Multimedia Pembelajaran

Sering saya merasa terejek atau apa ya, tersindir, ketika membaca berita tentang bagaimana multimedia dapat menarik minat belajar dan meningkatkan rata-rata hasil pembelajaran. Saya setuju sekali dengan teknik atau cara tersebut, hanya saja kok sepertinya tidak “manusiawi” kalau kita lihat kondisi di lapangan, di Indonesia.

Terus terang saya agak skeptis, melihat infrastruktur yang terbatas, terutama di kota kecil dan pedesaan. Di perkotaan pun demikian pula, dengan melihat harga koneksi[1] dan pembatasan lebarpita yang mereka sebut dengan “unlimited.”

Khan Academy

Khan Academy adalah salah satu contoh media pembelajaran yang bagus dalam bentuk video, multimedia. Bahkan media ini mengubah teknik belajar siswa menjadi lebih interaktif dan partisipatif saat di kelas, karena di rumah mereka telah mempelajari materi-materinya melalui video.

Dengan multimedia, materi lebih cepat nyantol di kepala para siswa. Hubungan guru dan siswa dapat terjalin lebih erat saat guru harus berputar berkeliling di kelas sembari melihat dan membantu para siswa mengerjakan latihan-latihan sesuai dengan materi yang mereka pelajari. Pembelajaran dua arah interaktif, tidak satu arah monoton.

Kita lihat, cara dengan multimedia ini hanya dapat dilakukan pada tempat-tempat yang memiliki akses Internet dengan lebarpita yang besar. Di US, UK, atau negara yang memiliki koneksi Internet yang sangat memadai. Bagaimana penerapan teknik pembelajaran ini di Indonesia? Itulah yang perlu kita adaptasikan.

Model menyontek teknik secara langsung dari luar kemudian diterapkan di sini adalah kurang bijaksana, lihat faktor keterbatasan akses Internet. Contoh teknik yang dapat dipakai, misal kita dapat membuat sendiri videonya atau menyalin dari situs seperti Khan Academy kemudian diberi subtitle Bahasa Indonesia, kemudian kita salin ke cakram DVD, kemudian disebarkan ke sekolah-sekolah di seluruh penjuru tanah air.

Tinggal nanti kita mencari dukungan dari Diknas, BUMN, dan perusahaan-perusahaan yang punya agenda CSR dalam bidang pendidikan. Multimedia yang dihasilkan nantinya dapat menjadi pendamping program seperti Buku Sekolah Elektronik aka BSE.

Sebenarnya contoh cara penyediaan distribusi ini dilakukan oleh Ubuntu-ID untuk menyebarkan repositori paket-paket Debian untuk distribusi Ubuntu dalam bentuk cakram DVD, dan saya kira ini unik, tidak ada di negara lain. Ini merupakan salah satu bentuk adaptasi penyebaran ilmu dan teknologi.

Cara yang sederhana, tetapi saya kira efektif. Tinggal nanti ada tidak komputer untuk memainkan medianya, ada tidak listrik untuk menyalakan komputernya, ada tidak biaya untuk menanggungnya, dst. :D

Kita perlu banyak bereksplorasi mencari solusi dengan cara-cara sederhana namun mengena.

[1] Walaupun sebenarnya harga koneksi sekarang lebih murah dari sebelumnya.

Iklan

2 thoughts on “Multimedia Pembelajaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s