Aktor dan Makelar

Setelah terpikirkan sekian hari dan mungkin akumulasi dari penerjemahan selama ini, saya menyadari bahwa diri saya hanyalah seorang “aktor” saja. Skenario besar dan kompleks (sekali) sudah ditulis, jauh sebelum saya dilahirkan.

Bisa kita bayangkan berapa jumlah manusia di bumi ini yang masing-masing mempunyai skenario tersendiri? yang semuanya sudah terpetakan dengan baik sekali. Tentu saja.

Semua yang kita lakukan adalah takdir yang sudah dituliskan-Nya. Apa saja. Kita jalan ke kiri sudah ada takdirnya, begitupun jika ke kanan, maju, mundur, atas, dan bawah.

Yang perlu kita lakukan sebenarnya adalah melakukan sebab yang dapat memunculkan akibat dari sebuah takdir.

Kita memahami bahwa kita akan mendapatkan rejeki selama kita hidup, tapi apa kita akan diam saja menunggu rejeki datang? tentu tidak. Kita akan berusaha mencari rejeki dengan bekerja, hal ini akan menjadi sebab munculnya rejeki untuk kita dalam bentuk misal kegembiraan, dana, dst.

Ada takdir yang sudah dituliskan-Nya dan perlu ada usaha dari manusia untuk menjemputnya.

Kemudian kembali ke bahasan awal. Kalau kita pikirkan lebih dalam, ternyata kita hanyalah “aktor.” Kita mempunyai takdir, begitu pula orang lain.

Jika kita melihat dari sisi takdir orang lain, maka kita hanyalah penghubung atau broker atau makelar. Kita hanya membantu terjadinya sebab agar takdir orang lain muncul. Semuanya pun tidak luput dari ketentuan-Nya.

Kalau kita berpikir kita hanyalah seorang makelar maka kita tak perlu merasa kehilangan sesuatu dari transaksi yang terjadi. Karena kita hanya penghubung saja. Kita tak memiliki barang. Kita tak menguasai orang.

Mengutip sebuah hadits hasan[1] riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi:

Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali doa.

Karena doa adalah sebaik-baik usaha. Doa yang baik pasti menghasilkan kerja yang baik, untuk menjemput takdir-Nya. Dan subhanallah, doa dan usaha seorang hamba ternyata merupakan takdir-Nya pula.

Jika ada takdir yang tertolak dengan usaha doa kita dengan ijin-Nya, maka yang kita dapatkan adalah takdir-Nya yang lain. Jadi, mari berusaha dan berdoa. Bertawakal, mengharapkan taufik-Nya.

[1] dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ dan ash-Shahiihah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s