Curhat Sabtu Minggu

Tiga hari yang lalu aku diberitahu bahwa salah satu kawanku masuk rumah sakit, keluhan sakit yang sama atau paling tidak mirip ;-) Saat itu aku berada di perjalanan pulang ke kos, kira-kira pukul 20an, aku dikabari dan diminta untuk membantu menjaga kawanku malam itu karena posisinya di Intermediate Care (IC) dan tidak ada yang menunggui. Aku bilang ok, tapi aku pulang ke kos dulu.

Waktu mendengar kabar itu aku langsung bilang sakit yang sama? jawabannya ya, tapi yang ini lebih parah. Saat aku sampai rumah sakit, terdengarlah cerita tentang bagaimana kondisi kawan saya. Hari pertama masuk UGD, terus rawat inap, operasi, masuk ICU karena napas tidak stabil, kemudian masuk ke IC.

Aku cuma bisa diam dan mendengarkan dengan baik, menyesal baru tahu sekarang padahal kawan saya itu sudah masuk ke rumah sakit sejak empat hari sebelumnya. Kenapa aku tidak diberitahu? yah paling tidak aku kan kawan cukup dekatnya. Selidik punya selidik ternyata pada hari H, kawanku itu menelpon tapi tidak aku angkat dan aku sendiri tidak merasa mendapat telepon. Aku pun sudah memeriksa catatan missed call di ponsel tidak menemukan nomor teleponnya.

Aku mendapat cerita bahwa kawanku menelepon beberapa orang untuk minta bantuan agar bisa dibawa ke rumah sakit, akhirnya ada satu yang bisa tapi dibawa dengan angkot dan saat itu aku bisa bayangkan pasti susah/sakit sekali waktu dia jalan, ditambah angkot kebablasan ketika dekat dengan rumah sakit sehingga dia harus berjalan cukup jauh, apalagi lalu lintas sedang padat.

Aku yakin, aku adalah orang pertama yang bisa dia andalkan pada saat itu sebenarnya *hiks*, kenapa telponnya tidak masuk? kenapa dia tidak telpon lagi? tapi ya sudahlah semua sudah jalannya seperti itu.

Pertanyaanku yang lucu saat jam jenguk di IC dengan baju panjang steril warna hijau dan sandal yang sudah disediakan rumah sakit adalah “Bisa baca tidak?”, dia menjawab dengan lirih “Yah kalau sanggup”. Dia memang “diberi makan” lewat infus, tubuhnya ditempel dan dikelilingi selang di hidung, dada atas, perut, tangan, buang air lewat selang (belakangan bisa pakai pispot), dan dimonitor beberapa perangkat digital kesehatan yang berbunyi secara periodik.

Aku memang bertanya hal tersebut karena dengan kondisi di tempat tidur seperti itu pasti akan membosankan, hal yang mungkin adalah membaca, tapi sepertinya tidak mungkin.

Saat ini Alhamdulillah dia sudah masuk ke kamar rawat inap biasa, semoga cepat pulih dan sehat kembali. Aku tahu dia akan minta dibelikan oleh orang yang menungguinya majalah InfoLINUX dan PCMedia :D

Iklan

3 thoughts on “Curhat Sabtu Minggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s