Masih sebagai Pengguna

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah laporan dari blog seseorang tentang acara di sebuah program pasca sarjana universitas negeri di Jogja. Dia bercerita tentang bagaimana dia dan temannya memberikan workshop Visual Robotics Studio untuk memprogram Robot Lego.

Secara sekilas orang akan melihat yang mereka lakukan adalah keren, mereka bisa melakukan pemrograman robot! Kalau kita pikir lebih dalam, walaupun yang mereka lakukan bisa dibilang pemrograman “level bawah” yang kata orang cool, tapi ternyata mereka masih menjadi pengguna. Pengguna Visual Robotics Studio dan Robot Lego. Mereka hanya pengguna perangkat lunak dan perangkat keras. Mereka hanya pengguna lingkungan pengembangan. Mereka hanya pengguna teknologi. Mereka masih pengguna.

Saya bilang mereka seperti anak-anak yang diberi mainan building-toys dan merasa senang seolah-olah bisa “membuat” robot. Perusahaan pembuatnya pun senang mereka dapat bergembira dan berharap anak-anak tersebut tetap di tempatnya bermain-main dengan “mainan semu”, dan lupa di luar banyak permainan yang lebih menyenangkan.

Saya pun sekarang masih menjadi penonton saja, yang berdoa semoga bangsa ini punya banyak inovasi, membuat dan mengembangkan teknologi mandiri+terbuka. Sebagai produsen, bukan jadi konsumen terus.

update: kata “mereka” hanyalah sebagai cermin bagi kita semua.

Iklan

4 thoughts on “Masih sebagai Pengguna

  1. agung

    ms-nya hee.. juga jadi penonton kan.. yah,, setidaknya sebelum membuat “membuat” robot, bisa memodifikasi program yang ada dl (dan bangsa kita baru sampai tahap ini). baru membuat. :D

    Balas
  2. stwn

    pertanyaan ini yang perlu dijawab:
    – gimana caranya bisa bikin lingkungan pengembangan seperti Visual
    Robotics Studio?
    – gimana caranya bikin robot seperti punya Lego?
    – gimana caranya membuat bahasa pemrograman yang bisa untuk memprogram?
    – gimana caranya bikin teknologi seperti itu?

    langkah pertama yang dirimu bilang dengan menggunakan bisa diterima tapi dengan produk closed-source adalah kurang tepat, kecil kemungkinannya kita bisa menghasilkan produk sejenis atau lebih hebat. coba jika kita belajar produk yang terbuka, kemungkinan lebih banyak potensinya untuk dikembangkan.

    yah kita sering terbuai dengan produk yang ada, asal menghasilkan uang. pemikiran jangka pendek.

    Balas
  3. toni

    Terlepas dari efek hanay sebagai pengguna, sebenarnya yang seprti itu keren juga lo. Tidak banyak orang yang puny akses ke mainan macam Lego. Klo dikasih atau dipinjemi saya jg mau :D.

    BTW Visual Studio Robot di situ sebenarya alat pengnal teknologi yang baik. Cuma harus ditanamkan semangat juga bahwa sebenarnya meraka bisa melakukan lebih dari itu.

    Balas
  4. Astonix

    “pertanyaan ini yang perlu dijawab:
    – gimana caranya bisa bikin lingkungan pengembangan seperti Visual
    Robotics Studio?
    – gimana caranya bikin robot seperti punya Lego?
    – gimana caranya membuat bahasa pemrograman yang bisa untuk memprogram?
    – gimana caranya bikin teknologi seperti itu? ”

    Saya setuju dgn pendapat mas iwan tentang “Masih sebagai pengguna” :)
    Padahal teknologi utk bikin robot sendiri banyak sekali kan. Mikrokontroler & mikroposesor yg dijual di pasaran bisa kita pakai sebagai “otak” robot untuk perangkat kerasnya. Yah …itu sih tergantung kreativitas kita, klo mau mengembangkan di sisi perangkat lunak masih ada Compiler uC linux (Compiler linux utk mikrokontroler) atau SDCC (Small Device C Compiler) yang sudah support utk pengembangan Sistem Embedded dan robotika.

    Bukan begitu mas iwan…?? :D

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s