapatkan hasil bahwa kebanyakkan orang, lebih dari separuh responden, menyukai Pepsi daripada Coca Cola. Hasil “penelitian” ini dipublikasikan dan dibuat iklan.

Setelah mengetahui hasil “penelitian” tersebut, Coca Cola ketakutan, dan mencoba menyelidiki di lab mereka, mencari resep kombinasi baru untuk mendapatkan rasa yang disukai oleh orang-orang, berdasarkan hasil “uji cicip” Pepsi.

Rasa Coca Cola memang lebih “keras”, Pepsi lebih manis dan “lembut”. Singkat cerita, Coca Cola mengubah formula produknya, dan melakukan “uji cicip” dengan metode yang sama. Hasilnya? memuaskan. Kebanyakkan orang memilih Coca Cola daripada Pepsi. Dan, dibuatlah produk baru untuk menggantikan produk lamanya.

Apa reaksi para penggemar Coca Cola ketika produk barunya diluncurkan dan tersebar? Kecewa, mereka ingin rasa Coca Cola yang lama. Terjadilah penurunan penjualan Coca Cola.

Setelah diselidiki kembali metode yang dilakukan saat “uji cicip”, ditemukan bahwa orang memang lebih menyukai rasa cola yang manis jika yang dicoba hanya “seteguk” saja, “sakndulit“. Tetapi, jika orang-orang/responden diminta membawa satu kaleng/botol cola sambil melakukan aktivitas seperti biasa, mereka akan lebih senang dengan cola yang relatif tidak terlalu manis. Katanya sih.

Jadi, apa moral dari cerita ini?

  • Jangan terbuai dengan yang manis-manis di saat awal.
  • Keras di awal lebih baik daripada di akhir. Ego dua orang atau lebih pasti muncul dalam hubungan apapun, tidak perlu ditahan, semuanya akan melebur jika dihadapi dengan sikap dewasa dan saling pengertian *oposih*
  • Berkelahi di depan tak apa-apa, malah akan mematangkan proses selanjutnya, tentu jika setiap orang dapat mengambil pelajaran.
  • Yang manis dan “lembut” di awal perjalanan perlu dipertanyakan, apakah hal ini bisa dipertahankan dalam jangka waktu yang panjang?
  • Yang kita butuhkan bukan pendapat orang banyak, tapi kesejatian niat nan luhur dari diri sendiri dan orang yang kita sayangi.
  • Apa adanya. Jadilah diri sendiri. Jika kita tak sadar sudah berubah menjadi orang lain, semoga suatu saat kita kembali berputar dan mendapatkan diri kita sendiri, dengan fitur yang lebih baik.
  • Ojo kagetan“.

Dan yang terakhir, hati kecil tak akan pernah berbohong! Nyambung nggak sih? hahaha.

Catatan: tulisan ini ternyata sudah setahun lebih ngendon di draf. Baru dilihat kembali, dan sepertinya menarik untuk diterbitkan.

Iklan

4 thoughts on “Manis dan Lama

    1. haikal

      Hahaha, tentu saja tidak. Kita tidak harus menjadikannya panutan sampe sedetil itu. *halah*
      Karena rasanya lebih “manis dan lembut” sepertinya yang sampeyan bilang. Memang sih, “Jangan terbuai dengan yang manis-manis di saat awal”, tapi kalo “manis dan lembut”-nya dari awal sampe akhir, kenapa tidak?! :P

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s