Spesialisasi

Kemarin saya tersadarkan kembali bahwa semakin tua dan dewasa dalam umur dan bidang atau topik yang kita geluti akan semakin spesifik atau sempit pula apa yang bisa kita lakukan dan kembangkan di dalamnya.

Saya, yang dulu egonya ingin mempelajari dan mengembangkan “segala” hal berkaitan bidang tertentu, kini ternyata hanya bisa melakukan beberapa hal spesifik saja. Dengan kata lain kita punya fokus dan arah tertentu setelah sebelumnya pernah mempelajari ‘semua” hal.

Saya sendiri tidak tahu apakah pas umur saat ini sudah harus melakukan spesialisasi. Tetapi yang saya yakin, cepat atau lambat semua orang akan merasakannya.

Contoh pertama minggu kemarin orientasi tesis ke pengembangan aplikasi secara tidak sengaja berubah ke sistem, walaupun memang secara garis besar memang topiknya berada di dalam hpc dan clustering.

Saya mengajukan sebuah konsep atau rencana ke dosen, dalam bentuk diagram, apa yang akan saya kembangkan di tesis. Ternyata dosen mengubah orientasi pengembangan yang tadinya aplikasi ke arah sistem dan hpc/clustering secara spesifik, walaupun jika dilihat dalam penggunaan akan lebih luas.

Apa yang saya rencanakan dan tebak sebagai topik ternyata berubah ke arah dimana saya, dan juga dosen bersangkutan yang mengetahui kemampuan saya, punya kekuatan atau pengalaman yang cukup dalam bidang ini sehingga dirasa saya dapat digenjot lebih lanjut ke arah sana.

Contoh kedua, kemarin saya ditawarin untuk bekerja bulan November sampai dengan Januari pada dua topik yang berbeda dimana salah satunya saya punya pengalaman dan ketertarikan di sana. Mana dari kedua pilihan ini yang akan saya ambil? dengan melihat kesibukan tesis pada bulan tersebut, saya memilih topik yang sudah pernah dilakukan atau paling tidak ada pengalaman dalam bidang tersebut.

Tidak ada waktu pembelajaran yang lama, saya lebih fokus ke satu arah, dan waktu sisanya yang seharusnya dimanfaatkan belajar topik baru, bisa digunakan untuk mengerjakan tesis atau hal lainnya.

Saya malah jadi ingat dalam game RPG dimana kita harus memilih akan menjadi apa kita dalam permainan? ini berlaku pula dalam dunia nyata, akan berperan sebagai apa kita dalam hidup dan pekerjaan? Tentu jika kita akan mengambil beberapa peran misalnya, kita harus punya data pribadi, waktu bermain yang berbeda, dst.

Setiap orang punya peran sendiri-sendiri, yang menurut kita ini terjadi secara tidak sengaja atau kita bentuk sendiri, tapi sebenarnya ada yang membentuk kita luar dan dalam ke arah mana kita akan berjalan ;-)

Iklan

2 thoughts on “Spesialisasi

  1. Akhmad fathonih

    Hehe. I’ve thinking about similar issue. Dalam konteksku, aku masih rada bingung sebenarnya aku lebih cocok dmana. Klo dr kata orang bijak, harus bs cocok dmanapun.dlm artian kemampuan adaptasi. Tp tanpa spesialisasi, jual diri gk bkl dpt harga bagus:d

    Balas
  2. stwn

    Adaptasi jelas, spesialisasi mesti. Kita tidak bisa rakus dengan ingin menguasai segala macam topik :-D

    Kalau aku sih jalani saja ton, ternyata nasib menemukan jalannya sendiri :-D

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s