GCOS: Hari Pertama

Tanggal 26-27 Oktober 2009 kemarin, saya mengikut Global Conference on (Free Software/)Open Source di Jakarta, yang kemudian diteruskan dengan event tambahan Free Software Seminar di BPPT tanggal 28 Oktober 2009 dan seminar yang sama dengan topik lain di UI tanggal 29 Oktober 2009.

Saya mendapat bantuan dari tim dukuflash untuk biaya konferensi dan transportasi, sedang akomodasi/penginapan Alhamdulillah saya bisa nunut di tempat saudara.

GCOS yang pertama kali ini diselenggarakan di hotel Shangrila, kebetulan dekat dengan stasiun Sudirman, jadi saya berangkat dengan KRL Express pagi dan ikut berdesakkan dengan karyawan-karyawan yang berangkat kerja. Kata Manda, naik KRL serasa naik Shinkansen, dan memang kereta ini “barang bekas” dari Jepang, tanda-tanda di dalam keretanya pun masih berisi tulisan Jepang. Saya sendiri dalam tiga bulan ini lumayan sering naik kereta, khususnya KRL ini. Lho kok cerita kereta? :D Ok, kembali ke topik.

GCOS hari pertama dibuka dengan sambutan-sambutan seperti biasa, termasuk dari ristek dan menteri kominfo baru, diteruskan dengan
pemberian hadiah untuk para pemenang lomba.

Plenary Session dan Panel Discussion

Plenary Session dan Panel Discussion adalah acara pertama setelah sambutan yang diisi oleh:

Sunil terlihat dengan baik dapat mempresentasikan paparannya disertai dengan analogi, saya bilang beliau ini memang berpengalaman dalam FLOSS/FOSS dan talks.

Saya kira banyak orang di dalam ruangan saat itu suka dengan Sunil, walaupun berasal dari India, sedikit logat bawaan yang keluar. Bahasa inggris yang baik, penjelasan yang membumi. Sayang, Sunil tidak melakukan presentasi di track-track GCOS hari pertama dan kedua. Sebenarnya Sunil pernah datang ke Indonesia sebagai perwakilan UN/IOSN tiga tahun yang lalu.

Saya juga sempat bercanda dengan Zaki, yang kebetulan duduk bersebelahan, “Sunil itu dibalik apa, Zak?” :-)

Duta Besar Brazil, seperti titelnya, memang agak jauh dari teknologi dan FOSS. Beliau memang mengakui kurangnya pengetahuan tentang FOSS dan hal-hal yang berhubungan dengan implementasi di negaranya. Jadi, kebanyakkan apa yang diungkapkan bersifat umum. Walaupun begitu beliau sedikit bercerita tentang migrasi kedutaan ke FOSS.

Koh Hong Eng, menurut saya tipikal orang perusahaan, dan tentu membawa misi ;-) itu terlihat dari presentasinya. Perwakilan dari Sun ini
menggunakan Singlish. Saya mencatat satu kalimat yang berbunyi kurang lebih “The brightest people are always the ones who lived outside our company“.

Marino Marcich berbicara tentang standar, khususnya OpenDocument Format (ODF). It is not MS vs IBM, or A vs B. Marino emphasized web standard, no single vendor, all choices are in application level. Aplikasi terserah, yang penting standar dokumennya sama. Saya sendiri berpikir, Marino kurang fleksibel mengungkapkan pendapatnya, karena mungkin beliau datang atas nama ODF, atau memang orangnya seperti itu. ODF sendiri mempunyai usaha yaitu migrasi dan pelatihan.

Beberapa kutipan yang muncul saat Plenary Session:

Sunil:

  • gmail complies with IMAP protocol, facebook doesn’t comply with any standard
  • there is much more support for FLOSS. Sunil asked: how many people in this room have ever asked for support from MS?
  • Sunil talked to his son: if you use windows media player, MS will know what film you’re watching
  • suit to the local businesses or needs, don’t suit to US.

Koh Hong Eng:

  • start the movement, it means don’t depend on government, …

Hivos:

  • the problems are adaptability, MoU, …

Setelah Plenary Session terdapat beberapa track yaitu: Government, Businesss, Academician, dan Community. Saya sendiri memilih untuk membuat “track sendiri”, saya pilih topik-topik yang kiranya menarik di masing-masing track.

Track Community: Experience in Developing Open Source and the Open Source Community

Saya ambil track ini karena berhubungan dengan aktivitas sekarang yaitu mengembangkan distribusi Linux, komunitas secara luas, FOSS, dst. Selain itu saya juga ingin melihat seperti apa sih kondisi FOSS di Thailand.

Pembicara pada track ini adalah Krich Nasingkun dari OpenTLE, Thailand. TLE sendiri adalah singkatan dari Thailand Language Extension. Mereka membaca TLE dengan talee :-)

Beberapa poin yang saya catat pada presentasi ini adalah OpenTLE mendapat dukungan dari:

  • pemerintah (R&D): NECTEC, …
  • perusahaan swasta
  • pendidikan, mengaplikasikan FOSS ke dalam kurikulum, saya lupa menanyakan detilnya, apa resmi?
  • komunitas: TLWG (1400 pengembang?), thaiopensource.org

Fokus utama proyek FOSS di Thailand: localization ke bahasa Thai.

Ketidakmampuan sebuah distro atau aplikasi dalam menjembatani bahasa Thai adalah bug bagi mereka. Pengembang FOSS Thailand berusaha memperbaikinya, contoh: OfficeTLE, merupakan OpenOffice.org yang sudah diperbaiki dukungan bahasa Thai-nya.

Untuk distribusi ada proyek yang bernama LinuxTLE, perkembangan dimulai sejak tahun 2000. Pada awalnya berbasis Mandrake, kemudian pindah ke Red Hat, sekarang Ubuntu *aargh!* :D Aplikasi utama: OpenOffice.org yang sudah diperbaiki+ditambahkan dukungan bahasa Thai.

BTW, sebenarnya ada track menarik pada saat yang sama yaitu di Academician berjudul The Use of Open Source in the Grid Computing and Data Acquisition System in High Energy and Particle Physics Research Projects. Sepengetahuan saya, pembicara memiliki ibu orang Indonesia, dan secara tampilan fisik memang orang lokal. Smart. Yuda yang mengikuti track ini mungkin bisa cerita?

Track Academician: Prospects and Experience in Using Open Source for Distance Learning

Pada track kedua saya lompat dari Community ke Academician, pembicara seharusnya Pak Gatot dari SEAMOLEC tapi beliau berhalangan hadir karena sakit dan digantikan oleh orang lain.

Saya tidak begitu antusias mengikuti presentasi ini, apa karena sudah cukup tahu ya? :P

Track Academician: Open Source Software and Open Data in Biodiversity Research and Education

Setelah sesi kedua di track Academician, saya tidak pindah ke track lain, menunggu presentasi Campbell O. Webb.

Campbell mengaku dirinya sebagai seorang biologist dan hacker, sekarang di Sukadana, Kalimantan Barat, sedang meneliti dan menginventarisir Biodiversity atau Keragaman Hayati di Gunung Palung National Park bekerjasama dengan LIPI dan lembaga penelitian lain. Campbell bercerita ringkas dan jelas tentang biologi khususnya keragaman hayati. Walaupun saya seorang yang bukan bergelut di bidang biologi, saya merasa terkesan dengan presentasinya.

Campbell menyatakan bahwa: Indonesia probably the HIGHEST Biodiversity in the world. Mungkin banyak orang tidak tahu, apalagi orang yang jauh dari biologi seperti saya.

Beberapa isu yang didiskusikan pada presentasi ini adalah:

  • data-data yang diperoleh saat penelitian dan penginventarisir apakah terbuka? dst.
  • apakah data-data tersebut bisa dicuri dan hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu
  • etika penelitian di “rumah orang”.

Alat-alat yang digunakan oleh Campbell adalah seperti R, Phylocom, dll.

Saya sendiri berpikir mungkin tidak banyak orang Indonesia yang seperti Campbell, kita mungkin tidak peduli “kenapa harus mempelajari
Keragaman Hayati? itu kan cuma ada saat pelajaran biologi di sekolah dulu!”, padahal ada banyak hal yang dapat dipelajari di dalamnya.

Dari dulu saya bertanya-tanya, apa karena sebagian besar kita masih berkutat dengan mencari kebutuhan pokok alias mencari sesuap nasi sedang orang-orang seperti Campbell itu sudah tidak memikirkannya?

Saya berpendapat budaya di Indonesia masih menganggap nilai itu dalam bentuk fisik seperti uang, harta, jabatan, dst. Jadi, ada yang salah dengan nilai dan pendidikan yang ditanamkan pada kita dari kecil yaitu berupa nilai-nilai yang eksplisit saja. Hasilnya nilai-nilai yang tidak terlihat seperti kejujuran, dedikasi, dan kawan-kawan sedikit sekali diserap.

Jika kita bertanya pada anak-anak kecil “kalo besar ingin jadi apa?” jawabannya sebagian besar ingin jadi dokter. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu, hanya saja ada kekurangtepatan dalam penanaman harapan terhadap nilai-nilainya.

Wow, saya kira pernyataan-pernyataan seperti ini yang menjadikan saya banyak tersingkir dalam banyak ujian yang keluarannya membutuhkan orang-orang yang “nurut“. Ha!

Track Business: Big Surge in the Use of Open Source in Critical Mission Systems of NTT

Dari track Academician saya pindah ke Business, pembicaranya adalah Takeshi Tachi dari NTT Open Source Software (OSS) Center. Presentasinya menarik, hanya saja saya terlambat masuk ruangan dan juga ada kekuranglancaran presentasi dari pembicara.

Aktivitas NTT OSS Center adalah Total Support, FOSS Stack Model, dan Peningkatan Middleware. Fokus sekarang ini adalah pada lapisan Sistem Operasionalnya. Biaya perangkat keras dan middleware dapat dikurangi 90%.

NTT OSS Center memperlihatkan banyak mengkontribusikan patches, kode, dan manpower ke PostgreSQL, kernel Linux, Tomcat/mod_jk, JBOSS, UltraMonkey, dan Heartbeat.

FOSS can be applied in 80% of the telecom systems.

Lessons learned:

  • only verified suites of FOSS middlewares are worth to consider, each single product is not perfect,
  • consider as latest version as possible, experienced version is not necessarily the best choice,
  • never over-expect the development community and roadmap, but help them to be grown as a public property,
  • even FOSS development community may be largely affected by M&A of global IT vendors, but enterprise users should keep to be involved in user community & to claim their positions,
  • make engineers aware of “chance to adopt FOSS” rather than make executives glad by telling an imaginary cost reduction story,
  • community contributions can be done by different ways; not only by providing development resources, but also by providing use cases, bug reports, organizational staff, etc.
Iklan

6 thoughts on “GCOS: Hari Pertama

  1. sangprabo

    Wow, mantap… Seneng saya dengan bagian yang menyebut2 pribadi unik Campbell. Sukadana itu jauh lebih pelosok dari kampung saya Mas.. Mungkin saya juga bukan termasuk orang2 yang nurut. Haha!

    Balas
  2. Ping balik: stwn.ngeblog. » GCOS: Hari Kedua

  3. stwn

    @sangprabo sering main ke Sukadana? kapan-kapan aku ajakin ke sana dong wo :D

    o iya ada kutipan menarik di situs pribadi Campbell:

    I have decided to take an alternative route in academia, having turned down one firm assistant professorship, and a number of serious offers. The primary cost in this decision is not having `official’ graduate students and postdocs of my own.

    Balas
  4. sangprabo

    Kebayang aja enggak Mas… Kalo orang sini bilang ‘jauh’, biasanya lebih jauh dari orang Jogja bilang ‘jauh’. Tempatnya terpencil, kudu berkali2 ganti kendaraan, tapi ceweknya cakep2 Mas.. Dulu temen kos juga ada tuh yang istrinya penempatan di sukadana, karena cinta dia tempuh juga itu perjalanan ‘jauh’..

    Balas
  5. Ping balik: stwn.ngeblog. » Biotechnology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s