Empat Komponen Kebahagiaan

Kira-kira seminggu yang lalu saya secara tidak sengaja bertemu kawan satu kelas setelah maghrib di salman. Namanya Rico, saya panggil dia dengan agak berbisik supaya penasaran, setelah tengok kanan-kiri dia melihat saya. Saya pun tersenyum menghampirinya sambil bertanya habis ini mau kemana? dia menjawab mau pulang. Saya cuma berkomentar “Abis ini mau makan nih, soalnya kalo dah nyampe kos males keluar.” Rico menimpali “Ya udah, kita makan dulu aja bareng.”, Ok saya bilang.

Kita cari tempat makan di seberang salman yang jual juga nasi kebuli, saya sih nggak makan itu tapi makan nasi bakar, kombinasi nasi yang ditutup daun pisang dibakar dengan ayam goreng, tahu, tempe, sayuran, serta sambal. Rico memilih Rica-Rica katanya mau coba gimana sih makanan ini.

Ngobrol-ngobrol dan diskusi seperti biasa selalu jadi santapan saya ketika bertemu dengan orang, yah sambil nunggu makanan disiapkan juga sih. Kita ngobrol segala macem, ya maklum belum lama kenal juga. Sampe akhirnya ada topik tentang bahagia yang awalnya saya trigger dengan komentar “Saya masih rindu Jogja ya, apa mungkin di sini saya baru sebentar, baru beberapa bulan saja? Sekarang sih udah rada biasa, sebelumnya waktu pertama kali datang, kawan masih sedikit sekali dan belum kenal kota ini. Nggak tahu ya saya bahagia jika ada kawan yang diajak ngobrol dan diskusi.”

Rico menimpali curhat saya dengan kata-kata “Ada empat yang membuat orang bahagia dalam hidup wan, yang pertama Religiusitas, yang kedua Relationship atau hubungan, yang ketiga finansial, dan yang keempat fisik. Dia melanjutkan “Jika keempat-empatnya ada pada seseorang maka boleh dibilang kebahagiaannya sempurna.”

Empat komponen kebahagiaan ini kalau dilihat pada saya gimana ya? religius sepertinya tidak, hubungan dengan keluarga/kawan biasa aja, finansial apa lagi sering kekurangan, fisik? kurus kayaknya kurang sehat :P Berarti mestinya saya tidak bahagia dong?

Bagaimana dengan Anda?

Iklan

11 thoughts on “Empat Komponen Kebahagiaan

  1. narpen

    nasi kebuli, nasi bakar, rica-rica? kayanya aku tau deh (bl*ck r*man**c yah.. :D)
    klo dipikir2 keempat komponen di atas itu bener bgt (wah, ternyata begitu ya, baru tau jg..). tp klo kata nyokapku, bahagia itu harus dicari mas, dan dikejar :)
    bahagia juga bersumber dari rasa syukur.. kadang saat hidup terasa kurang bahagia, itu tandanya kita belum mensyukuri apa yang telah kita dapatkan..

    nice post.. bbrp minggu lalu aku jg sedang mencari makna kebahagiaan karena bingung dengan jalan hidup..
    semoga cepat betah ya! bandung asik ko..

    Balas
  2. stwn

    @fathirhamdi: dimensi? kalau dimensi berarti diliat dari salah satu sisi bisa. kalo menurutku keempatnya komponen thir, karena semua membangun satu bentuk/tujuan

    @narpen: selamat datang di stwn.ngeblog. :)
    bener nama warungnya. semoga ketemu juga makna kebahagiaannya, tengkyu.

    @narpen & senja: alhamdulillah /me bersyukur

    Balas
  3. za

    Dasar orang IRC-an, kebanyakan perintah / :P Cinta bukan dicari tapi hadir sendiri dalam hati. Apakah cinta bagian dari kebahagiaan?

    Aku setuju sama Narpen soal syukur. Manusia sering lupa diri, termasuk aku. Tapi semoga besok gak lupa kalau ujian. Lupa belajar bisa jadi.

    Balas
  4. edratna

    Ehh…komentar Narpen kok bawa-bawa nyokap?…hehehe
    Keempat komponen tadi betul, tapi tak seluruhnya betul, karena ukuran tiap orang berbeda-beda.
    Ya betul, bahagia harus dibuat, kalau perlu dikejar sampai berdarah-darah…tapi tetap bersyukur atas setiap tanap pencapaian…dan berdoa agar bisa meraih sukses berikutnya.

    Balas
  5. stwn

    @edratna: terimakasih bu edratna atas komentarnya. ukuran tiap orang berbeda-beda dalam melihat keempatnya berarti masalah dimensi seperti kata fathir

    Balas
  6. __bowo;

    Assalaamu’alaikum
    Hehehe.. Standar kebahagiaan? Jadi, teringat waktu saya KKN dulu, sempat ada anak SMA yang bertanya sama temen saya “Mas, tips sukses apa sih?”. Dalem ati saya mikir “Masya Allah, ternyata ada juga yang nilai kami2 ini sukses!”. :-)

    Saya merenung, mungkin anak2 desa ini mikirnya klo udah bisa masuk UGM itu udah sukses dan bahagia kali yach? Saya jadi bersyukur.. (Sebenernya masih dongkol juga sih, hla duit masuk seabreg gitu ga dapet lab bagus jee.. :)) )

    Wassalaam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s