Merasa Beruntung

Kemarin saya melakukan perwalian dan mengambil Kartu Studi Mahasiswa (KSM) untuk semester 2, setelah sebelumnya mengisi borang rencana studi online dan telah disetujui dosen wali. Perwalian tatap muka dengan dosen tidak ada, saya langsung dapat mengambil Kartu Rencana Studi (KRS) yang telah dicetak dan ditandatangani. Sebenarnya dari rumah saya sudah membawa KRS yang dicetak sendiri, ternyata telah disediakan oleh tata usaha.

Kemudian saya ke aula timur untuk mengambil KSM, sempat bertemu dengan kawan satu angkatan, ngobrol, dan menunggu antrian bareng. KSM lama Alhamdulillah masih ada, kawan saya ada yang hilang KSM semester kemarin. Padahal syarat untuk mengambil KSM baru adalah dengan menyertakan KSM lama yang akan diperiksa.

Setelah memberikan KSM lama di meja depan, saya menunggu dipanggil. Giliran saya akhirnya tiba, seorang mbak berjilbab gaul memanggil “stwn”, saya segera maju dan diberitahu “ada masalah dengan keuangan, silahkan ke Bapak itu”. Saya segera ke meja Bapak yang ditunjuk, sambil menunggu mahasiswa yang sedang diperiksa KRS, juga slip pembayaran SPP dan SKS-nya. Saya bandingkan dengan diri sendiri yang cuma membawa KRS, kok beda? Memang sih di lembar KRS ada tertulis Status Keuangan: Belum Membayar SPP. Belum sempat berpikir saya dipanggil, segera pula saya menyerahkan KRS, kemudian Bapak itu tanya “beasiswa? unggulan?” saya jawab iya. Saya diminta duduk dan menunggu dipanggil lagi, setelah dipanggil dan mendapatkan KSM saya segera kembali ke PME.

Dalam perjalanan, saya baru benar-benar menyadari dan merasakan kalau saya beruntung. Saya beruntung tidak antri/berdesakkan di Bank, membayar SPP dan SKS, malah dapat dukungan dana untuk hidup dan buku. Saya beruntung bisa nyambi di PME. Pikiran saya jadi melayang ke semua yang saya miliki dan dapat rasakan sekarang, saya beruntung punya lumpia –sebentar lagi berubah namanya– untuk bekerja, punya kupat untuk bermain dan melakukan aktivitas. Saya beruntung punya semua yang bisa diraba ataupun yang hanya bisa dirasakan saat ini.

Saya menghirup udara Bandung, nikmat, saya beruntung masih bisa bernafas. Saya beruntung bisa berjalan di tangga setelah air mancur. Saya beruntung bisa menikmati hari ini, saat ini, saya merasa beruntung dapat duduk di atas bantal duduk mengetik di dalam kamar kos yang pintunya terbuka mengalirkan udara sehat dan segar pagi. Saya seharusnya bersyukur atas apa yang saya terima dan rasakan. Alhamdulillah.

Btw, syukur memang seharusnya tidak hanya diucapkan dengan kata-kata ya tapi cukup lumayan lah untuk stwn :D

Iklan

5 thoughts on “Merasa Beruntung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s