Merakit Komputer

Saya punya sebuah komputer berspesifikasi Celeron 466 MHz dan RAM 256 MB, sebelumnya 64 MB. Komputer ini adalah komputer pertama saya, yang mengenalkan kepada saya banyak hal, termasuk sistem komputer, pemrograman, dan GNU/Linux. Sekarang komputer tersebut sudah mati, mungkin umur pengabdiannya cukup sampai di sini.

Komputer ini memang sarat dengan sejarah, saya melakukan banyak hal di sana, yang baik dan yang buruk pula. Saya ingat membelinya saat pameran komputer di pertengahan tahun 2000, bersama keluarga. Harganya kalau tidak salah 4,5-5 juta rupiah, termasuk pencetak atau printer Canon BJC-265SP[1].

Alhamdulillah, sebagian besar barang-barang dari Bapak itu awet. Semoga awet pula keberkahan penggunaannya.

Untuk “mengawetkan” aktivitas sang pembeli, beberapa waktu yang lalu saya mencoba merakit sebuah komputer destop baru untuk menggantikan komputer lama tersebut.

Terus terang saya suka aktivitas merakit, mungkin itu jadi alasan ya saya menggemari topik integrasi teknologi, sistem operasi, sistem terdistribusi, dan banyak hal yang berhubungan dengan mengait-ngaitkan komponen menjadi satu, kemudian menjadikannya berfungsi seperti yang dirancang atau bahkan lebih baik.

Spesifikasi komputer yang dirakit sederhana, satu motherboard berprosesor Atom dengan semua fungsi yang dibutuhkan seperti kartu grafis, kartu suara, dan lain-lain. Beli satu, dapat semua. Rencananya, komputer rakitan ini ingin saya masukkan ke dalam boks kasing yang kecil agar ringkas dan hemat ruang, tapi tak jadi, melihat pertimbangan harga-nilai yang tidak pas.

Beberapa pertimbangan kenapa saya memilih prosesor Atom dan tertanam dalam satu motherboard yang lengkap fungsi-fungsinya:

  • sesuai dengan penggunaannya, untuk mengetik, mencetak, dan melakukan aktivitas rumahan lainnya. Atom 1,8 GHz HT lebih baik bukan daripada Celeron 466 MHz?
  • hemat daya, saya tak mau beli komputer yang malah membuat biaya listrik naik, apalagi menambah ketidakhijauan bumi ini :D
  • hemat investasi dan memberdayakan barang-barang yang sudah ada, seperti monitor, hard drive[2] dan penstabil daya.

Total biaya yang dikeluarkan 865 ribu rupiah, belum termasuk hard drive[3] SATA notebook yang ditukar untuk mengganti hard drive IDE lama :D


[1] Saya masih menggunakan pencetak ini sampai saya selesai belajar di Bandung, dan sampai saat ini masih dipakai oleh Bapak, walau sudah tidak begitu baik lagi. Kata beliau, “lumayan.”

[2] Belakangan, saya baru tahu ternyata motherboard yang baru sudah tidak menyediakan antarmuka IDE untuk hard drive lama, jadi hard drive SATA notebook saya yang dibuat “eksternal” ditukar dengan yang IDE. Selain itu juga, harga hard drive sedang melambung, katanya karena pabrik di Thailand kebanjiran.

[3] Kalau dipikir cocok juga ya, semua serba kecil dan ringkas, termasuk hard drive-nya.

Iklan

2 thoughts on “Merakit Komputer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s