Kenangan Linux Masa Lalu (2)

Setelah berinisiatif untuk belajar sistem GNU/Linux dengan distro awal Red Hat 6.2, saya dan Tunggul mulai melakukan instalasi pada mesin masing-masing. Mesin saya lebih baik sedikit daripada Tunggul waktu itu :P yaitu Celeron 466 MHz, RAM 64 MB, kartu VGA NVIDIA Riva TNT 16 MB. Sedang Tunggul menggunakan mesin Pentium MMX 200 MHz, RAM 32 MB (CMIIW). Jelas, karena saya pada saat itu baru membeli komputer tiga (3) bulan sebelumnya dan AFAIK Tunggul sudah mendapatkan komputernya tersebut sejak SMU.

Pada awalnya saya menggunakan GNOME kemudian menjadi suka WindowMaker karena lebih ringan, bergaya hacker, dan tentu saja ada supply tema dari Tunggul.

GNOME dulu memang benar-benar lingkungan desktop untuk geek/hacker, kita dapat melakukan “apa saja” secara fleksibel di dalamnya. Sekarang GNOME berubah menjadi desktop yang mengarah pada enterprise, kekurangannya tentu saja ketidakfleksibelan tapi ini bisa jadi keuntungan karena jika kita lihat semua desktop dan aplikasi GNOME akan relatif berbentuk sama di mana saja, paling tidak tampilannya. Kelebihan GNOME jika dibandingkan dengan KDE adalah GNOME lebih konsisten pada lingkungan desktop dan aplikasi yang dikembangkan di dalamnya, misal antarmuka, menu, letak tombol, tidak ada tombol Apply, dst.

Kembali ke topik, ketika mempelajari dan menggunakan GNU/Linux, saya dan Tunggul belajar mengenai banyak hal secara teknis seperti troubleshooting dan juga non teknis seperti budaya berbagi. Memang mengasyikan mempunyai kawan belajar, kita bisa melakukan hal yang sama dari instalasi sampai dengan eksplorasi. Ketika mendapatkan masalah kita bisa berdiskusi, jika Tunggul tahu permasalahannya dia akan memberikan solusi begitu sebaliknya. Jika buntu, kita segera mencari solusinya dengan mengeksplorasi dan melakukan pencarian di Internet, selain itu berbagi perangkat lunak dan dokumentasi hasil unduh masing-masing, dst adalah hal yang lumrah. Dengan platform distro yang sama, dalam hal ini Red Hat 6.2, semua menjadi lebih mudah! Jika Anda akan mulai belajar sesuatu secara spesifik cari partner yang juga berniat atau sudah mempelajari hal yang sama, itu akan sangat membantu sekali.

Pada akhir tahun 2000, saya sempat mencoba Mandrake 7.2, ternyata kurang cocok dan rasanya relatif berat. Pada semester yang sama saya juga menjadi asisten mengajar pada beberapa mata kuliah di PSD III TE UNDIP, menyenangkan bisa berbagi dengan teman-teman satu angkatan. Tahun depannya saya juga melakukan hal yang sama. Partner saya di kampus dalam aktivitas menjadi asisten dan yang berhubungan dengan komputer adalah Ahmad Masykur –lihat komentar pada posting sebelumnya, programmer handal yang sekarang sudah menjadi Bapak dengan satu anak dari satu istri.

Tahun 2001, saya dan Tunggul mencoba untuk bergabung dengan KPLI Semarang. Pada saat yang hampir bersamaan, ada acara MIR 2001 yang kebetulan KPLI Semarang ikut melakukan demo PC-PC Linux dan juga mengadakan lomba cracking server Trustix Secure Linux. Saya pada saat itu menjadi simpatisan FKHMEI menjadi panitia acara sebagai perwakilan PSD III TE. Saya berkenalan dengan kawan-kawan KPLI Semarang: Pak Kresno Aji, Agus Hartx, Detta, L. Budi Handoko, dll. tapi saya kurang yakin mereka sekarang masih ingat saya :D. Dari Detta saya mendapatkan distro Linux Slackware 7.0, setelah itu mendampingkannya dengan Red Hat 6.2 walaupun pada tahun tersebut sudah muncul Red Hat 7.0 yang buggy. Tunggul tidak seperti saya, dia memilih meng-upgrade Red Hat-nya ke 7.0. Kami menemukan banyak kutu pada Red Hat 7.0 dan mencari solusi dari masing-masing kutu baik lewat searching di Internet atau eksplorasi sendiri.

Kami sempat membuat komunitas yang kita namakan Komunitas Pengguna Linux Tembalang disingkat KomPLiT, tujuannya hanyalah untuk memberikan wadah bagi para pecinta sistem GNU/Linux dan PLBOS, bukan untuk menyaingi KPLI Semarang sih. Aktivisnya pada saat itu saya, Tunggul, Masykur, adik-adik kelas, dan kawan-kawan di Tembalang. Memang Linux, sistem GNU/Linux, dan PLBOS sudah agak populer tapi tidak sepopuler sekarang ini. Kegiatan kami adalah kumpul-kumpul, presentasi, dan explorasi Linux/PLBOS. Beberapa hal yang saya ingat adalah Linux untuk server dan jaringan, OpenOffice.org dan cara membuat tulisan yang baik: page style, dst –Masykur jago soal ini, dan menjadi mentor kami. Untuk topik pemrograman sudah direncanakan tapi seingat saya belum terealisasi.

Ada salah satu topik yang menarik di antara kami pada waktu itu yaitu Parallel Line Interface Protocol (PLIP), dengan port paralel/printer dan kabel paralel “laplink” kita bisa membuat jaringan lokal dengan dua (2) komputer. Model koneksinya seperti menggunakan kabel serial laplink, tapi ini menggunakan port dan kabel paralel/printer. Dengan PLIP ini kita bisa melakukan konfigurasi jaringan sederhana, mengeset alamat IP, routing, NFS, dst. Kenapa ini menarik bagi kita? karena kami tidak perlu membeli kartu jaringan :P. Selain mengeksplorasi jaringan di Linux kita juga mencoba untuk melakukan transfer berkas, bermain game, dan sejenisnya, walaupun memang kecepatan transfernya tidak secepat menggunakan kartu jaringan biasa.

Tahun 2001, saya sempat bergabung dengan tim pengembangan Rimbalinux sampai dengan tahun 2003. Di Rimbalinux saya mengenal bang Sofyan fade2blac, Rudy Cayadi, Baja Aksha, dan teman-teman pengembang lain. Selain itu juga saya bekerja secara full-time pada PT. Matra LintasNet (Lintas) sebagai administrator sistem dan jaringan, sembari kuliah. Banyak sekali yang dapat saya ambil dari Lintas, Rimbalinux, dan komunitas geek/Linux/PLBOS secara umum. Btw, Rimbalinux telah menjadi sebuah perusahaan sejak 2003.

Slackware menjadi distribusi favorit saya sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2006 ketika saya menggantikan sistem saya secara total ke Kuliax.

Saya cukupkan sekian saja lah cerita Linux masa lalu ini. Semoga saya bisa menuliskan lagi kisah-kisah yang masih tersimpan tetapi dalam judul posting yang berbeda.

Kita memang sering lebih banyak menyimpan ilmu, cerita, dan cenderung susah atau tidak sempat menyampaikannya pada orang lain. Saya berusaha untuk berbagi semua hal yang pernah saya dapat atau alami dan menjadikannya pelajaran bagi saya dan mungkin…Anda.

Iklan

5 thoughts on “Kenangan Linux Masa Lalu (2)

  1. Iya ya yud, aku malah baru ingat ada kolom untuk cerita “Linux dan saya” di InfoLINUX. Tapi kayaknya nggak deh Yud, selain kurang pede tampil di majalah, tulisan pengalamannya juga kurang lengkap :D

  2. @didik: hula-hula dik! gimana kabar batam? eh apakah aku melupakan kawan bernama didik yang dulu bermain pula dengan Tunggul, Masykur, Sayed(??), dkk? Apakah di markas HM, di lab, atau di ruang lantai 2/3? :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s