Menjadi Pengganggu

Terkadang saya bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang merasa risih atau merasa “digurui” oleh saya. Memang jumlahnya tidak banyak, tapi kalau dipikir menghabiskan waktu juga ya untuk mengurusinya. Saya ingin cerita sedikit tentang hal ini.

Umumnya orang-orang tersebut punya kebanggaan tersendiri tentang dirinya, asumsi saya, dan sebagian umurnya lebih tua, tapi tidak tua banget. Jadi mereka merasa “digurui” ketika saya ajak bicara dengan gaya stwn yang suka bertanya-tanya, mengeluarkan argumen-argumen “nakal” nan lebai, dan aktivitas “mengganggu”[1]. Walaupun sejatinya saya pendiam lho :p

Singkat cerita, yang saya lakukan ketika berhadapan dengan orang-orang ini adalah mencoba memahami psikologi mereka. Tidak selalu berhasil, minimal saya berusaha. Sering saya mencoba untuk bertahan dengan gaya stwn, mungkin karena ego, sering juga saya berusaha menjembatani agar interaksi dan hubungan tidak rusak.

Hubungan rusak? ya benar, orang-orang yang saya maksud biasanya tidak canggung “mengenyahkan” orang seperti saya hehe. Asumsi saya, mereka merasa lahannya diinjak-injak. Padahal sejatinya saya tidak menginjak-nginjak, saya hanya ingin melewati di pinggirnya saja, dan ingin tahu seperti apa sih isinya.

Akhirnya ya sudah, saya membiasakan diri untuk berinteraksi dengan orang-orang tersebut dengan mencoba memahami mereka, walaupun mereka belum tentu mau memahami saya. Di sisi lain saya melihat ini sebagai progres perkembangan diri.

Saya masih muda[2], dan yang muda-muda biasanya memang suka mencari masalah. Dan juga yang tua perlu lebih bijaksana dan memahami dinamika orang-orang muda.

Hidup pemuda! hidup pemudi!

[1] Saya ingin menyebutnya dengan “disruptive activities“, orangnya “disruptive person” :D
[2] Relatif sih :p

Iklan

2 thoughts on “Menjadi Pengganggu

  1. sangprabo

    Hahaha… Stwn curhat. :p

    Umumnya orang-orang tersebut punya kebanggaan tersendiri tentang dirinya, asumsi saya, dan sebagian umurnya lebih tua, tapi tidak tua banget

    Mandor pabrik saya juga begitu. Jelas-jelas argumennya patah sepatah-patahnya goyang patah-patah, kadang-kadang ndak mau ngaku kalah. Orang-orang muda macam kita ini Mas (ehem, ya, relatif sih), kalo kalah argumen dan “dienyahkan” begitu saja ya nggak ada masalah karena dari awal kita sudah underdog. Nah, tapi ketika mereka yang langsung merasa menjadi “murid” (karena kadar keguruannya seakan-akan kita rebut), ya pasti ndak terima. Pokoknya ganggu aja terus mereka Mas, sampe kita sedot ilmunya semuanya.

    *kok jadi ikutan curhat?*

    Balas
  2. stwn Penulis Tulisan

    Hihi. Namanya juga “catatan si stwn” tentu saja berkisah tentang dirinya :D

    Btw, orang-orang seperti itu jarang kutemui bo, paling 1-2 orang saja. Masih banyak yang menerima kita apa adanya. Yasud, kita perlu cari orang-orang yang terbuka untuk diajak “berkelahi”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s