Bandung-Pekanbaru

Awal Pebruari lalu saya dikontak kawan sekelas saya dulu sewaktu di Jogja, Harris Simaremare, untuk ikut ngomong di seminar tanggal 14 April 2008 di sebuah universitas negeri di Pekanbaru. Saya pastikan saja semuanya OK dan bisa berangkat kesana. Belakangan saya tahu Harris ternyata sudah menjadi dosen di universitas tersebut.

Saya berangkat dari Bandung H-1 pukul 8 pagi, naik travel ke Soekarno-Hatta kurang lebih 2 jam, menunggu check-in 3 jam disambi dengan makan siang. Setelah check-in ternyata pesawat molor kurang lebih 1,5 jam. Sambil di ruang tunggu saya ngenet, tidak ada hotspot jadi menggunakan ponsel dan kabel data.

Setelah menunggu disambi melakukan aktivitas penyuntingan berkas presentasi dan ngenet, akhirnya datang waktu untuk melakukan boarding pass. Saya melihat pak Onno ada di barisan depan dan baru sempat menyapanya ketika berada di atas pesawat sekaligus meminta untuk bareng ketika sampai di Pekanbaru agar memudahkan penjemputan. Tidak janjian tapi ternyata satu pesawat.

Perjalanan dari Jakarta ke Pekanbaru kurang lebih 1,5 jam, sampai di sana pukul 17.20an, ketemu dengan mas Abdillah, mas Tarto, dan bapak-bapak yang lain. Acara selanjutnya adalah makan, biar lebih enak kata Pak Onno, makan dulu jadi waktu sampai hotel bisa istirahat. Saya memang baru ketemu secara langsung dengan Pak Onno. Orangnya supel, bisa dekat dengan siapa saja, itu mengapa semua orang suka sekali ngobrol dan berinteraksi dengan Bapak ini. Kalau saya sendiri cenderung seseorang yang pendiam, pemalu, yah tipikal geek yang tidak banyak bersosialisasi :P

Kami berempat, mas Abdillah, mas Tarto, saya, dan pak Onno makan di rumah makan khas melayu. Rumah makan ini menggunakan semacam potongan-potongan bambu dan anyaman sebagai dinding dan sekatnya. Ketika masuk terdengar lantunan ayat-ayat Al Qur’an dari speaker rumah makan tersebut, kata pak Onno “seperti di Mekah saja ya” sambil tersenyum. Setelah makan kita baru tahu ternyata yang kita dengar dari speaker adalah radio, jadi sebelum acara(?) radio tersebut melantunkan ayat Al Qur’an terlebih dahulu. Saat kami akan keluar, baru datang panitia dan pak Lukito, dosen pembimbing saya dulu, ngobrol-ngobrol sebentar sambil mempersilakan untuk makan dan kita pergi :D

Sampai di hotel, saya ketemu dengan Harris, reuni ceritanya. Saya, Harris, dan pak Onno ngobrol di lobi kemudian datang pak Lukito. Lima belas menit kemudian kita memilih untuk menuju kamar masing-masing. Istirahat.

Esok harinya acara dimulai sekitar pukul 9 pagi, di sini ada acara formal seremonial di awal yang cukup lama. Pada saat coffee-break saya memilih kembali ke kamar, memang saya perlu memeriksa materi karena hari sebelumnya ada beberapa poin yang diminta dimasukkan oleh panitia.

Saya ke ruang presentasi ketika sesi tanya-jawab Pak Lukito berlangsung, setelah coffee-break selama 20 menit baru deh mulai. Secara umum presentasi saya biasa saja menggunakan kombinasi gaya lessig, presentation-zen, dan gaya-gaya lain yang menurut saya merupakan “eksperimen presentasi”, saya melakukannya sejak tahun 2005 tapi tidak tahu apakah penggunaan kombinasi gaya-gaya tersebut sudah matang atau malah bikin kacau :P

Terus terang saya kurang konsen dalam presentasi di seminar ini, pikiran rasanya kemana-mana, mungkin karena banyak permasalahan yang belum terselesaikan. Di sini sepertinya saya harus bisa “melupakan” semua dan konsen ke satu hal yang sedang dilakukan saat itu. Menurut saya sih susah. Ke depan saya seharusnya menyelesaikan semua masalah sebelum melakukan hal-hal yang menyangkut orang banyak. Paling tidak kita rapikan dulu dan simpan dalam “lemari-lemari masalah” ;-)

Bapak saya pernah mengatakan kepada saya “Coba lihat ketika ada kecelakaan atau misal kemacetan yang melibatkan angkot, ketika kita melihat mata sopir-sopir itu akan kita dapati tatapan mata yang kosong”, Bapak melanjutkan “Bisa kita temui pula di jalan, banyak orang menyeberang sembarangan yang beberapa di antaranya menyebabkan kecelakaan. Mereka menyeberang di jalan, tapi pikiran mereka di rumah atau di tempat lain memikirkan banyak permasalahan yang mereka hadapi”.

Terakhir, kutipan dari ekstrak beberapa halaman buku “My Job Went to India” berjudul “Be the Worst” yang saya baca di ruang tunggu bandara Sultan Syarif Kasim II kemarin pagi membuat saya tersenyum dan melihat langit yang biru:

In music, it’s pretty easy to measure whether other musicians think you’re good. If you’re good, they invite you to play with them again. If you’re not, they avoid you. It’s a much more reliable measurement than just asking them what they think, because good musicians don’t like playing with bad ones.

Selamat pagi Bandung, aku kembali bekerja!

Iklan

6 thoughts on “Bandung-Pekanbaru

  1. za

    Sebelum berangkat dari Bandung, kemana dulu Wan? Hihihi, just joking ;-) Terimakasih untuk tulisannya. Kamu punya buku MJWTI ini? Apa cuma file PDF thok lagi :P

    Balas
  2. harrismare

    Tipe presentasi yang sangat menarik wan (itu menurut ku) :)
    memancing peserta untuk selalu penasaran apa yang selanjutnya akan tampil :)
    semoga sukses ya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s