Bekerja dengan Waktu Terbatas

Steve Pavlina dalam tulisannya “How to Get More Done in Less Time” mengatakan bahwa:

Berdasarkan studi, rata-rata pekerja normal menghabiskan waktu 1,5 jam untuk pekerjaan yang _sebenarnya_ dalam sehari. Banyak waktu sisanya dilakukan untuk bersosialisasi, coffee-breaks, makan, komunikasi non-bussiness, dan yang bukan seharusnya.

Rata-rata pekerja full-time baru melakukan pekerjaannya dari pukul 11 siang sampai dengan 15.30 sore. Steve menunjukkan pada kita bahwa waktu yang berarti dalam bekerjanya adalah 15 jam dari 60 jam yang dia habiskan di kantor dalam seminggu, dengan catatan Steve adalah seseorang yang 2 kali lebih produktif dari pekerja rata-rata. Bagaimana dengan kita yang mungkin berstandar di bawah dia?

Selanjutnya, Steve mencoba bereksperimen dengan hanya menghabiskan waktu 30 jam di kantor dalam seminggu, 5 jam dalam sehari. Dengan batasan waktu yang lebih sedikit, kita akan diset untuk melakukan hal lebih, pekerjaan yang seharusnya dan fokus dalam rentang waktu tersebut. Kita akan banyak menemukan cara untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, berbeda dengan jika kita punya waktu yang (sangat) banyak.

Apa hasil yang Steve dapatkan? dia mengatakan efisiensinya naik 80-90% dan dari 30 jam yang dihabiskan di kantor, 25 jam pekerjaan terselesaikan. Sekaligus, dengan waktu bekerja lebih sedikit dan efektivitasnya, kita bisa melakukan hal lain sesuai dengan keinginan kita, tentu saja masih menjunjung tinggi faktor kebergunaan, misal melakukan aktivitas menulis, membaca, berolahraga. istirahat, dan seterusnya.

Ya, kalau kita menyadari bahwa waktu kita sedikit/terbatas, kita akan lebih banyak menggunakannya untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya. Ini akan menjawab pertanyaan “Mengapa kita selalu dapat melakukan hal lebih, mendapatkan ide baru, dan lain-lain pada saat mendekati deadline?”. Yang mungkin melakukan sesuatu dalam waktu mepet: mahasiswa yang mengerjakan tugas dari dosen, pengembang perangkat lunak yang harus mengerjakan proyek besar dalam tenggat waktu 2-3 bulan, wartawan yang harus mengejar naik cetak setiap hari.

Hal yang sama diceritakan pula oleh Glen dari LifeDev, dia mengeset waktu tertentu untuk mematikan komputernya. Ketika tahu bahwa jam sekian dia harus berhenti bekerja dengan komputer, produktivitasnya naik, karena dia tahu bahwa waktunya terbatas. Sebelum bekerja pun dia memulai merencanakan apa yang akan dilakukan pada range waktu bekerja tersebut, disesuaikan dengan hal terpenting yang akan dilakukan pada hari itu.

Seperti yang sudah ditulis di atas, waktu tersisa kita bisa dilakukan untuk melakukan hal lain yang terjangkau dari tempat kita bekerja, ini disebut oleh Glen dengan switching-things-up, berhenti melakukan hal pertama dan melakukan hal kedua, kemudian melakukan hal yang ketiga atau kembali ke hal pertama, dan seterusnya. Ini seperti switch pada penjadwal Sistem Operasi :D. Misal dari bekerja melakukan tulisan, selang beberapa waktu, ambil kopi, melihat keluar jendela, tapi jangan terlalu lama! lakukan sesuai dengan kebutuhan atau jatah waktu.

Jika Anda seorang muslim, kita pun sebenarnya sudah diajarkan untuk melakukan “switching-things-up” pada pekerjaan, yaitu 5 kali dalam sehari. Kalau dipelajari ini sangat berarti bagi produktivitas kita.

Waktu kita di sini terbatas, tapi sering kita tidak menyadarinya, hanya keluhan yang terdengar. Kita sebagai manusia kebanyakkan memang kurang bersyukur…

Iklan

2 thoughts on “Bekerja dengan Waktu Terbatas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s